manufaktur indonesia kian ekspansif 20 subsektor industri jadi penopang utama ekonomi - News | Good News From Indonesia 2026

Manufaktur Indonesia Kian Ekspansif, 20 Subsektor Industri Jadi Penopang Utama Ekonomi

Manufaktur Indonesia Kian Ekspansif, 20 Subsektor Industri Jadi Penopang Utama Ekonomi
images info

Manufaktur Indonesia Kian Ekspansif, 20 Subsektor Industri Jadi Penopang Utama Ekonomi


Sektor manufaktur nasional menunjukkan pergerakan positif pada pembukaan tahun 2026. Data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 tercatat berada di level 54,12, meningkat 2,22 poin dari posisi Desember 2025. Angka ini menjadi pencapaian tertinggi sejak indeks ini diluncurkan pada akhir 2022, yang menunjukkan adanya penguatan ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi pasar saat ini.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menyebutkan bahwa angka tersebut mencerminkan optimisme yang lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Capaian ini juga lebih tinggi 1,02 poin dibandingkan Januari 2025, yang menandakan penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek usaha di awal tahun,” ujar Febri Hendri dalam pemaparan data IKI di Jakarta.

Situasi ini berjalan beriringan dengan kebijakan moneter Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga BI-Rate di level 4,75 persen. Keputusan tersebut dinilai memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam merencanakan biaya operasional sehingga tetap selaras dengan target inflasi nasional.

 

Dinamika 23 Subsektor, Domestik Jadi Penopang

Melihat lebih dalam pada struktur industri, sebanyak 20 dari 23 subsektor pengolahan saat ini berada dalam fase ekspansi. Subsektor yang ekspansif tersebut mencakup porsi besar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas.

Kenaikan aktivitas ini sebagian besar dipicu oleh langkah antisipatif perusahaan terhadap lonjakan konsumsi musiman yang biasanya terjadi dalam waktu dekat. Febri Hendri menjelaskan bahwa peningkatan intensitas di pabrik-pabrik berkaitan dengan persiapan menyambut hari raya.

“Kami menilai peningkatan IKI terjadi karena pelaku industri mulai mengintensifkan kegiatan produksi untuk merespons dan memenuhi peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadan, Hari Raya Idulfitri, serta hari raya keagamaan lainnya,” jelasnya.

Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer serta Industri Mesin dan Perlengkapan menjadi subsektor dengan IKI paling tinggi. Meski demikian, kondisi tidak sepenuhnya merata di semua lini. Subsektor seperti industri kulit, alas kaki, sehingga elektronik masih berada dalam zona kontraksi.

Pelemahan permintaan dari pasar luar negeri serta gangguan rantai pasok akibat situasi geopolitik menjadi faktor utama yang menghambat pemulihan di sektor-sektor yang berorientasi ekspor tersebut.

 

Variabel Produksi Kembali ke Zona Ekspansi

Perubahan signifikan terlihat pada variabel produksi yang akhirnya kembali tumbuh setelah sempat melambat selama tujuh bulan terakhir.

Indeks pesanan juga menunjukkan tren serupa, yang mengindikasikan bahwa arus permintaan dari konsumen mulai mengalir lebih deras ke lini produksi. Mengenai kembalinya gairah produksi ini, Febri Hendri menggarisbawahi pola musiman yang menjadi pendorong utama.

“Kembalinya variabel produksi ke zona ekspansi disebabkan karena industri sedang intensif memproduksi barang untuk memenuhi peningkatan demand hari besar keagamaan pada bulan Februari dan Maret 2026,” katanya.

Survei terhadap para pengusaha menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha atau sekitar 78,5 persen merasa kegiatan bisnis mereka berada dalam posisi stabil hingga membaik. Di sisi lain, tingkat pesimisme pelaku industri tercatat menurun ke angka 4,5 persen, sebuah indikasi bahwa kekhawatiran terhadap penurunan usaha mulai berkurang di awal tahun ini.

 

Investasi dan Keberlanjutan Industri ke Depan

Pergerakan indeks ini juga didukung oleh realisasi investasi yang masih mengalir ke sektor pengolahan, yang pada akhir tahun lalu mencapai Rp218,2 triliun.

Angka tersebut setara dengan 43,9 persen dari total investasi nasional. Peningkatan impor barang modal sebesar 17,27 persen juga menunjukkan bahwa beberapa perusahaan sedang melakukan ekspansi kapasitas ataupun peremajaan mesin produksi.

Ke depan, tantangan utama tetap berada pada upaya menjaga daya saing di tengah pasar global yang belum sepenuhnya stabil. Fokus pada penguatan pasar dalam negeri serta efisiensi produksi menjadi langkah realistis untuk mempertahankan tren positif ini.

Capaian IKI pada Januari 2026 diharapkan menjadi landasan awal bagi industri nasional untuk menghadapi dinamika ekonomi sepanjang tahun.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.