kisah mbah derwak penunggu curug sawer bukan sekadar dongeng tentang makhluk gaib - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Mbah Derwak Penunggu Curug Sawer, Bukan Sekadar Dongeng tentang Makhluk Gaib

Kisah Mbah Derwak Penunggu Curug Sawer, Bukan Sekadar Dongeng tentang Makhluk Gaib
images info

Kisah Mbah Derwak Penunggu Curug Sawer, Bukan Sekadar Dongeng tentang Makhluk Gaib


Di kaki Gunung Guntur, tempat tanah dan langit seolah saling berbisik dalam bahasa purba, masyarakat tua percaya bahwa alam tidak pernah benar-benar sunyi. Setiap batu menyimpan ingatan, setiap aliran air mengandung pesan yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang mau mendengar dengan batin.

Di sanalah Curug Sawer berada bukan sekadar air terjun yang memecah bebatuan, melainkan simpul sakral tempat manusia, alam, dan yang tak kasatmata saling menjaga jarak dan keseimbangan.

Dalam cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, Curug Sawer dikenal sebagai wilayah pamali, bukan karena keangkeran semata, melainkan karena di sanalah bersemayam Mbah Derwak, penunggu yang menjaga harmoni antara niat manusia dan kehendak semesta.

Dalam pandangan masyarakat Sunda lama, sebagaimana diwariskan melalui tutur, simbol, dan laku hidup, gunung bukanlah benda mati. Gunung dipahami sebagai tubuh kosmis ibu sekaligus guru yang memiliki kehendak, perasaan, dan batas-batas yang harus dihormati.

Gunung Guntur, dalam kerangka ini, bukan ruang untuk ditaklukkan, melainkan ruang untuk disapa. Pandangan semacam ini sejalan dengan pemikiran Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi (1987) yang menegaskan bahwa masyarakat tradisional membangun relasi simbolik dengan alam sebagai bagian dari sistem nilai dan tata kehidupan mereka.

Oleh sebab itu, setiap sudut Gunung Guntur diyakini memiliki “isi”, dan Curug Sawer dianggap sebagai pusat napasnya titik temu antara dunia manusia dan kekuatan tak kasatmata.

Dalam kisah-kisah yang beredar, Mbah Derwak digambarkan bukan sebagai sosok jahat atau penghuni angker yang gemar mencelakai manusia. Ia justru tampil sebagai figur tua yang menyatu dengan alam: rambutnya digambarkan menjuntai seperti akar beringin, kulitnya menyerupai batu basah, dan sorot matanya memantulkan cahaya senja.

Ia bukan pemburu korban, melainkan penjaga batas. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, figur semacam ini dikenal sebagai penjaga wilayah, makhluk antara yang berfungsi menjaga keseimbangan kosmos agar manusia tidak melampaui kodratnya.

Pandangan ini sejalan dengan konsep folklor yang dijelaskan oleh James Danandjaja dalam Folklor Indonesia (1984), bahwa makhluk-makhluk mitologis kerap berfungsi sebagai simbol kontrol sosial yang bekerja melalui rasa hormat dan takut yang terinternalisasi.

Curug Sawer sendiri tidak dipahami sebagai air terjun biasa. Ia diposisikan sebagai puseur cai, pusat kehidupan, tempat energi alam berputar dan menyebar. Suara airnya dipercaya sebagai bahasa alam kadang lembut seperti nasihat seorang sepuh, kadang keras seperti teguran seorang guru.

Oleh karena itu, masyarakat lama mewariskan sejumlah pantangan: tidak datang dengan niat merusak, tidak berkata kasar, dan tidak memandang tempat itu semata sebagai objek wisata.

Pelanggaran terhadap pantangan ini bukan dianggap mengundang hukuman fisik, melainkan menciptakan ketidakseimbangan batin. Dalam keyakinan lokal, ketika seseorang kehilangan harmoni batin, maka alam pun seakan menutup dirinya.

Lereng Gunung Guntur Garut (Foto: dokumen penulis)

Salah satu kisah yang kerap diceritakan ulang berkisah tentang seorang pemuda yang datang dengan niat menantang. Ia menertawakan larangan, menganggapnya tak lebih dari cerita untuk menakut-nakuti anak kecil.

