ketoprak pementasan yang tak pernah usang - News | Good News From Indonesia 2026

Ketoprak, Pementasan yang Tak Pernah Usang

Ketoprak, Pementasan yang Tak Pernah Usang
images info

Ketoprak, Pementasan yang Tak Pernah Usang


Berawal dari jiwa seni yang didorong oleh kebutuhan masyarakat akan hiburan, lahirlah pertunjukan yang menyuguhkan cerita kehidupan sehari-hari dengan nyanyian serta tarian. Dari kesederhanaan itu, pertunjukan ini terus memperbaharui diri mengikuti kondisi sosial budaya yang membersamainya.

Perubahan yang dibawakan tidak semerta-merta agar meraih banyak peminat, tetapi juga untuk menegaskan arti perjuangan rakyat Indonesia.

Sampai saat ini, ketoprak masih berjalan di tengah kencangnya globalisasi dengan nilai-nilai yang layak dipertahankan. 

Apa Cerita di Balik Kemunculan Ketoprak?

Ketoprak adalah seni teater tradisional jenis teater rakyat yang muncul pada abad ke-19 di Surakarta. Lahirnya ketoprak diawali dengan kegiatan menumbuk padi masyarakat pedesaan menggunakan alu dan lesung.

Beradunya kedua alat tersebut menimbulkan bunyi-bunyian yang secara tidak sengaja menghasilkan irama seperti musik. Bunyi-bunyian tersebut kemudian dibarengi nyanyian, tarian, serta dialog yang menjadi pertunjukan hiburan. 

Kata ketoprak diambil dari bunyi “tok–tok” yang dihasilkan dari beradunya lesung dengan alu, dan dari bunyi “praak–praak” yang dihasilkan dari keprak, sebuah alat yang dipakai untuk memberi instruksi kepada penari dan penabuh gamelan.

Sementara itu, menurut Rangga Warsita di dalam serat Pustaka Raja Purwa jilid II, kata ketoprakadalah nama lain dari kothekan, yaitu sejenis kesenian rakyat yang menggunakan lesung sebagai alat musiknya. 

Menilik masa penjajahan, orang-orang yang berkumpul sering dicurigai melakukan makar. Hal ini turut mendorong kemunculan berbagai kelompok kesenian seperti ketoprak sebagai wadah aman bagi masyarakat untuk berkumpul tanpa takut dibubarkan oleh para tentara penjajah. Seiring waktu, panggung ketoprak terus menyebar di setiap kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta. 

Apa Keistimewaan Ketoprak?

Ketoprak umumnya menyajikan cerita rakyat seperti legenda, mitos, dan sejarah. Uniknya, pertunjukan ketoprak zaman dahulu bisa memakan waktu 7-8 jam. Namun, saat ini Kawan bisa menonton pementasan dari awal hingga akhir hanya dalam waktu 2-4 jam saja.

Cerita yang disusun dalam pertunjukan ketoprak disebut lakon. Pemain lakon dalam ketoprak berkisar 20-30 orang atau bisa mencapai 50 hingga ratusan orang untuk pertunjukan kolosal.

Pertunjukan akan diiringi musik gamelan, tembang (nyanyian), juga tarian. Di tengah pertunjukan, penonton akan disuguhkan sebuah babak yang berisi guyonan sebagai intermeso.

Ketoprak tidak bisa disebut teater klasik. Sebab, seni ini lahir secara spontan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat umum dan terus beradaptasi dengan kondisi budaya di lingkungan mereka pentas.

Pementasan banyak mengandalkan improvisasi dalam dialog, alur, dan berbagai unsur pertunjukan lainnya sehingga tercipta suasana akrab di antara pemain dan penonton. Kesederhanaan yang dibawakan ketoprak membuatnya cepat diterima dan dicintai masyarakat. 

Kesenian ini tentunya memiliki peranan yang sangat penting dalam penyampaian pesan atau kabar. Ketoprak bergerak sebagai media komunikasi, pendidikan, spiritual, kritik sosial, hingga perjuangan yang menumbuhkan semangat nasionalisme. 

Perkembangan Ketoprak dari Masa ke Masa

  • Periode Ketoprak Gejog Lesung

Periode ini berlangsung pada tahun 1887-1925. Pada saat itu belum ada make up, pakaian yang dikenakan pun sederhana. Cerita yang dibawakan berupa kehidupan sehari-hari masyarakat desa yang kemudian berkembang dengan cerita kehidupan istana. Iringan yang digunakan hanya bunyi-bunyian gejog sembari pemain menari, menyanyi, dan berdialog. 

  • Periode Peralihan

Periode ini berlangsung pada tahun 1925-1927 yang ditandai dengan mulai banyaknya rebana, gendang dan seruling yang digunakan sebagai musik pengiring. Alat musik ini sebenarnya sudah diusulkan pertama kali oleh RM. Wreksadiningrat pada 1908.

