algoritma vs tetua adat tantangan menjaga kehangatan tradisi lisan di era ai - News | Good News From Indonesia 2026

Algoritma vs Tetua Adat: Tantangan Menjaga Kehangatan Tradisi Lisan di Era AI

Algoritma vs Tetua Adat: Tantangan Menjaga Kehangatan Tradisi Lisan di Era AI
images info

Algoritma vs Tetua Adat: Tantangan Menjaga Kehangatan Tradisi Lisan di Era AI


Pernahkah Kawan GNFI merasakan momen tertampar secara halus oleh kemajuan teknologi? Coba bayangkan situasi tersebut. Di ruang tamu, seorang kakek sedang bersemangat ingin menceritakan kisah asal-usul desa atau pantangan adat yang unik kepada cucunya

Namun, sang cucu justru asyik menatap layar ponsel. Ketika sang kakek mulai berkisah tentang khasiat jamu kunyit asam, cucunya dengan polos menyela, "Tapi Kek, kata dokter di YouTube, kunyit asam tersebut nggak boleh diminum kalau lagi begini..."

Momen seperti demikian meskipun tampak sederhana, tetapi tetap menyisakan sebuah ironi besar. Masyarakat sedang berada di era di mana algoritma perlahan menggantikan posisi tetua adat sebagai sumber kebenaran utama.

Dahulu, para sesepuh atau orang tua menjadi kamus berjalan. Kawan GNFI pasti ingat masa-masa ketika bertanya "Mengapa masyarakat harus sopan?" atau "Apa makna motif batik tersebut?" kepada nenek yang menjadi sebuah ritual transfer pengetahuan yang hangat.

Ada emosi di sana. Ada tatapan mata yang teduh. Ada nilai kehidupan yang diselipkan di antara kalimat. Namun, bagaimana dengan sekarang? Peran sakral tersebut mulai direbut oleh mesin pencari.

baca juga

Ketika Algoritma menjadi Orang Tua Kedua

 Ilustrasi penggunaan AI ChatGPT | Pexels | Matheus Bertelli
info gambar

Ilustrasi penggunaan AI ChatGPT | Pexels | Matheus Bertelli


Elisan Dwi Prasetya pernah menuliskan keresahannya di Kompasiana tentang fenomena anak yang lebih percaya YouTube daripada orang tuanya. Hal tersebut merupakan realitas yang tidak bisa disangkal. Generasi sekarang tumbuh dengan akses informasi tanpa batas. Mereka bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan apa pun dalam hitungan detik lewat Google atau ChatGPT.

Masalahnya, jawaban dari mesin tersebut sering kali dingin. Algoritma bekerja berdasarkan data dan popularitas, bukan berdasarkan kebijaksanaan (wisdom). Mesin bisa memberikan resep masakan leluhur yang akurat sampai ke gram-gramnya, tapi ia tak bisa mengajarkan rasa tangan seorang ibu saat memasaknya. Mesin bisa menceritakan sejarah wayang kulit, tapi tak bisa menularkan rasa bangga dan haru saat melihat bayangan wayang di kelir.

Jika hal tersebut terus dibiarkan, masyarakat menghadapi risiko besar seperti putusnya mata rantai tradisi lisan yang bersifat emosional. Generasi muda mungkin tahu datanya, tetapi kehilangan rasanya.

Rumah yang seharusnya menjadi ruang dialog hangat, perlahan berubah menjadi sekumpulan individu yang sibuk dengan layar masing-masing, percaya bahwa kebenaran mutlak ada di tangan influencer atau chatbot.

baca juga

Teknologi sebagai Arsiparis, Bukan Pengganti

 Ilustrasi beberapa orang sedang menggunakan teknologi | Pexels | Gustavo Fring
info gambar

Ilustrasi beberapa orang sedang menggunakan teknologi | Pexels | Gustavo Fring


Lantas, apakah masyarakat harus membuang gawai dan kembali ke masa lalu? Tentu tidak, Kawan GNFI. Menolak teknologi di zaman tersebut ibarat melawan arus sungai deras sehingga masyarakat dapat hanyut dan tenggelam.

Kuncinya ada pada perubahan pola pikir. Jangan posisikan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai musuh atau pengganti tetua adat, melainkan jadikan ia sebagai murid atau alat bantu untuk melestarikan apa yang para sesepuh sampaikan.

Kabar baiknya, langkah tersebut sudah mulai dilakukan. Reynaldo dalam tulisannya di Unesa menyoroti bagaimana AI kini dimanfaatkan untuk mendokumentasikan tradisi lisan dalam konsep etnopedagogi.

Bayangkan teknologi Natural Language Processing (NLP) atau Speech-to-Text digunakan untuk merekam dan mentranskrip cerita-cerita rakyat yang dituturkan oleh penutur asli yang sudah sepuh.

Teknologi tersebut mampu menangkap intonasi, dialek lokal, bahkan ritme bahasa yang sering kali sulit dicatat secara manual. Arsip digital tersebut kemudian disimpan di cloud, aman dari lapuk dimakan usia.

Bahkan dengan bantuan Augmented Reality (AR) atau Virtual Reality (VR), cerita-cerita lawas tersebut bisa dihidupkan kembali dalam bentuk visual yang menarik bagi anak muda. Di sinilah titik temu indahnya.

Teknologi bertugas menjaga wadahnya (dokumentasi data), sementara manusia tetap memegang kendali atas isinya (nilai dan rasa).

baca juga

Menjaga Srawung di Tengah Gempuran Digital

 Ilustrasi percakapan anak dan orang tua Pexels | Andrea Piacquadio
info gambar

Ilustrasi percakapan anak dan orang tua Pexels | Andrea Piacquadio


Pada akhirnya, teknologi hanyalah perkakas. Pilihan untuk tetap menjadi manusia yang berbudaya ada di tangan diri sendiri. Tugas masyarakat sebagai generasi penengah yang mengalami masa analog dan digital sekaligus yaitu sebagai jembatan.

Saat anak atau cucu nantinya bertanya sesuatu yang didapatnya dari internet, jangan langsung mematikan rasa ingin tahunya. Ajak mereka berdialog. "Wah, menarik ya kata Google. Tapi coba yuk tanya Mbah, dulu ceritanya gimana?"

Kalimat sederhana yang muncul bisa mengembalikan marwah tetua adat ke tempat semestinya. Kawan GNFI perlu membangun kesadaran bahwa validitas informasi di internet perlu disandingkan dengan kearifan lokal yang hidup di sekitar lingkungan masyarakat.

Mari, bersama-sama memanfaatkan AI untuk merekam jejak leluhur agar abadi secara digital. Namun, untuk urusan kebijaksanaan hidup, luangkanlah waktu untuk duduk bersila, bertatap muka, dan mendengarkan cerita langsung dari sumbernya.

Dikarenakan secanggih apapun algoritma masa depan, masyarakat tidak pernah bisa mereplikasi pelukan hangat, doa tulus, dan nasihat penuh kasih sayang dari para tetua. Mari, jaga nyala api tradisi lisan tersebut tetap hidup dengan bantuan teknologi, bukan digantikan olehnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.