Kecemasan (anxiety) adalah pengalaman emosional yang universal. Namun, akar kecemasan sesungguhnya tidak hanya berasal dari reaksi tubuh terhadap stres saat ini, melainkan berasal dari bekas luka masa lalu yang belum terselesaikan.
Prasangka, penolakan, dan kenangan terpendam sering kali mengendap di bawah sadar, lalu muncul sebagai kegelisahan yang tampak tak berdasar.
Dalam tulisan ini, kita akan menghubungkan tiga medium ekspresif antara film, puisi, dan teknik mindfulness sebagai cara memahami dan berdamai dengan kecemasan yang bersarang dari pengalaman masa muda.
Film dan Trauma Masa Lalu
Apakah Kawan GNFI ada yang sudah melihat film Surat Untuk Masa Mudaku? Film karya sutradara Sim F. ini baru tayang di Netflix pada 29 Januari 2026. Sinema ini memberikan gambaran naratif lain tentang bagaimana masa muda penuh luka membentuk pola perilaku dan kecemasan seseorang.
Bercerita tentang Kefas, seorang anak panti asuhan yang bak arsip batin berjalan membawa interaksi masa kecil, pertarungan penyembuhan, dan dislokasi emosional yang terus membayangi dirinya hingga dewasa.
Alih‑alih langsung menyembuhkan tokoh utamanya dengan trik dramatis, film ini menekankan proses refleksi melalui hubungan interpersonal, konfrontasi terhadap kenangan masa lalu, dan rekonsiliasi internal.
Tontonan ini merupakan sebuah narasi yang menunjukkan bahwa kecemasan bukanlah “musuh yang harus dihancurkan”, tetapi rasa yang perlu dipahami, diterima, dan direkonsiliasi.
Cerita Kefas dan Pak Simon mengajak pemirsa untuk melihat bahwa dendam batin atau luka masa kecil bukanlah sesuatu yang hilang begitu saja. Mereka menunggu pemaknaan yang lebih dalam, sampai akhirnya berhenti membayangi diri kita yang sekarang.
Narasi Emosinal lewat Puisi
Sastra sering menjadi cermin tajam bagi keadaan batin yang sulit diungkap secara langsung. Dalam puisi berikut, penulis membiarkan imaji dan metafora mengekspresikan kerumitan masa muda yang penuh kecemasan.
Teruntuk Aku yang Belia
(Elis L. Septikasari)
Adakah sapa untuk aku yang belia
aku meringkuk, memeluk malang
terombang-ambing ditengah lautan
terimpit nakhoda dan awak kapal
Saat bintang disapu ombak malam
aku terdiam kebingungan
saat angin menggulung harapan
aku mengapung tanpa kepastian
………………
Aku yang belia, aku yang di usia itu
tak bernyali meniti, tak berani bermimpi
Aku yang belia, aku yang di usia itu
kerap menghantui, aku yang sekarang ini.
Metafora dalam bait itu bukan hanya gambaran suasana hati yang gelisah, tetapi juga citra psikologis dari ketidakpastian yang terus berulang.
Ini meruoakan suatu pola yang muncul ketika pengalaman masa lalu belum dipahami dan dilepaskan secara emosional.
Ketidakmampuan untuk merepresentasikan ulang pengalaman tersebut dalam narasi diri sering kali membuat seseorang terus “mengapung dalam kekosongan” tanpa resolusi yang jelas.
Dalam terminologi psikologi, fenomena ini mirip dengan repetition compulsion, yakni kecenderungan tidak sadar untuk terus mengulang pola pengalaman traumatis yang sama, meskipun hasilnya selalu negatif.
Sulitnya berdamai dengan masa lalu membuat batin tetap terikat pada kejadian yang sama, memperkuat kecemasan kronis.
Anxiety sebagai Arkeologi Emosi
Jika kita berpikir secara metaforis, anxiety bisa seperti arkeologi emosi. Lapisan demi lapisan pengalaman masa lalu yang belum dikuburkan benar‑benar, masih tampak di permukaan, dan menghambat keseimbangan batin saat ini.
Dalam konteks seperti ini, teknik relaksasi sederhana seperti deep breathing atau progressive muscle relaxation hanyalah bagian dari alat bantu penenang bukan akar penyebab.
Dalam konteks trauma dan konflik interpersonal, rekonsiliasi membantu menciptakan ruang bagi kedamaian diri dengan memetakan ulang hubungan antara diri sekarang dan ingatan masa lalu.
