festival bau nyale ombok - News | Good News From Indonesia 2026

Festival Bau Nyale, Tradisi Menangkap Cacing Laut di Lombok yang Kaya Nilai Sosial Budaya

Festival Bau Nyale, Tradisi Menangkap Cacing Laut di Lombok yang Kaya Nilai Sosial Budaya
images info

Festival Bau Nyale, Tradisi Menangkap Cacing Laut di Lombok yang Kaya Nilai Sosial Budaya


Tahukah Kawan GNFI, di pesisir Pulau Lombok setiap tahunnya terdapat tradisi unik yang dikenal dengan Festival Bau Nyale.

Saat perayaannya, ribuan orang berkumpul di bibir pantai untuk menangkap nyale atau sejenis cacing laut warna-warni yang muncul sekali setahun yang bagi masyarakat Sasak, nyale ini bukan sekadar biota laut, tapi memiliki simbol tradisi mendalam.

Ingin tahu bagaimana keseruan, tradisi, dan nilai sosial dari Festival Bau Nyale di Lombok? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuNTB.

Makna Simbolis di Balik Festival Bau Nyale Lombok

Festival ini tak lepas dari eksistensinya dengan kaitan legenda Putri Mandalika dari Kerajaan Tonjang Beru yang cantik. Ia membuat para pangeran tertarik ingin meminangnya hingga memicu ancaman perang saudara.

Menurut legenda, demi menghindari pertikaian hingga pertumpahan darah, sang Putri memutuskan untuk menceburkan dirinya ke laut lepas di Pantai Seger.

Kehilangan sang Putri Mandalika memunculkan ribuan cacing laut warna-warni dan dipercaya sebagai penjelmaan rambut sang Putri sebagai janji sederhana untuk kembali menyapa rakyatnya melalui nyale.

Festival Bau Nyale ini tak sekadar menjadi Festival tahunan saja, tapi menjadi cerminan kuat akan struktur sosial dari masyarakat Lombok khususnya masyarakat Sasak.

Makna simbolis dari rasa kebersamaan dan gotong royong hingga menyatukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial menjadi ruang tawa dan bahagia saat berebut menangkap nyale.

Selain itu, adanya tradisi ini menjadi identitas kultural dan penjaga ekosistem kearifan lokal. Kaitannya dengan penghormatan mendalam terhadap siklus alam dan nilai sosial yang semakin mempererat hubungan antargenerasi.

baca juga

Apa Itu Cacing Laut atau Nyale di Lombok?

Kerap muncul sekali setahun hingga terkait legenda Putri Mandalika, kemunculan nyale ini menjadi fenomena alam yang unik bahkan menjadi magnet bagi wisatawan. Dalam penanggalan Sasak, cacing ini biasa muncul pada hari ke-20 bulan ke-10 sekitar Februari atau Maret.

Kata ‘Bau’ di sini merujuk pada bahasa Sasak yang berarti ‘menangkap’ dan nyale merujuk pada sejenis cacing laut warna-warni (annelida) yang muncul sekali setahun.

Cacing laut yang dikenal sebagai nyale di Lombok ini ternyata bukan sekedar cacing biasa, tetapi jadi salah satu biota laut unik dengan siklus hidup yang spesifik.

Secara ilmiah, cacing laut atau nyale ini masuk dalam kelas Polychaeta dari filum Annelida. Ia juga merupakan spesies yang dominan ditemukan di Lombok bernama Eunice siciliensis atau disebut Palola Viridis di wilayah Pasifik.

Sebenarnya, cacing nyale yang muncul bukan bagian tubuh cacing dewasanya. Namun, merupakan bagian belakang tubuh yang berisi sel reproduksi (epitoke) yang lepas dan berenang ke permukaan laut untuk melakukan pemijahan (kawin masal).

Sedangkan, untuk cacing nyale dewasanya biasanya hidup menetap di dalam lubang-lubang batu karang di dasar laut. Bagian tubuh yang lepas inilah yang berwarna-warni (hijau, merah, dan coklat) yang ditangkap oleh masyarakat.

Masyarakat Sasak juga mengolah nyale sebagai kudapan khas dalam bentuk nyale pepes, bokosok (nyale mentah yang dicampur dengan parutan kelapa dan bumbu khas), hingga dimasak dengan bumbu kuning yang kaya rempah.

Rasanya yang unik, bahkan sering digambarkan mirip dengan otak atau kuning telur, tetapi memiliki aroma laut yang kuat. Meski bentuknya cukup unik, nyale ternyata dapat menjadi sumber pangan bergizi di masa depan yang kaya mineral dan protein tinggi.

baca juga

Kapan Festival Bau Nyale Tahun 2026?

Dalam acaranya di sekitar Pantai Seger, Festival Bau Nyale ini menciptakan suasana magis yang diiringi dengan ritual do’a bersama tokoh adat dengan ribuan obor dan lampu kepala di sepanjang pantai.

Dini hari menjadi waktu yang dinantikan untuk bau nyale atau menangkap cacing laut dengan menggunakan jaring kecil (sauk) dan turun ke laut bersama warga lokal.

Tak hanya itu, festival ini pula dimeriahkan dengan pertunjukkan seni lainnya seperti presean (pertarungan perisai penjalin), tradisi Bejambek (berbalas pantun), dan drama kolosal Putri Mandalika hingga acara budaya lainnya.

Pada tahun 2026 ini, puncak acara Festival Bau Nyale diadakan pada 7-8 Februari di Pantai Seger, Kecamatan Kuta Mandalika dan dimeriahkan pula dengan artis Nasional yang menjadi bagian dari festival tahun ini.

Pada momen puncak acara menjadi kegiatan untuk menyaksikan kemunculan nyale dan dengan memanjatkan doa akan harapan, keberkahan, keselamatan, dan kesejahteraan.

Festival Bau Nyale ini menjadi bukti nyata akan sebuah legenda dan tradisi yang mampu menggerakan harmoni alam dan nilai sosial hingga menjadi tradisi yang bernilai antargenerasi.

Festival ini selain menjadi daya tarik wisata ternyata mampu memperkuat pelestarian tradisi sebagai identitas budaya masyarakat Lombok Tengah. Tertarik untuk mengikutinya, Kawan GNFI? 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.