cerita rakyat dari maluku legenda boiratan dan boikiki yang jadi penguasa pertama amahusu - News | Good News From Indonesia 2026

Cerita Rakyat dari Maluku, Legenda Boiratan dan Boikiki yang Jadi Penguasa Pertama Amahusu

Cerita Rakyat dari Maluku, Legenda Boiratan dan Boikiki yang Jadi Penguasa Pertama Amahusu
images info

Cerita Rakyat dari Maluku, Legenda Boiratan dan Boikiki yang Jadi Penguasa Pertama Amahusu


Legenda Boiratan dan Boikiki adalah salah satu cerita rakyat dari daerah Maluku. Legenda ini berkisah tentang pengembaraan Boiratan dan anaknya, Boikiki yang kelak menjadi penguasa pertama Negeri Amahusu.

Bagaimana kisah dalam legenda Boiratan dan Boikiki tersebut?

Cerita Rakyat dari Maluku, Legenda Boiratan dan Boikiki

Disitat dari artikel Ester Haumahu, "Boiratan dan Boikiki" dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, dikisahkan pada zaman dahulu di Kepulauan Banda, ada seorang raja bernama Lawataka dan istrinya Mulika Nyaira Banda Toka. Sang raja memiliki enam orang anak laki-laki dan seorang perempuan.

Anak perempuan Lawataka bernama Boiratan. Sebenarnya mereka juga menjaga anak dari Raja Sahulau.

Namun ketika Raja Sahulau meninggal, anaknya kembali ke Seram untuk menggantikan sang ayah. Masalah muncul tidak lama dari kepergian anak Raja Sahulau tersebut.

Boiratan tiba-tiba hamil. Hal ini tentu memunculkan kegaduhan di antara enam saudara laki-lakinya yang saling menuding sudah menghamili Boiratan.

Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu hingga Boiratan melahirkan. Boiratan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Boikiki.

Tepat ketika Boikiki berusia satu tahun, keenam pamannya kemudian duduk membuat lingkaran dan meletakkannya di tengah. Saudara laki-laki Boiratan akan melihat jika Boikiki mendekat ke salah satu dari mereka, maka dialah ayah dari anak tersebut dan akan membunuhnya.

Boiratan meminta agar anaknya dibunuh. Bahkan dia sudah memohon kepada kedua orang tuanya.

Namun tidak ada yang bisa menghentikan hal tersebut. Setelah menunggu sekian lama, Boikiki hanya asik berputar-putar di tengah, sehingga anggapan mereka tidak terbukti adanya.

Meskipun Boikiki sudah berhasil selamat, Boiratan tidak merasa nyaman lagi tinggal di sana. Pada suatu malam, dia menyiapkan sebuah padewakang atau perahu dan membawa Boikiki berlayar meninggalkan kampungnya.

Boiratan berlayar menuju ke Negeri Sahulau. Sebab anak dari mendiang Raja Sahulau inilah yang merupakan ayah dari Boikiki.

Sesampainya di sana, Boiratan langsung menemui Raja Sahulau. Dia memperlihatkan Boikiki, putranya dan meminta sang raja untuk menikahinya.

Namun permintaan tersebut ditolak oleh Raja Sahulau. Dia tidak bisa menikahi Boiratan, sebab kekuasaan ayahnya tidak sebesar Negeri Sahulau.

Boiratan tentu kecewa mendengarkan jawaban tersebut. Dirinya kemudian membawa Boikiki ke perahunya dan kembali melanjutkan perjalanan.

Boiratan berlayar menuju ke sebuah tempat di Negeri Latuhalat. Dia menyusuri pantai yang ada di sana, mulai dari Tanjung Nusaniwe, Labuhan Seilale, hingga Eri.

Setelah berlayar cukup lama, sampailah Boiratan dan Boikiki di sebuah tempat yang bernama Batu Pasang-Pasang atau Batu Anyo-Anyo.

Mereka tinggal di sebuah bukit yang ada di antara Gunung Nona dan Gunung Tola. Boiratan menancapkan sebuah bambu sesampainya di sana.

Bambu tersebut terus tumbuh hingga saat ini. Bambu tersebut dikenal dengan nama bambu suanggi.

Daerah tersebut kemudian diberi nama Armahusi. Armahusi ini merupakan daerah lama dan menjadi asal usul Negeri Amahusu kelak.

Boiratan memiliki sebuah gelar, yakni Boiratan Timbang Tanah. Di Negeri Armahusi inilah Bokiki tumbuh menjadi pria perkasa.

Seiring berjalannya waktu, Boiratan merasa Negeri Armahusi sering diganggu oleh banyak musuh. Dirinya kemudian memutuskan untuk memerangi lawan-lawannya ini.

Boiratan meminta bantuan pada Arusi, sebuah kampung yang ada di tanjung Nusaniwe. Mereka kemudian mengirimkan Kapitan Sounusa dan Kapitan Samajotu untuk membantu Boiratan dan Boikiki.

Berkat bantuan tersebut, Boiratan dan Boikiki berhasil menghalau semua musuh yang datang. Akhirnya Negeri Armahusi kembali aman dan tentram.

Boikiki kemudian menikah dengan anak dari Kapitan Leinussa. Setelah menikah, dia ingin mencari wilayah baru untuk anak keturunannya.

Akhirnya Boikiki dan istrinya turun ke daerah pantai. Mereka memutuskan untuk menetap di sebuah negeri antara Waiila dan Wailia.

Kelak negeri ini kemudian dia beri nama Amahusu. Kata "Ama" berarti "Bapak". Sementara itu, kata "Husu" diartikan sebagai "Belajar menyusur.

Bokiki kemudian diangkat menjadi raja pertama Amahusu dan mendapatkan gelar "Latuwakang" yang berarti raja yang datang dengan padewakang atau perahu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.