Ada yang menarik dari hasil lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris beberapa waktu lalu. Pertemuannya dengan Raja Charles III pada 21 Januari 2026 menghasilkan beberapa kerja sama strategis, salah satunya di bidang lingkungan.
Salah satu poin penting pertemuan dua pemimpin negara itu adalah komitmen Raja Charles III untuk memperbaiki ekosistem dan memperindah pemulihan 57 taman nasional di Indonesia. Dukungan ini juga sudah berjalan di beberapa lokasi, seperti Way Kambas dan Peusangan Aceh.
Program ini bertujuan untuk melindungi gajah Sumatra dan lingkungannya. Raja mendukung upaya rehabilitasi hutan dan konservasi yang melibatkan masyarakat lokal secara aktif.
Melihat dukungan yang “tak cuma-cuma” dari Raja Charles III, muncul pertanyaan, mengapa ia begitu peduli pada lingkungan, termasuk pada konservasi di Indonesia, mengingat tak begitu banyak pemimpin dunia yang fokus dalam bidang ini?
Raja Charles III, Climate King yang Peduli Lingkungan

Raja Charles yang peduli lingkungan | Royal UK
Charles III sudah mengambil inisiatif besar untuk ikut terlibat dalam pelestarian lingkungan sejak ia masih sangat muda. Pada 1970, di usianya yang masih 21 tahun kala itu, Raja sudah memberikan pidato dan memperingatkan soal bahaya dampak polusi plastik terhadap lingkungan.
Melansir dari abcNEWS, salah satu motivasi terbesar Charles begitu peduli dengan lingkungan adalah untuk memastikan bahwa planet bumi tetap aman bagi generasi mendatang. Semangat ini sudah ia gelorakan sejak lama, jauh sebelum menjadi raja.
Saat masih menjadi Pangeran Wales, sepanjang tahunnya, ia rutin memperingatkan proses destruktif yang merusak bumi. Tak hanya memberikan peringatan, ia juga memberikan contoh dan praktik berkelanjutan yang diterapkan di rumahnya sendiri.
abcNEWS bahkan memberikan highlight khusus kepada Raja Charles III sebagai 1st Climate King alias Raja Iklim Pertama di Britania Raya. Julukan yang diberikan oleh para ahli ini bukan tanpa sebab.
Sang Raja sudah menjadi aktivis lingkungan jauh sebelum muncul istilah “berkelanjutan”. Dituliskan juga jika masyarakat Inggris memandang kecintaan Charles III pada lingkungan sebagai sesuatu yang aneh saat ia memulainya.
Tahun 1980-an, Charles III memiliki beberapa taman di Highgrove House. Di lahan itu, ia menanam tanaman yang dirawat dengan cara yang sangat organik.
Tak hanya itu, lahan tersebut turut dimanfaatkan sebagai habitat bagi burung dan satwa liar. Bahkan, ia sudah memasang panel surya dan mengolah limbah di rumahnya dengan cara disaring.
Seiring berjalannya waktu, dunia semakin modern, Charles III pun semakin vokal mengingatkan risiko perubahan iklim. Ia banyak hadir di forum-forum internasional untuk menyuarakan kegelisahannya itu. Tidak ketinggalan, putra mendiang Elizabeth II ini juga membuka pendanaan di sektor swasta untuk bersama-sama mengatasi keadaan darurat iklim.
Dengan privilese yang dimiliki, Charles seakan tidak pernah lelah untuk menyuarakan kepeduliannya pada lingkungan. Baktinya pada alam ini diturunkan kepada putra pertamanya, Pangeran William, yang sama-sama memiliki ketertarikan di bidang konservasi.
Dukungan Kerajaan Inggris untuk Kelestarian Lingkungan Indonesia
Presiden Prabowo mengungkap jika sebelumnya World Wide Fund for Nature (WWF) pernah mengajukan permintaan agar 10 ribu hektare lahan hutan tanaman industri (HTI) miliknya di Aceh untuk dikelola sebagai kawasan perlindungan gajah. Saat itu, alih-alih memberikan luas tanah yang diminta, ia justru memberikan 20 ribu hektare.
Kabar ini pun terdengar sampai ke Raja Charles yang pernah menjabat sebagai Presiden WWF-UK sejak 2011 silam. Sang Raja yang kini mengemban amanah sebagai Pelindung (Patron) WWF-UK itu mengirimkan surat apresiasi kepada Prabowo atas kesediaannya untuk menyerahkan lahan hutannya demi konservasi gajah.
Menariknya, surat Raja Charles III ternyata menggerakkan hati Prabowo untuk memberikan “lebih”. Sebagai respons, ia segera mengambil keputusan untuk menyerahkan 90 ribu hektare lahannya untuk kawasan perlindungan, di mana hanya menyisakan sekitar 8.000 lahan dari total luas HTI yang ia miliki.
Lahan tersebut kini akan dimanfaatkan untuk area konservasi. Namun, tidak seluruhnya akan dipakai untuk gajah, karena WWF akan membantu memetakan lahan bagi gajah dan ekosistem lainnya.
Indonesia dan Inggris sudah menjalin kemitraan di bidang lingkungan sejak lama. Total komitmen investasi hijau dan energi sudah mencapai Rp72,7 triliun sejak 2020.
Tahun 2023, Inggris juga menggelontorkan hibah hingga Rp515 miliar ke 11 provinsi untuk mendukung pembangunan rendah karbon.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


