Masih banyak sejarah bangsa ini yang belum diketahui oleh warganya, karena jarang sekali kita menengok kembali pada bab yang terlupakan.
Namun, justru di sanalah kita menemukan sisi lain perjalanan bangsa kita, sisi yang tak hanya membantu menjelaskan bagaimana Indonesia tumbuh, tetapi juga bagaimana bangsa ini merespons pergulatan ideologi dunia.
Salah satu bab yang jarang dibahas itu adalah kehadiran gerakan dan partai-partai bernuansa fasisme di Indonesia, terutama di Pulau Jawa pada era 1930-an hingga awal 1940-an.
Mungkin sebagian Kawan GNFI bertanya-tanya, apakah benar Indonesia pernah memiliki partai fasis? Bukankah fasisme identik dengan Jerman oleh Hitler atau Italia oleh Mussolini?
Nyatanya, catatan sejarah menunjukkan bahwa fasisme bukan hanya fenomena di Eropa. Ia juga pernah hadir walau tidak lama di Hindia Belanda, menyusup lewat politik kolonial, dan bahkan melahirkan partai bumiputera yang terang-terangan membawa nama fasis.
Fenomena ini muncul di permukaan. Pada awal abad ke-20, dunia tengah dilanda persaingan ideologi besar: liberalisme, sosialisme, komunisme, hingga fasisme.
Di Hindia Belanda, khususnya Pulau Jawa yang menjadi pusat politik dan pendidikan kolonial, ideologi-ideologi ini berbaur, bersaing, sekaligus membentuk arah pergerakan nasional. Di sinilah cerita menarik tentang fasisme di Indonesia bermula.
Masuknya Fasisme ke Hindia Belanda
Fasisme mulai berkembang kuat sejak 1920-an di Eropa. Ketika Belanda sebagai negara induk terseret pengaruh Nazisme, gelombang ideologi ini pun sampai ke Hindia Belanda.
Salah satu jalurnya adalah NSB (Nationaal-Socialistische Beweging), partai fasis Belanda yang kemudian membuka cabang di koloni mereka.
NSB kebanyakan beranggotakan orang Belanda dan Eropa, bukan pribumi. Namun pengaruhnya besar. Pada pertengahan 1930-an saja, jumlah anggotanya di Hindia Belanda diperkirakan mencapai lebih dari 12.000 orang, jumlah yang tergolong besar untuk sebuah partai politik kolonial.
Mereka mempropagandakan ide kemurnian ras Belanda dan pentingnya Hindia Belanda tetap berada di bawah kekuasaan negara induk.
Meski jelas tidak berpihak pada kepentingan pribumi, kehadiran NSB secara tidak langsung membuka ruang baru bagi para aktivis bumiputera dan memberi ruang untuk mengamati, mempelajari, dan kemudian mengadaptasi unsur-unsur ideologi fasis, tentu dengan warna dan kepentingan yang berbeda.
Lahirnya Partai Fasis Indonesia
Di tengah dinamika itu, muncullah tokoh bernama Dr. R.P. Notonindito, seorang priyayi Jawa lulusan Barat yang pernah bergabung dengan PNI bentukan Soekarno.
Ia terinspirasi oleh sentralisasi dan disiplin ala Hitler serta Mussolini, sekaligus dipengaruhi romantisme sejarah Jawa seperti Majapahit dan Mataram.
Pada 1933, ia mendirikan Partai Fasis Indonesia (PFI), satu-satunya partai pribumi yang secara lugas menggunakan istilah fasis.
Namun PFI bukan sekadar meniru model Eropa. Ia memadukan unsur nasionalisme etnis Jawa, kebanggaan sejarah, dan gagasan negara modern.
Notonindito membayangkan Indonesia sebagai semacam federasi kerajaan dengan kepemimpinan Jawa sebagai pusatnya.
Sayangnya, gagasannya ini langsung menuai tentangan dari banyak pihak, terutama PNI. PFI pun dibubarkan dalam tahun yang sama.
Walau singkat, kemunculan PFI menandai bahwa ideologi fasis sempat menjadi bagian dari eksperimen politik Indonesia pra-kemerdekaan.
Parindra dan Gerindo: Menyerap Fasisme, tetapi jadi Nasionalis
Selain PFI, dua organisasi lain yang sering dikaitkan dengan nuansa nasionalis-sosialis ialah:
- Parindra (Partai Indonesia Raya)
- Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia)
Keduanya bukan partai fasis, tetapi mengadopsi pola organisatoris yang menyerupai fasisme yaitu terpusat, disiplin, dan nasionalistik. Bedanya, kedua partai ini jelas berpihak pada kemerdekaan Indonesia, bukan kolonialisme seperti NSB.
Parindra
Didirikan melalui penggabungan Boedi Oetomo, Persatuan Bangsa Indonesia, dan sejumlah organisasi kedaerahan, Parindra dipimpin oleh Dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo.
Parindra tumbuh cepat. Anggotanya naik drastis dari sekitar 4.600 pada 1937 menjadi hampir 20.000 orang pada 1941. Partai ini berorientasi pada persatuan nasional, tetapi tetap kooperatif dengan pemerintah kolonial demi ruang gerak politik yang aman.
Gerindo
Gerindo tampil lebih keras secara ideologis. Dipimpin tokoh-tokoh seperti Mohammad Yamin, Amir Syarifuddin, dan Sanusi Pane, Gerindo menempatkan diri sebagai partai yang anti-fasis global (terutama Jepang dan Jerman) tetapi tetap nasionalistik.
Menariknya, kedua partai ini kemudian menjadi bagian penting dari GAPI (Gabungan Politik Indonesia) koalisi besar partai nasionalis yang pada 1939 mulai menggagas ide besar seperti Indonesia berparlemen.
Walaupun ideologi fasis kemudian dipandang negatif pasca-Perang Dunia II, tidak dapat dipungkiri bahwa jejak ideologi ini ikut membentuk arah pemikiran beberapa tokoh nasional.
Pengaruhnya menyebar dalam wacana persatuan, konsep negara kuat, dan imajinasi Indonesia sebagai entitas geopolitik modern.
Sejarah fasisme di Indonesia memang bukan kisah yang sering didengar. Namun menengok bab ini membantu Kawan GNFI melihat bahwa perjalanan bangsa tak selalu berlangsung linear dan bersih dari gesekan ideologi dunia.
Ketika dunia kini kembali diwarnai polarisasi politik, memahami bagaimana bangsa ini pernah berhadapan dengan fasisme, bahkan menciptakan partai fasis sendiri. Justru melalui perjalanan yang rumit inilah Indonesia menemukan identitasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


