dinamika kelas bipa di lembaga bahasa dan spk - News | Good News From Indonesia 2026

Dinamika Kelas BIPA di Lembaga Bahasa dan SPK, Menenun Jembatan Diplomasi lewat Bahasa

Dinamika Kelas BIPA di Lembaga Bahasa dan SPK, Menenun Jembatan Diplomasi lewat Bahasa
images info

Dinamika Kelas BIPA di Lembaga Bahasa dan SPK, Menenun Jembatan Diplomasi lewat Bahasa


Bahasa Indonesia kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wajah diplomasi budaya Indonesia di mata dunia. Melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), kekayaan tutur dan budaya Nusantara diperkenalkan kepada warga dunia.

Dukungan untuk ekosistem ini pun semakin kuat, mulai dari pelatihan pengajar, program tutor bahasa, dan hadirnya program studi Pendidikan BIPA.

Penyelenggaraan kelas BIPA menjadi ujung tombak yang paling nyata, terutama di lembaga bahasa dan Sekolah Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK).

Namun, tahukah Kawan bahwa kelas-kelas ini tidak pernah seragam dan memiliki tujuan yang berbeda? Lantas, seperti apa potret pelaksanaannya?

Situasi Kelas BIPA di Lembaga Bahasa

Pembelajaran BIPA di lembaga bahasa umumnya menyesuaikan kebutuhan dan tujuan pemelajar. Mereka datang dari ragam latar belakang—mulai dari mahasiswa asing, pekerja profesional, diplomat, hingga pelancong yang jatuh cinta pada Indonesia.

Tujuan mereka belajar bahasa Indonesia biasanya untuk keperluan lanjut studi, pekerjaan, melancong, dan lainnya. Kelas BIPA di lembaga bahasa biasanya dilakukan dalam bentuk kelas reguler, privat, kerjasama universitas, atau program imersi budaya.

Meskipun mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) BIPA 1–7, penerapannya di lapangan sering kali dibuat lebih kontekstual agar pemelajar BIPA bisa langsung mempraktekkannya dalam situasi nyata.

Bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari sebagai sistem linguistik, tetapi dihidupi melalui simulasi interaksi sosial seperti berbelanja atau berdiskusi akademik.

Waktunya pun variatif, bisa berlangsung setiap hari atau 3–4 kali seminggu, tergantung kebutuhan sang pemelajar.

baca juga

Kelas Bahasa Indonesia di Sekolah SPK

Berbeda dengan lembaga bahasa, di sekolah SPK, Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran wajib. Hal ini tertuang dalam Permendikbud Nomor 31 Tahun 2014 tentang Kerja Sama Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan oleh Lembaga Pendidikan Asing dengan Lembaga Pendidikan di Indonesia.

Dalam permendikbud tersebut, siswa berstatus WNA diwajibkan belajar budaya Indonesia. Pendekatan BIPA digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah SPK karena latar belakang siswa yang beragam secara asal negara dan bahasa pertama.

Kelas Bahasa Indonesia di sekolah SPK dipetakan berdasarkan jenjang kelas, sehingga kemampuan siswa bisa sangat heterogen dalam satu kelas. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah SPK disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di sekolah—kurikulum internasional maupun kurikulum nasional.

Uniknya, di sekolah SPK yang menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB), kelas bahasa dibagi dengan spesifik. Ada Indonesian A untuk fokus sastra Indonesia, dan Indonesian B untuk pemerolehan bahasa Indonesia. 

Secara waktu pelaksanaan kelas, kelas Bahasa Indonesia di sekolah SPK tidak sebanyak di lembaga bahasa. Jadwal kelas Bahasa Indonesia biasanya berlangsung sekitar 2-3 hari seminggu. Porsi jadwal kelas ini berbeda-beda di setiap sekolah SPK sesuai kondisi sekolah.

baca juga

Melampaui Tantangan dalam Pengajaran BIPA

Tentu perjalanan ini tidak tanpa hambatan, Kawan GNFI. Di lembaga bahasa, pengajar harus memutar otak menyesuaikan metode bagi pemelajar yang motivasinya berbeda-beda.

Sementara di sekolah SPK, tantangan terbesarnya adalah menumbuhkan minat siswa agar melihat Bahasa Indonesia sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban akademik.

Masalah keterbatasan bahan ajar kontekstual juga masih membayangi. Pengajar memang menggunakan SKL BIPA dan kurikulum terkait sebagai acuan utama. Namun, keterbatasan sumber daya di lembaga sering kali menghambat pengembangan materi yang relevan bagi pemelajar. Hal ini membuat pengajar harus lebih kreatif menyusun atau menyesuaikan bahan ajar secara mandiri

Namun, di balik tantangan tersebut, lembaga bahasa maupun SPK adalah pilar penting diplomasi bahasa kita. Keduanya menjadi ruang bahasa Indonesia bertransformasi menjadi jembatan antarbangsa.

Selama ruang belajar itu terus tumbuh, Kawan GNFI boleh bangga karena diplomasi budaya Indonesia akan semakin bergema di panggung global.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.