Selain itu, kostum yang dikenakan dalam pertunjukan semakin menginterpretasikan lakon yang dibawakan. Lakon pun mulai bervariasi dengan masuknya serat menak, legenda, dan babad atau cerita sejarah. 

  • Periode Ketoprak Gamelan

Periode ini berlangsung sejak 1927 hingga sekarang. Gamelan mulai digunakan sebagai pengiring pertunjukan, khususnya oleh kelompok Wreksatama. Unsur dramaturgi barat juga mulai berpengaruh dengan adanya sutradara yang disebut dalang. Pemain diberi kesempatan berimprovisasi sesuai dengan alur yang ditetapkan oleh dalang. Selain itu, perkembangan rias, tata busana, dan tata panggung semakin mempercantik pertunjukan.

Eksistensi dengan Berbagai Modifikasi

Tahun-tahun berikutnya, ketoprak terus melakukan pembaharuan. Pada tahun 1927, Ketoprak Krida Madya Utama menjadi kelompok pertama yang mengkomersialkan teater ini. Para seniman ketoprak kemudian mulai berkeliling ke luar surakarta untuk bersaing dalam bisnis pertunjukan. 

Ketoprak keliling pertama dipimpin oleh Wisangkoro. Kelompok ketoprak ini mulai berpindah pindah di sekitar Klaten, termasuk daerah Prambanan, kemudian masuk ke daerah Sleman.

Kemudian, muncullah istilah ketoprak tobong yang merujuk pada kelompok ketoprak yang mengadakan pertunjukan dari satu kota ke kota lainnya.

Selanjutnya, sekitar tahun 1945, Ketoprak Krido Rahardjo mengembangkan gendhing pengiring berkelanjutan dan membuat dialog yang lebih ekspresif. Hal ini membuat pertunjukan kelompok ketoprak ini masuk dalam siaran RRI Yogyakarta. Beberapa tahun kemudian, nama kelompok ini lebih dikenal dengan istilah Ketoprak Mataram. 

Akan tetapi, ketenaran tak berlangsung lama. Ketoprak mengalami masa suram pada tahun 1970–1980. Dengan masuknya teknologi hiburan berupa film dan maraknya bioskop, ketoprak kehilangan banyak penggemar.

Meski begitu, dalam kurun waktu ini pula, Teguh Srimulat berinisiatif merenovasi gedung kesenian ketoprak di taman Balekambang. Hal ini membuat pertunjukan ketoprak kembali marak di Surakarta.

Dari kelompok ketoprak yang mekar di Balekambang ini, lahirlah pelawak-pelawak terkenal seperti Nunung, Mamiek Prakoso, Gopeng, dan lainnya. 

Berikutnya, berdiri Ketoprak Sapta Mandala yang mengubah tata urutan adegan konvensional. Pertunjukan yang awalnya diawali dengan adegan jejeran keraton, diubah menjadi adegan yang mengarahkan penonton pada konflik cerita.

Instrumen keprak pun mulai ditinggalkan sehingga pemain harus fokus dengan kata kunci lawan mainnya untuk menghentikan adegan.

Ternyata, Ketoprak juga mengadaptasi budaya dari luar negeri. Hal ini terjadi pada tahun 1980-an, saat Ketoprak PS Bayu menampilkan “gebukan” atau hantaman dengan unsur gerakan kungfu disertai komedi.

Inovasi ini ternyata membawa arah positif yang membuat ketoprak ini diundang ke berbagai acara pentas di desa, instansi, maupun pribadi. Gaya PS Bayu ini lantas diikuti kelompok ketoprak lain.

Tak cukup sampai di sana, pada tahun 1990-an, Ketoprak Sapta Mandala membuat terobosan baru, yaitu cerita komedi yang kemudian dikenal sebagai ketoprak plesetan sebagai alat kritik sosial dan pemerintah.

Namun, karena cara penyampaiannya sering dinilai terlalu kejam, akhirnya terobosan ini dihentikan oleh pimpinan kelompok tersebut.

Dalam menumbuhkan peminat ketoprak, studio televisi TVRI berperan besar. Berbagai kelompok kepentingan memanfaatkan ketoprak yang tampil di televisi untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Maka dari itu, secara tidak langsung para pemangku kepentingan ini ikut melestarikan ketoprak.

Hingga hari ini, ketoprak masih aktif menyelenggarakan pertunjukan di berbagai acara seni. Inovasi terus ditingkatkan khususnya dalam pemanfaatan media sosial sebagai semburan tontonan yang mengajarkan tatanan dan memberi tuntutan pada generasi muda dalam pelestariannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.