menakar langit hindia sejarah panjang pencatatan hujan indonesia sejak abad ke 18 - News | Good News From Indonesia 2026

Menakar Langit Hindia: Sejarah Panjang Pencatatan Hujan Indonesia Sejak Abad ke-18

Menakar Langit Hindia: Sejarah Panjang Pencatatan Hujan Indonesia Sejak Abad ke-18
images info

Menakar Langit Hindia: Sejarah Panjang Pencatatan Hujan Indonesia Sejak Abad ke-18


Pemerintah Kolonial Belanda ternyata cukup perhatian dengan kondisi cuaca dan iklim di Hindia Belanda. Bahkan tatacara pengamatan unsur cuaca dan iklim tertentu masih merupakan standar pengamatan dari Belanda.

Dimuat dari Climate4life.info, Belanda sudah melakukan pengamatan cuaca dan iklim sejak tahun 1841. Walau berdasarkan pendapat dari Surjadi Wh, sebelum tahun itu sudah ada pengamatan cuaca dan iklim.

“Misalnya data pengamatan cuaca dan iklim meliputi suhu dan tekanan atmosfer di Jakarta yang dilakukan oleh nakhoda kapal yang sedang berlabuh di Jakarta pada Januari 1758,” jelasnya.

“Kemudian perhitungan hari hujan di Jakarta tahun 1778, pengamatan badai di Laut Banda, pengamatan cuaca laut oleh vessels Gouverments Marine Jakarta pada 2 April 1778,” lanjut Surjadi.

Dr. Onnen tercatat sebagai orang yang melakukan pengamatan meteorologi pertama di Indonesia yaitu pada 16 September 1841. Pengamatan cuaca dan iklim tersebut dilakukan pada sebuah tempat pengamatan khusus pada rumah dinas Dr. Onnen.

Dr Onnen yang merupakan seorang dokter militer tercatat sebagai orang pertama yang melakukan penelitian tentang cuaca dan iklim di Hindia Belanda. Pria yang menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit di Bogor bersama asistennya melakukan penelitian di pintu kiri kebun penelitian Bogor.

“Lokasi pengamatan terletak di sebelah kiri pintu masuk Kebun Raya Bogor dengan koordinat 108⁰ 47’ 54.8” BT and 6⁰ 36’ 9.00” LS. Elevasi tempat pengamatan diperkirakan 252-283 m di atas permukaan laut.”

Mencatat data hujan di Hindia Belanda

Pemerintah kolonial kemudian mendirikan Observatorium Magnet Bumi dan Meteorologi Batavia Pengamatan meteorologi pada 1866. Dr. P. A. Bergsma lalu ditunjuk sebagai direkturnya.

Gagasan pembentukan lembaga yang fokus untuk mengamati iklim sebenarnya berasal dari Baron A. v. Humboldt di tahun 1856. Dia mendorong pentingnya melihat fenomena magnetik dan meteorologi di daerah Tropis sebagaimana yang ada di India dan Australia.

Usai beroperasi, lembaga ini melakukan pengamatan tiap jam. Dr. Bergsma dalam buku laporan observasi "Batavia Magnetisch en Meterologisch Observatorium" volume 1 yang terbit tahun 1871 menggambarkan situasi kegiatan yang dilakukannya yang menjadi sejarah pengamatan cuaca dan iklim di Indonesia sebagai berikut:

Gedung pengamatan terletak di pinggiran selatan kota Batavia berjarak 6,8 km dari pantai dengan elevasi 7 meter di atas permukaan laut. Dikelilingi kebun yang luas mencapai 20ribu meter persegi yang berisi pohon dan semak belukar.

Gedung utama terdiri dari aula ditengahnya dengan 5 ruangan di sisinya. Aula dan 3 ruangan digunakan oleh para pegawai dan ruang lainnya digunakan keperluan Dr. Bregsma.

Termometer dan psychrometer diletakkan pada sebuah saung berdinding bambu dengan atap rumbia di bagian barat dari gedung utama. Karena masih terdapat pohon-pohon maka anemometer di letakkan pada atap gedung pemerintah lainnya yang berjarak 1,44 km dari gedung pengamatan utama.

Koordinat lokasi pengamatan adalah : Lintang : 60 11’ 0 LS Bujur : 7 jam 7 menit 19 detik BT dari Greenwich Personil yang melakukan pengamatan adalah Dr. Bergsma sendiri dibantu 7 orang jawa pribumi sebagai asisten. 

Pengamatan tiap jam dilakukan para asistennya sedang pengamatan magnet bumi oleh Dr. Bergsma. Hasil pengamatan "Batavia Magnetisch en Meterologisch Observatorium" ternyata cukup menarik karena melihat perbedaan yang menyolok pada pola cuaca di Batavia yang beriklim tropis dengan iklim di Eropa.

Mencatat curah hujan di kepulauan Hindia Belanda

Pada tahun 1879 Dr. Bergsma berhasil mengorganisasikan suatu sistem pengamatan curah hujan di seluruh kepulauan yang menjadi titik baru sejarah pengamatan cuaca dan iklim di Indonesia. Tinggi penakar hujan tersebut adalah 1,2 m dari permukaan tanah dengan diameter corong sebesar 12 cm.

Penakar hujan dapat menampung hingga curah hujan sebesar 275 milimeter. Data hujan yang terkumpul dari stasiun-stasiun pengamat hujan dikompilasi dalam kartu hujan.

Dr. Bergsma kemudian mengorganisasikan suatu sistem pengamatan curah hujan di seluruh kepulauan yang sejak itu secara teratur dilanjutkan. Dengan cara tersebut dapat dikumpulkan data hujan dari 95 lokasi yang berasal dari: 55 tempat di Jawa 22 tempat di Sumatra, 2 tempat di Bangka, 1 tempat di Biliton, 8 tempat di Borneo (Kalimantan), 4 tempat di Selebes (Sulawesi), 1 tempat di Amboina (Ambon), 1 tempat di Banda, 1 tempat di Ternate. 

Berdasarkan catatan Surjadi, sampai tahun 1878 jaringan pengamatan bertambah menjadi 74 stasiun di Jawa dan 44 di luar Jawa. Jumlah ini terus bertambah di mana awal tahun 1884 menjadi 90 stasiun di Jawa dan 77 di luar Jawa.

Dia mengatakan sampai tahun 1900 stasiun pengamatan hujan telah bertambah mencapai 225 lokasi. Pada 1880 buku yang berisi kompilasi data pengamatan hujan dari tempat-tempat pengamatan tersebut untuk pertama kali diterbitkan.

“Buku tersebut terbit sebanyak 22 volume mencakup data curah hujan Indonesia hingga tahun 1900.”

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.