Kenapa Hujan kerap menyertai perayaan Tahun Baru Imlek di berbagai daerah di Indonesia. Pola ini muncul hampir setiap tahun dan membentuk persepsi bahwa Imlek selalu datang bersama langit yang mendung dan rintik hujan. Lantas, kenapa Imlek selalu hujan? Berkaitan dengan budaya, kepercayaan atau adakah penjelasannya secara ilmiah?
Secara ilmiah, hujan saat Imlek bukanlah fenomena acak yang hadir tanpa penjelasan. Penentuan tanggal Imlek yang mengikuti penanggalan lunar membuat perayaan ini selalu jatuh pada periode yang relatif sama setiap tahun. Periode inilah yang bertepatan dengan fase paling aktif dari musim hujan di Indonesia.
Mengapa Imlek Identik dengan Turunnya Hujan
Fenomena hujan yang kerap menyertai perayaan Imlek sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Pola cuaca di Indonesia pada awal tahun menunjukkan kecenderungan yang konsisten, terutama jika dilihat dari siklus musim dan pergerakan angin regional. Berikut penjelasan utama yang membuat Imlek identik dengan turunnya hujan.
Imlek Bertepatan dengan Puncak Musim Hujan
Tahun Baru Imlek umumnya jatuh antara 21 Januari hingga 20 Februari. Berdasarkan pola klimatologi Indonesia, rentang waktu tersebut merupakan periode dengan intensitas curah hujan tinggi.
Secara statistik, BMKG menunjukkan bahwa periode puncak musim hujan di banyak wilayah Indonesia sering terjadi pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, dengan curah hujan tinggi yang sering berlanjut hingga Januari dan Februari. Pada tahun-tahun tertentu, intensitas hujan di periode ini bahkan dapat mencapai kategori tinggi. Curah hujan ini dominan di banyak wilayah terutama di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Papua.
Karena Imlek selalu berada di rentang waktu tersebut, peluang hujan saat perayaan menjadi lebih besar dibanding bulan lain. Inilah dasar ilmiah yang menjawab kenapa Imlek selalu hujan menurut data meteorologi.
Monsun Asia dan Pergerakan Udara Lembap
Selain faktor musim, hujan saat Imlek juga dipengaruhi oleh Monsun Asia. Angin musiman ini bergerak dari Benua Asia menuju Australia dan melewati wilayah Indonesia.
Dalam pergerakannya, monsun membawa udara lembap dengan kandungan uap air tinggi. Ketika bertemu kondisi atmosfer lokal yang mendukung, awan hujan mudah terbentuk. BMKG juga menyebut bahwa pada periode ini sering muncul pertemuan dan belokan angin yang memperkuat potensi hujan, terutama di wilayah barat dan tengah Indonesia.
Makna Hujan saat Imlek dalam Kebudayaan Tionghoa
Selain dijelaskan secara ilmiah, hujan saat Imlek juga dipahami melalui sudut pandang budaya yang telah terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Cara pandang ini berakar dari pengalaman masyarakat agraris yang sangat bergantung pada alam.
Elemen Air dan Rezeki dalam Filosofi Tionghoa
Dalam filsafat Tionghoa, air dipandang sebagai simbol kehidupan, pergerakan, dan kelimpahan. Karena sifatnya yang mengalir, air kerap diasosiasikan dengan rezeki atau Cai yang diharapkan terus berlanjut.
Dalam buku yang berjudul A Short History of Chinese Philosophy, sinolog dan filsuf Tiongkok Fung Yu-lan menjelaskan bahwa unsur alam dalam pemikiran klasik Tiongkok tidak hanya dipahami secara fisik, tetapi juga simbolis. Air melambangkan keseimbangan dan kesinambungan hidup. Dalam konteks ini, hujan di awal tahun dipahami sebagai tanda bahwa siklus kehidupan berjalan normal.
Jejak Pertanian Kuno dan Makna Festival Musim Semi
Imlek dikenal sebagai Spring Festival atau penanda dimulainya musim semi dalam kalender tradisional Tiongkok. Bagi masyarakat agraris, momen ini memiliki arti penting.
Dalam tradisi Tiongkok, kalender tradisional dirancang selaras dengan siklus alam dan aktivitas pertanian. Awal musim semi menandai dimulainya kembali masa tanam setelah musim dingin. Hujan pada periode ini kerap dipandang sebagai indikator kesuburan tanah dan kesiapan lahan untuk ditanami. Makna agraris inilah yang kemudian melekat dalam perayaan Imlek hingga sekarang.
Naga sebagai Simbol Penguasa Air
Dalam tradisi Tionghoa, naga dipandang sebagai penguasa hujan dan air. Figur naga berkembang sebagai simbol kekuatan alam yang menjaga keseimbangan, termasuk ketersediaan air. Hujan yang turun saat Imlek kemudian dimaknai sebagai bentuk perlindungan dan keberkahan simbolik di awal tahun.

Antara Mitos dan Realita, Apakah Benar Imlek Selalu Hujan?
Anggapan bahwa Imlek selalu identik dengan hujan tidak sepenuhnya berdiri di atas fakta cuaca. Persepsi ini juga dipengaruhi oleh cara manusia mengingat peristiwa.
Secara psikologis, manusia cenderung lebih mudah mengingat peristiwa yang mengganggu rencana atau kebiasaan. Hujan yang turun saat Imlek berdampak langsung pada aktivitas perayaan, sehingga meninggalkan kesan yang lebih kuat dibanding cuaca cerah.
Inilah yang membentuk bias kognitif, seolah hujan selalu hadir setiap Imlek, meski secara statistik tidak selalu demikian.
Faktanya, hujan saat Imlek tidak terjadi seragam di seluruh Indonesia. Kondisi cuaca sangat dipengaruhi faktor geografis dan dinamika atmosfer lokal.
Wilayah barat Indonesia cenderung lebih basah, sementara daerah lain bisa mengalami hujan ringan, berawan, atau bahkan cerah. BMKG menegaskan bahwa hujan bersifat lokal dan dinamis.
Tips Menikmati Perayaan Imlek di Kala Hujan
Hujan saat Imlek sangat lumrah terjadi dan dapat dipahami setelah mengetahui dasar ilmiah di baliknya. Karena itu, banyak keluarga yang melakukan penyesuaian agar perayaan tetap berjalan dengan baik. Bagi Kawan yang merayakan Imlek, dapat melakukan beberapa persiapan, agar momen Imlek bersama keluarga tetap berkesan dan penuh kehangatan. Persiapan tersebut di antaranya:
- Persiapan logistik: Jika Kawan ingin merayakan Imlek di luar rumah, jangan lupa untuk membawa peralatan yang mendukung seperti payung, jas hujan, dan alas kaki yang aman. Memilih lokasi indoor untuk menggelar makan malam atau Reunion Dinner juga layak dipertimbangkan agar perayaan tidak terganggu cuaca.
- Kuliner hangat penunjang suasana: Cuaca hujan membuat hidangan hangat seperti sup berkuah atau ronde menjadi pilihan yang tepat pada momen Imlek. Selain menghangatkan tubuh, sajian ini memperkuat suasana kebersamaan di meja makan.
Jawaban atas pertanyaan kenapa Imlek selalu hujan berada di pertemuan antara sains dan budaya. Hujan bukan mitos, melainkan bagian dari siklus alam yang kemudian dimaknai dengan bijak oleh tradisi. Semoga imlek tahun ini dipenuhi dengan keberkahan. Gong Xi Fa Chai bagi Kawan yang merayakan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