Ia melangkah ke Curug Sawer tanpa permisi, suaranya riuh memantul di dinding batu. Namun semakin jauh ia melangkah, semakin asing suasana di sekitarnya. Jalan yang tadi lurus terasa berputar, udara menebal, dan waktu seolah melipat dirinya sendiri. Dalam situasi itu, logika tak lagi berfungsi sebagai penuntun.

Di saat itulah Mbah Derwak memperlihatkan kehadirannya bukan dalam rupa menyeramkan, melainkan sebagai pengalaman batin. Rasa berat di dada, ketakutan tanpa sebab, dan kesepian yang menekan menjadi bentuk “teguran halus”.

Dalam kepercayaan masyarakat, inilah cara alam berbicara. Bukan untuk melukai, melainkan untuk menyadarkan. Pemuda itu akhirnya tersungkur, bukan karena diserang, tetapi karena egonya runtuh di hadapan kekuatan yang tak bisa diukur dengan nalar manusia.

Ketika ia ditemukan keesokan harinya oleh warga, tubuhnya selamat, tetapi cara pandangnya berubah. Ia tak lagi berbicara lantang. Ia hanya berkata bahwa gunung itu “hidup” dan tidak suka ditantang.

Kisah ini kemudian berulang dari mulut ke mulut, bukan sebagai cerita horor, melainkan sebagai pelajaran tentang tata krama kosmis bahwa manusia hidup berdampingan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.

Dalam kerangka antropologi simbolik, seperti dikemukakan Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1973), makna budaya tidak terletak pada peristiwa itu sendiri, melainkan pada tafsir kolektif yang dibangun masyarakat terhadapnya.

Dalam konteks budaya Sunda, kisah Mbah Derwak berfungsi sebagai sarana pendidikan moral. Mitos bekerja bukan untuk menipu, melainkan untuk membentuk kesadaran kolektif agar manusia tidak rakus, tidak pongah, dan tidak memosisikan diri sebagai pusat semesta.

Mbah Derwak menjadi simbol kontrol sosial sekaligus spiritual, penjaga keseimbangan antara hasrat manusia dan etika ekologis yang diwariskan secara turun-temurun.

Curug Sawer pun akhirnya tidak dijaga oleh pagar besi atau papan larangan, melainkan oleh kesadaran bersama. Orang-orang datang dengan menundukkan kepala, berbicara pelan, dan menjaga sikap.

Mereka percaya bahwa selama niat baik dijaga, alam akan membuka dirinya dengan ramah. Namun jika kesombongan datang lebih dahulu, alam akan menutup pintunya tanpa suara, tanpa amarah, tetapi dengan ketegasan yang tak terbantahkan.

Dalam kerangka antropologis yang lebih luas, kehadiran Mbah Derwak menunjukkan bagaimana masyarakat membangun relasi simbolik dengan lingkungannya. Gunung tidak ditaklukkan, tetapi diajak berdialog.

Air tidak dieksploitasi, tetapi dihormati. Cerita menjadi medium pewarisan nilai, dan mitos menjadi jembatan antara rasionalitas manusia dan misteri alam yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh ilmu modern.

Hingga kini, ketika kabut turun dan suara air mengalun seperti napas panjang, masyarakat masih percaya bahwa Mbah Derwak sedang berjaga. Bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas.

Mereka yang memahami hal ini akan pulang dengan ketenangan; mereka yang lupa akan belajar melalui pengalaman yang tak selalu dapat diterjemahkan dengan kata-kata.

Dengan demikian, kisah Mbah Derwak bukan sekadar dongeng tentang makhluk gaib, melainkan cermin hubungan manusia dengan alam dalam pandangan budaya Sunda. Ia hidup sebagai folklore sebagaimana dijelaskan oleh Danandjaja (1984) yang tidak menuntut kepercayaan mutlak, tetapi menawarkan kebijaksanaan.

Di Curug Sawer, legenda itu terus bernapas, mengalir bersama air, menjaga keseimbangan antara keberanian dan kesadaran, antara langkah manusia dan kehendak semesta.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.