menapak jejak batavia di museum fatahillah - News | Good News From Indonesia 2026

Menapak Jejak Batavia di Museum Fatahillah

Menapak Jejak Batavia di Museum Fatahillah
images info

Menapak Jejak Batavia di Museum Fatahillah


Kawasan Kota Tua Jakarta sejak lama menjadi magnet bagi para pecinta sejarah, khususnya mereka yang tertarik menelusuri jejak awal pembangunan Jakarta. Deretan bangunan bersejarah yang berdiri di kawasan ini menampilkan arsitektur khas Eropa yang tidak dapat dilepaskan dari latar belakang sejarah Batavia pada masa kolonialisme Belanda.

Gaya bangunan tersebut tidak hanya mencerminkan estetika Eropa pada zamannya, tetapi juga menjadi saksi bisu dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang pernah berlangsung di pusat kekuasaan kolonial Hindia Belanda itu.

Museum Fatahillah merupakan salah satu destinasi menarik untuk menelusuri jejak sejarah perkembangan dan pembangunan Kota Jakarta. Museum ini tidak hanya menyimpan berbagai koleksi peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang edukatif yang menghadirkan narasi perjalanan Jakarta sejak era Batavia hingga menjadi ibu kota modern seperti saat ini.

Melalui bangunan bersejarah dan koleksi yang dipamerkan, pengunjung diajak memahami dinamika sosial, politik, dan budaya yang membentuk wajah Jakarta dari masa ke masa. Museum Fatahillah berada di Jalan Taman Fatahillah Nomor 1, Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat.

Museum Fatahillah pertama kali didirikan pada abad ke-17 dan difungsikan sebagai Balai Kota Batavia yang menjadi pusat administrasi pemerintahan kolonial Belanda. Dalam perjalanan sejarahnya, gedung ini mengalami berbagai perubahan fungsi, mulai dari pengadilan, kantor pencatatan sipil, hingga markas militer.

Setelah melewati masa panjang dengan beragam peran tersebut, pada tahun 1974 bangunan bersejarah ini secara resmi dialihfungsikan menjadi museum yang menyajikan perjalanan sejarah dan kebudayaan Kota Jakarta.

Dikutip dari traveloka.com, penamaan “Fatahillah” diambil dari tokoh pahlawan asal Demak yang berjasa merebut wilayah Batavia dari kekuasaan Portugis. Saat ini, Museum Fatahillah tidak hanya berperan sebagai tempat penyimpanan artefak dan peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi publik dan ruang rekreasi sejarah. Melalui koleksi dan narasi yang disajikan, museum ini menjadi sarana penting bagi masyarakat untuk mengenal dan memahami akar sejarah Jakarta secara lebih mendalam.

Pada masa kekuasaan VOC di Batavia, bangunan yang kini dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta awalnya difungsikan sebagai gedung balai kota atau Stadhuis. Pembangunan balai kota baru dimulai pada 27 April 1626 atas prakarsa Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier (1623–1627).

Gedung tersebut kemudian mengalami renovasi pada 25 Januari 1707 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan penyelesaiannya baru rampung pada 10 Juli 1710 di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck.

baca juga

Selain berperan sebagai balai kota, gedung ini juga memiliki beragam fungsi lain, antara lain sebagai pengadilan, kantor catatan sipil, tempat ibadah bagi warga pada hari Minggu, serta pusat Dewan Kotapraja (College van Scheppen). Pada periode 1925–1942, bangunan ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sementara pada masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945 digunakan sebagai kantor pengumpulan logistik Dai Nippon.

Dilansir dari asosiasimuseumindonesia.org, pada tahun 1952, gedung tersebut beralih fungsi menjadi Markas Komando Militer Kota (KMK) I yang kemudian dikenal sebagai Kodim 0503 Jakarta Barat. Selanjutnya, pada tahun 1968 bangunan ini diserahkan kepada Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan akhirnya ditetapkan sebagai museum pada tahun 1974.

Sejak tahun 1999, Museum Sejarah Jakarta dirancang tidak lagi semata-mata sebagai ruang penyimpanan dan pameran benda-benda peninggalan masa kolonial. Museum ini diarahkan untuk menjadi ruang publik yang inklusif, tempat masyarakat luas dapat memperkaya pengetahuan sekaligus pengalaman tentang sejarah Kota Jakarta, serta menikmati museum sebagai sarana rekreasi edukatif.

Melalui berbagai penyajian informasi yang lebih kreatif, museum ini berupaya menampilkan perjalanan panjang Jakarta sejak masa prasejarah hingga era modern. Selain itu, beragam kegiatan yang bersifat interaktif dan rekreatif terus diselenggarakan guna menumbuhkan kesadaran publik akan pentingnya pelestarian warisan budaya.

Saat memasuki ruang-ruang Museum Fatahillah, penulis dibuat terkesan oleh kekayaan koleksi yang dipamerkan. Sebagian besar koleksi tersebut merupakan peninggalan masyarakat Belanda yang pernah bermukim di Batavia sejak awal abad ke-16, seperti mebel, perabot rumah tangga, senjata, keramik, peta, hingga buku-buku lama.

Dilansir dari jakartatourism.go.id, seiring perkembangan waktu, koleksi museum juga dilengkapi dengan berbagai replika yang menggambarkan perjalanan sejarah Kota Jakarta sejak masa Batavia, peninggalan kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, temuan arkeologis di wilayah Jakarta, serta beragam batu prasasti. Secara keseluruhan, museum ini menyimpan sekitar 23.500 koleksi, baik berupa benda asli maupun replika, yang dapat diakses oleh pengunjung.

baca juga

Secara arsitektural, Museum Fatahillah terdiri atas satu bangunan utama yang diapit oleh dua sayap di sisi timur dan barat, serta bangunan pendukung yang dahulu difungsikan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang digunakan sebagai penjara. Halaman museum ditata dengan susunan konblok dan dilengkapi sebuah kolam berkubah dengan desain yang unik, menambah kesan historis sekaligus estetis bagi pengunjung.

Di halaman depan museum, pengunjung juga dapat menjumpai Meriam Si Jagur yang ikonik, patung Dewa Hermes, serta akses menuju ruang bawah tanah yang terkenal sebagai tempat penahanan para pejuang bangsa pada masa kolonial.

Berdasarkan pengalaman penulis, Museum Sejarah Jakarta layak dikunjungi, baik yang memiliki ketertarikan khusus pada sejarah maupun yang ingin memperluas wawasan mengenai perjalanan dan warisan Kota Jakarta. Melalui kunjungan ini, pengunjung dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang masa lalu Jakarta dan signifikansinya dalam sejarah Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.