pulau run di maluku ternyata pernah ditukar dengan manhattan di amerika serikat bagaimana ceritanya - News | Good News From Indonesia 2026

Pulau Run di Maluku Ternyata Pernah “Ditukar” dengan Manhattan di Amerika Serikat, Bagaimana Ceritanya?

Pulau Run di Maluku Ternyata Pernah “Ditukar” dengan Manhattan di Amerika Serikat, Bagaimana Ceritanya?
images info

Pulau Run di Maluku Ternyata Pernah “Ditukar” dengan Manhattan di Amerika Serikat, Bagaimana Ceritanya?


Pulau Run atau Rhun adalah sebuah pulau kecil di gugusan Kepulauan Banda. Pulau ini merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Meskipun kecil, Pulau Run pernah menjadi primadona. Pulau ini menjadi “harta” yang begitu berharga di era VOC dahulu.

Pulau yang diberkati dengan sumber daya alam nan melimpah ini menghasilkan buah pala yang saat itu dianggap sangat berharga, lebih dari emas. Saking berharganya, Belanda sampai rela menukarkan Pulau Manhattan di Amerika Serikat yang saat itu dikuasainya dengan Pulau Run di Maluku yang mungil.

Mengapa Pulau Run Ditukar dengan Pulau Manhattan?

Awalnya, Pulau Run dikuasai oleh Inggris, sementara Belanda membawahi pulau lain yang bernama Nieuw Amsterdam di Amerika Serikat. Sebenarnya, wilayah di Kepulauan Banda sudah banyak dikuasai Belanda, kecuali Pulau Run yang waktu itu masih dikuasai Inggris.

Keberadaan Inggris itu jelas mengancam dominasi Belanda yang saat itu memang termashyur berkat perdagangan rempah yang diambil dari Nusantara. Demi mencomot Pulau Run, Belanda pun berperang dengan Inggris dalam kurun waktu yang lama sejak di tahun 1600-an.

Keduanya akhirnya berhenti berperang setelah menyepakati perjanjian sekaligus kesepakatan untuk saling menukar pulau atau disebut juga dengan tukar guling. Pertukaran pulau ini tertuang dalam Perjanjian Breda yang ditandatangani pada 1667.

Salah satu kesepakatan yang diperoleh dari perjanjian itu adalah Belanda berhak atas Pulau Run di Maluku serta Suriname. Sementara itu, Inggris mendapatkan Nieuw Amsterdam alias Pulau Manhattan yang jauh lebih luas dibanding Pulau Run.

baca juga

Lalu, apa alasan Belanda kekeuh ingin menukar Nieuw Amsterdam dengan Pulau Run?

Melalui jurnal De Jure tulisan Siti Alisah dan Collin Adi Pratama, tujuan utama Belanda ingin menukarkan Pulau Run dengan Nieuw Amsterdam adalah karena kekayaan sumber daya alamnya. Saat itu, buah pala hanya ada di Kepulauan Banda, termasuk Pulau Run.

Pala menjadi buah yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan era sekarang, bisa jadi nilainya serupa dengan mineral penting seperti nikel, emas, sampai batu bara.

Aslinya, sebelum menjadi rebutan Inggris dan Belanda, pedagang Melayu, Tiongkok, dan India sudah lebih dulu datang ke Kepulauan Banda. Mereka sudah melakukan jual-beli dengan masyarakat setempat sebelum bangsa Eropa datang.

Pala-pala asal Banda itu dijual ke kota-kota bandar perdagangan, seperti Malaka dan Calcuta di India. Dari dua tempat itu, buah tersebut dikirim ke Eropa oleh para pedagang Arab.

Sesampainya di Eropa, harga setengah kilogram pala bisa setara dengan tujuh lembu jantan gemuk. Diperkirakan jika harga pala saat sudah memasuki pasar Eropa bisa naik 60 ribu kali lipat dibandingkan harga belinya di Kepulauan Banda.

Mungkin Kawan bertanya-tanya, kenapa Eropa sangat “terobsesi” dengan pala? Jawabannya adalah karena mereka percaya jika pala memiliki segudang manfaat yang baik, seperti meningkatkan vitalitas dan dipakai untuk bahan pengawet. Pala bisa membantu mengawetkan bahan makanan masyarakat Eropa, khususnya bangsawan dan borjuis agar tidak lekas basi.

Hilangnya Popularitas Pala dan Bersinarnya Manhattan

Pada abad ke-17, Kepulauan Banda mencapai kejayaan dalam hal produksi pala. VOC mendapatkan banyak sekali keuntungan dari hasil monopoli awasan tersebut.

Sayangnya, kejayaan pala Kepulauan Banda di tangan VOC tidak langgeng. Di akhir abad ke-18, permintaan pala di Eropa mulai menurun. Ditambah lagi, di masa itu banyak sekali terjadi peyelewengan di tubuh VOC, menyebabkan kondisi keuangan organisasi itu tidak stabil.

Di sisi lain, sebagian pala dan rempah yang dibawa Eropa itu ada yang diselundupkan dan ditanam di wilayah lain hingga tumbuh, termasuk di Zanzibar. Perlahan, Pulau Run pun seakan mulai terlupa.

Berbeda dengan Pulau Run yang mulai kehilangan “kelap-kelipnya”, Nieuw Amsterdam justru sebaliknya. Kawasan itu diubah menjadi kota komersil dan jasa yang menguntungkan, bahkan sampai saat ini. Inggris juga mengubah namanya menjadi New York.

Saat ini, pala masih menjadi komoditas unggulan di Pulau Run. Ada bekas bangunan peninggalan penjajah yang digunakan untuk mengasapi pala di masa lalu. Pengasapan dilakukan agar buah pala lebih awet.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.