benarkah kita makin dekat pada perang dunia iii - News | Good News From Indonesia 2026

Benarkah Kita Makin Dekat pada Perang Dunia III?

Benarkah Kita Makin Dekat pada Perang Dunia III?
images info

Benarkah Kita Makin Dekat pada Perang Dunia III?


Gawat! Dunia sedang gawat. Semua cemas. Sangat cemas. Di mana-mana orang bicara soal kemungkinan meletusnya Perang Dunia III.

Saya membaca tulisan Presiden RI ke-6, Pak SBY, di akun X beliau baru-baru ini. Beliau yang ahli geopolitik itu, mengaku sangat khawatir. Menurut beliau, situasi dunia saat ini memiliki banyak kemiripan dengan situasi menjelang Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang. Pembangunan kekuatan militer besar-besaran di semua kekuatan dunia. Geopolitik yang benar-benar panas.

Beberapa hari lalu, salah satu karyawan saya kirim WA kepada saya. "Mas, apakah benar Perang Dunia III itu sudah di depan mata?"

Saya pun merenung. Mencoba melihat sejarah. Saya sangat menyukai sejarang Perang Dunia II, dan memang, da pola yang berulang. Menjelang 1939 dulu, dunia melihat munculnya aliansi-aliansi kekuatan militer yang kaku. Ada perlombaan senjata yang gila-gilaan. Ada ambisi "imperialisme baru" untuk mencaplok wilayah demi harga diri nasional.

Sekarang? Mirip sekali.

Coba lihat retorika Donald Trump soal Greenland atau penggunaan kekuatan militer untuk menekan dan menyerang Venezuela. Lihat bagaimana Putin memacu produksi rudal hipersonik dan menguji "Flying Chernobyl" Burevestnik yang jangkauannya diklaim tanpa batas. Lalu lihat China yang makin agresif melakukan "dress rehearsal" blokade di Selat Taiwan.

Tentu saja, semua merasa benar dengan tindakannya. Semua merasa harus memperkuat diri. Persis seperti tahun 1930-an. Saat itu, Liga Bangsa-Bangsa tidak berdaya. Sekarang pun PBB seolah hanya bisa menonton. Tak berdaya sama sekali melihat AS, Rusia, Israel melakukan tindakan apa saja. 

Di Timur Tengah, situasinya sudah bukan lagi soal gertak sambal. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel benar-benar sudah mencapai titik didih. Iran secara terbuka menyatakan bahwa mereka jauh lebih siap tempur dibanding saat konflik Juni 2025 lalu. Mereka mengklaim punya stok uranium yang cukup besar. Insentif mereka untuk benar-benar "go nuclear" justru makin tinggi karena merasa terdesak.

Di sisi lain, Amerika Serikat yang merasa tak terkalahkan dan bisa melenyapkan musuh musuhnya dengan cepat, kini punya opsi militer yang sangat kuat. Kapal-kapal perang dan jet tempur sudah dalam posisi siaga. Israel pun sama. Militer mereka berada dalam status waspada tinggi. Masalahnya, Iran punya "kartu mati" di Selat Hormuz. Jika mereka merasa terancam, mereka bisa saja memblokade selat itu. Padahal seperlima pasokan minyak dunia lewat di sana. Satu saja salah hitung. Satu saja miscalculation. Meledaklah kawasan itu menjadi medan tempur yang menyeret semua kekuatan besar.

Lalu geser ke Eropa. Suasananya tidak kalah mencekam. Negara-negara Baltik seperti Estonia, Latvia, dan Lithuania kini benar-benar waswas. Mereka melihat Rusia bukan lagi sebagai tetangga yang sulit, tapi sebagai ancaman eksistensial yang nyata. Rusia sudah mulai melakukan uji coba rudal hipersonik dan pelanggaran ruang udara di Polandia hingga Romania.

Saking takutnya, negara-negara ini sampai mengambil langkah ekstrem. Mereka mulai menarik diri dari perjanjian ranjau darat internasional. Padahal itu perjanjian kemanusiaan yang sangat penting. Tapi bagi mereka, ranjau adalah cara tercepat membentengi perbatasan. Mereka bahkan mulai membangun apa yang disebut sebagai "sabuk rawa" atau Baltic bog belt. Mereka sengaja menciptakan lahan-lahan basah dan rintangan alam untuk menahan laju tank-tank Rusia. Retorika perang di sana sudah pada level yang belum pernah kita lihat sejak Perang Dingin berakhir.

Kalau sampai perang nuklir pecah. Habis kita.

Pakar jurnalis investigatif Annie Jacobsen menilai kehancuran global bisa terjadi dalam waktu sangat singkat. Rudal ICBM dari Rusia hanya butuh 26 menit untuk sampai ke Amerika. Dalam hitungan jam, miliaran orang bisa tewas. Belum lagi dampak nuclear winter. Debu nuklir akan menutup matahari. Sangat lama. Suhu bumi anjlok drastis. Produksi pangan akan lumpuh total.

Lalu, di mana posisi kita? Di mana posisi Indonesia?

Beruntung kita punya prinsip politik luar negeri "Bebas Aktif". Kita tidak ikut blok mana pun. Kita tidak punya musuh permanen di tingkat global. Lokasi kita juga relatif jauh dari pusat kekuatan nuklir utama di belahan bumi utara.

Para analis internasional menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling aman jika perang dunia pecah. Bersama negara-negara seperti Selandia Baru, Swiss, dan Islandia. Kita punya kekayaan sumber daya alam yang melimpah untuk bertahan hidup secara mandiri.

Tapi, jangan salah. Aman bukan berarti kebal.

Jika dunia hancur karena perang nuklir. Rantai pasok global akan putus. Ekonomi akan runtuh. Efek radiasi dan perubahan iklim ekstrem tidak akan mengenal batas negara. Kita mungkin selamat dari ledakan bom, tapi mampukah kita selamat dari kelaparan global?

Maka, tidak ada jalan lain. Dunia harus menahan diri. PBB harus bergerak seperti usul Pak SBY agar ada sidang darurat. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa pemimpin dunia hanya "tidur berjalan" menuju jurang kehancuran.

Kita boleh merasa aman karena posisi geografis. Tapi sebagai sesama penghuni bumi. Kita harus tetap berharap agar akal sehat para pemimpin dunia tetap menyala.

Karena dalam perang nuklir. Tidak ada pemenang. Yang ada hanya siapa yang mati lebih dulu. Dan siapa yang tersisa untuk meratapi akhir dari peradaban manusia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.