Tahapan tersebut bukan tentang menghapus ingatan buruk, tetapi menghubungkan kembali pengalaman emosional tersebut secara sadar dan bermakna, sehingga bukan lagi sesuatu yang terus mengikat kecemasan.
Menurut KBBI sendiri, rekonsiliasi adalah proses yang melibatkan pemulihan hubungan yang telah rusak atau bermasalah, serta menyelesaikan perbedaan antara pihak-pihak yang terlibat.
6 Mantra Rekonsiliasi untuk Menghadapi Anxiety
Berikut 6 mantra rekonsiliasi melalui tulisan atau jurnal harian yang dapat membantu Kawan berdamai dengan pengalaman masa lalu yang menimbulkan atau memperkuat rasa cemas.
Bukan sekadar menenangkan diri secara sementara, tetapi membina hubungan batin yang lebih sehat terhadap masa lalu itu sendiri!
“Aku mengakui apa yang telah terjadi, tanpa membiarkannya mendikteku.”
Ini adalah langkah pertama dalam rekonsiliasi: pengakuan bahwa pengalaman itu nyata dan punya dampak tanpa menyangkal atau menolaknya. Praktiknya, Kawan bisa mulai tuliskan pengalaman masa lalu yang masih memengaruhi perasaan secara jujur di jurnal harian.
“Pengalaman itu membentukku, tetapi tidak lagi menguasai arah hidupku.”
Ini memberi ruang bagi masa lalu untuk menjadi bagian dari narasi identitas, bukan pengendali mutlaknya. Tetapkan batasan waktu pikiran tentang masa lalu (misal 10–15 menit), lalu secara sadar alihkan ke aktivitas produktif.
“Aku melihat jejak masa lalu sebagai guru, bukan penjara.”
Menginterpretasikan ulang pengalaman negatif sebagai sumber pembelajaran membantu memutus pola pengulangan yang merugikan. Ubah sudut pandang dan tulis pelajaran yang Kawan dapat dari pengalaman itu.
“Aku memberi ruang pada perasaan lama untuk dirasakan, dihargai, dan dilepaskan.”
Mengizinkan emosi masa lalu yang tak terproses untuk muncul ke permukaan adalah bagian penting dari rekonsiliasi batin. Caranya dengan melakukan teknik ekspresi emosional, misalnya writing therapy: tuliskan emosi tanpa mengedit atau menahan perasaan.
“Aku membangun kembali kisahku sendiri dengan kasih sayang.”
Rekonsiliasi berarti menulis ulang narasi hidup dengan sudut pandang yang lebih memberdayakan, bukan sekadar menghapuskannya. Susun ulang narasi hidupmu di jurnal, bukan sebagai cerita tentang kegagalan atau penyesalan, tetapi sebagai kisah tentang pembelajaran dan pertumbuhan.
“Aku berdamai dengan masa lalu, lalu beranjak dengan yakin ke masa depan.”
Mantra ini menegaskan bahwa berdamai bukan berarti berhenti di masa lalu, melainkan mengikutsertakan masa lalu dalam perjalanan batin yang utuh.
Tetapkan tujuan harian atau mingguan yang memberi arti untuk masa depanmu, misalnya dengan belajar keterampilan baru, mulai proyek kreatif, atau memperbaiki relasi yang penting.
Rekonsiliasi sebagai Jalan Menuju Kedamaian Batin
Menghadapi anxiety yang lahir dari pengalaman masa lalu bukan sekadar tentang menenangkan diri secara fisiologis, tetapi memahami dan menerima sejarah batin sendiri. Puisi dan film menjadi medium naratif yang membantu kita melihat secara lebih jernih dinamika batin tersebut bahwa kecemasan tidak hilang dengan cara disembunyikan, tetapi dirangkul dan dipahami.
Rekonsiliasi bukan tentang memaafkan atau melupakan secara sepihak. Ia adalah proses sadar untuk menggali, menghormati, dan menggabungkan kembali pengalaman emosional masa lalu dalam cara yang lebih dewasa, bermakna, dan berdamai.
Dengan mantra rekonsiliasi ini, Kawan dapat memulai proses itu bukan untuk menyembunyikan rasa sakit, tetapi untuk memaknainya dan membiarkannya menjadi bagian dari kisah hidup yang lebih damai dan terarah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


