sate tuna menjadi primadona baru kuliner nusantara - News | Good News From Indonesia 2026

Sate Tuna menjadi Primadona Baru Kuliner Nusantara

Sate Tuna menjadi Primadona Baru Kuliner Nusantara
images info

Sate Tuna menjadi Primadona Baru Kuliner Nusantara


Strategi Kota Gorontalo dalam memperkenalkan kekayaan kulinernya memang tak pernah gagal. Lewat Sate Tuna, wilayah ini dapat menawarkan kuliner khas baru yang mampu sejajar dengan ketenaran sate ayam atau kambing dari tanah Jawa.

Kehadirannya menjadi simbol bagaimana masyarakat Gorontalo berhasil memodernisasi cara mereka mengelola kekayaan ekosistem lautnya.

Dahulu, tuna mungkin hanya bisa dinikmati dalam bentuk makanan sederhana seperti Ikan Bakar atau Woku, tapi kini selera masyarakat telah bergeser ke arah yang lebih kekinian. Masyarakat mulai mencari cara yang lebih praktis, elegan, dan berkesan serta berbeda dari kuliner lainnya untuk menikmati hasil laut.

Tekstur tuna Gorontalo yang padat dan segar sering disebut sebagai "daging dari laut" memberikan sensasi rasa yang hampir mirip dengan daging sapi namun dengan kadar lemak yang jauh lebih sehat.

Inilah titik balik di mana kuliner lokal bertemu dengan kesadaran kesehatan modern. Hal tersebut menjadi keunggulan dari makanan ini. Jika masyarakat mencoba sate tuna ini, mereka akan merasakan sensasi makanan elegan tanpa melupakan kearifan lokal hingga pastinya bergizi baik untuk kesehatan.

Modernitas sate tuna tidak hanya terletak pada bahan bakunya, tetapi juga pada adaptasi rasa baru. Dulu, bumbu sate mungkin hanya sebatas dabu-dabu iris atau bumbu kacang standar. Kini, kita melihat berbagai eksperimen dan komponen baru:

  • Penggunaan rempah khas Gorontalo yang dikombinasikan dengan teknik marinasi modern agar bumbu meresap hingga ke serat terdalam ikan. Sate Tuna yang telah dipanggang kemudian dapat dinikmati terpisah dengan dabu-dabu arang ataupun bisa juga dicampur langsung sebelum dihidangkan. Bagian terenaknya ada di bumbu rica bawang yang pedas dan menjadi kesatuan yang mantap! Campuran cabai merah, bawang, kunyit, dan jeruk nipis ini akan meresap sampe ke dalam daging tunanya. Pas dibakar, aromanya wangi dan khas menggugah selera penikmatnya.
  • Penggunaan arang tempurung kelapa yang memberikan aroma smoky khas, sebuah teknik tradisional yang kini dikemas secara higienis dan profesional untuk skala industri rumah tangga.
  • Sate tuna kini merambah kafe-kafe estetik, tidak lagi hanya ditemukan di warung pinggir jalan, hal tersebut menjadikannya komoditas yang "naik kelas".

Dengan adanya keunikan dalam kuliner ini berdampak pada berbagai sektor. Inovasi ini adalah bentuk perlawanan kreatif terhadap ketergantungan pada komoditas mentah. Dengan mengubah tuna menjadi sate, masyarakat memberikan nilai tambah pada hasil tangkapan nelayan. Ini bukan lagi soal menjual ikan per kilogram, tapi menjual pengalaman rasa yang khas.

Sate tuna telah menjadi pusat perhatian pariwisata. Wisatawan yang berkunjung ke Gorontalo kini merasa belum lengkap jika belum mencicipi sate tuna. Ini membuktikan bahwa inovasi kuliner mampu menggerakkan siklus ekonomi kreatif dari hulu (nelayan) hingga ke hilir (pedagang sate dan sektor pariwisata) wilayah Gorontalo.

Tentu, inovasi ini harus dibarengi dengan keberlanjutan. Menjaga kualitas kesegaran tuna dan standarisasi rasa adalah tantangan bagi para pelaku UMKM di Gorontalo. Hal itu tidak mudah, maka perlu adanya promosi kuliner unik ini di berbagai titik wilayah Gorontalo. Jika kita ingin sate tuna dikenal secara nasional bahkan internasional seperti Rendang, maka pengemasan dan narasi pemasaran digital harus semakin diperkuat.

Sate tuna dapat menunjukkan bukti nyata bahwa masyarakat Gorontalo tidak tertinggal dalam menghadapi modernitas dalam sektor kulineran. Mereka tidak melupakan identitasnya sebagai masyarakat pesisir, melainkan memodifikasi dengan cara-cara baru yang lebih relevan dengan kekayaannya. Sate tuna bukan hanya soal mengenyangkan perut semata, tapi soal kebanggaan lokal dan inovasi sederhana para masyarakat Gorontalo.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DG
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.