Besuki, sebuah kecamatan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menyimpan kekayaan sejarah dan kebudayaan yang erat dengan perjalanan panjang masyarakat pesisir timur Pulau Jawa.
Dari asal-usulnya di era kerajaan hingga keberadaannya sebagai pusat administrasi di masa kolonial, Besuki kini kembali hadir dengan wajah baru melalui revitalisasi Kota Tua Besuki yang menegaskan nilai sejarah dan kebudayaan lokal.
Kawan GNFI akan diajak menelusuri bagaimana warisan masa lalu kini dinavigasikan kembali untuk masa depan yang lebih menghargai identitas budaya.
Asal-Usul dan Perkembangan Sejarah Besuki
Sejarah Besuki sudah dimulai sejak era kerajaan besar di Nusantara. Pada zaman Kerajaan Majapahit, Besuki dikenal sebagai wilayah strategis bernama Keta yang tumbuh berkembang di pesisir timur Jawa.
Bersama dengan Sadeng, wilayah ini pernah melakukan pemberontakan terhadap Majapahit, meski akhirnya perlawanan itu berhasil dipadamkan oleh panglima Gajah Mada pada tahun 1331 Masehi.
Selanjutnya, sejarah Besuki juga lekat dengan sosok Kiai Pate Alos alias Raden Bagus Kasim Wirodipuro, seorang tokoh yang dikenal sebagai demang pertama di Besuki dan memiliki peran penting dalam pemerintahan lokal pada abad ke-18. Peran tokoh ini menunjukkan bagaimana pemerintahan tradisional di Besuki berkembang dengan pengaruh budaya lokal dan keterkaitan sosial yang kuat.
Selain itu, Besuki di masa lampau juga pernah menjadi ibu kota Karesidenan Besuki, yang mencakup beberapa wilayah di timur Jawa, menegaskan posisi pentingnya dalam struktur administrasi kolonial.
Kebudayaan Besuki tumbuh bukan hanya dari catatan sejarah, tetapi juga dari interaksi sosial dan tradisi masyarakatnya. Masyarakat setempat memiliki nilai kebersamaan, bahasa lokal, serta kebiasaan yang mencerminkan campuran budaya pesisir Jawa Timur yang khas. Kekayaan budaya ini menjadikan Besuki bukan sekadar wilayah geografis, tetapi juga ruang hidup yang memelihara nilai sosial dan tradisi yang turun-temurun.
Revitalisasi Kota Tua Besuki: Menjaga Warisan Budaya untuk Masa Depan
Kabar baik datang dari upaya pelestarian warisan sejarah Besuki. Baru-baru ini, Pendopo Pate Alos di Besuki, Situbondo, telah diresmikan kembali setelah melalui proses revitalisasi. Peresmian ini dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bersama Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo pada Minggu, 25 Januari 2026.
Bangunan bersejarah ini merupakan hasil pemugaran intensif terhadap struktur lama yang dulunya pernah menjadi pusat pemerintahan wilayah Karesidenan Besuki di masa kolonial. Revitalisasi tersebut bukan sekadar memperindah bangunan, tetapi juga memberikan fungsi baru sebagai pusat budaya.
Dalam pidatonya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa revitalisasi Pendopo Pate Alos bukan hanya soal memugar fisik bangunan, melainkan soal merawat identitas nasional dan warisan budaya untuk generasi kini dan mendatang. Hal itu sekaligus merupakan komitmen negara dalam menjaga aset budaya sebagai bagian dari kekuatan dan jati diri bangsa.
Revitalisasi ini juga menjadi tonggak awal pengembangan Wisata Kota Tua Besuki berbasis cagar budaya, dengan tujuan agar kawasan bersejarah tersebut dapat menjadi destinasi edukatif bagi pelajar, masyarakat, dan wisatawan. Pendopo Pate Alos diharapkan difungsikan sebagai museum sejarah, pusat kegiatan seni, serta tempat interaksi budaya yang hidup.
Pesan Budaya dan Harapan Masa Depan
Kebangkitan Kota Tua Besuki melalui revitalisasi ini menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya disimpan di lembaran buku, tetapi juga dapat dihidupkan kembali lewat ruang fisik yang bermakna. Upaya ini menjadi contoh nyata bagaimana pelestarian budaya lokal mampu menjadi medium untuk pendidikan sejarah, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi kreatif setempat.
Dengan terbangunnya kembali Pendopo Pate Alos dan pengembangan kawasan bersejarah sebagai destinasi kota tua, Besuki membuka peluang besar bagi generasi muda untuk menggali akar budaya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


