Katanya, Jakarta cuma butuh gerimis biar lebih romantis. Namun, lagi-lagi hujan selalu datang dengan cara yang sama di hari ini. Jalanan yang biasanya bergerak cepat berubah menjadi barisan kendaraan yang saling menunggu hanya dalam ritme singkat.
Pada titik-titik tertentu, air menggenang, mesin kendaraan tersendat, dan kemacetan tumbuh seperti simpul yang sulit diurai. Musim hujan kembali menguji Jakarta sebagai kota yang sedang menata dirinya menuju predikat global.
Di Jakarta, setiap hujan deras datang dalam waktu yang lama, kemacetan seolah menjadi konsekuensi otomatis. Genangan mempersempit ruang gerak kendaraan, sementara volume lalu lintas tetap tinggi.
Di ruas-ruas jalur utama, satu kendaraan mogok cukup untuk menciptakan antrean panjang yang menjalar ke mana-mana. Hal ini berdampak pada waktu yang terbuang, emosi yang meningkat, hingga produktivitas kota yang menurun.
Kita ketahui bersama bahwa Jakarta sudah cukup lama bercita-cita menjadi kota yang kompetitif, inklusif, dan berdaya saing global.
Namun, kota global tidak cukup diukur hanya dari skyline atau agenda internasional saja. Hal ini perlu dilihat juga tentang bagaimana Jakarta bergerak saat hujan turun, dan memastikan warganya tetap sampai tujuan dengan selamat.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta intensif melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem dan dampak banjir, terutama di tengah musim hujan yang tak menentu.
Melalui BPBD DKI Jakarta, sejak pertengahan Januari 2026, OMC digelar selama beberapa hari untuk mitigasi risiko hujan lebat yang dapat memicu genangan dan banjir di beberapa wilayah Jakarta.
OMC menjadi bagian dari strategi mitigasi hidrometeorologi untuk melindungi warga dan infrastruktur kota. Langkah ini dinilai lebih efisien dalam menekan risiko bencana dibandingkan dampak kerugian yang ditimbulkan jika banjir terjadi.
Sementara itu, pemerintah mengajak masyarakat untuk menggunakan transportasi publik sebagai langkah antisipatif menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi kemacetan di musim hujan. Namun, kenyataannya transportasi publik di Jakarta tidak selalu menyelesaikan permasalahan.
Bahkan, keadaannya memburuk ketika hujan datang. Halte semakin padat antrean, kapasitas Busway yang dipaksakan penumpang memenuhi ruang-ruang moda kendaraan, dan kedatangannya yang jauh lebih lama dari biasanya.
Transportasi publik di Jakarta sangat membutuhkan adanya pembenahan. Aksesibilitas, kapasitas, kenyamanan, dan keterhubungan antarwilayah harus menjadi prioritas. Layanan transportasi yang terintegrasi sebaiknya tidak hanya di pusat kota, melainkan menyeluruh hingga wilayah pinggir Jakarta dan daerah penyangga.
Tanpa pemerataan akses, ketergantungan pada kendaraan pribadi akan terus berulang, dan ajakan kepada publik hanya akan terdengar seperti slogan ala pemerintah saja.
Tidak sedikit pekerja yang terjebak berjam-jam di tengah kemacetan, menyaksikan waktu berjalan lebih cepat dibanding pergerakan kendaraan. Ada yang akhirnya memilih menetap sementara di kantor, atau menunggu hujan mereda. Sebagian lainnya tetap berjuang pulang dengan segala cara, mulai dari berdesakan di transportasi umum, memilih berjalan kaki melewati trotoar yang licin dan berbahaya, atau berpindah banyak moda di tengah cuaca yang tidak bersahabat.
Betapa melelahkannya menjadi pekerja Jakarta di musim hujan.
Ketika hujan turun bertepatan dengan waktu pergi/pulang kerja, ruang pilihan bagi warga Jakarta seakan menyempit. Banyak dari kita yang akhirnya bertahan, menunggu, atau memaksakan diri pada perjalanan di tengah risiko dan kelelahan yang kian menumpuk.
Ketika peringatan dini hujan lebat dan potensi genangan yang seringkali disampaikan pemerintah, muncul harapan agar kebijakan bekerja menjadi lebih fleksibel.
Pemberlakuan Kebijakan Work From Anywhere (WFA) saat terjadi hujan seharusnya dapat dipertimbangkan Pemprov DKI Jakarta lebih serius ketika cuaca ekstrem diperkirakan akan terjadi.
Kebijakan seperti ini menjadi langkah mitigasi untuk mengurangi kepadatan mobilitas, menekan risiko kecelakaan, dan menjaga keselamatan warga.
Di sisi lain, kita juga perlu aktif memantau perkembangan kondisi melalui aplikasi JAKI untuk memperoleh informasi terkini terkait genangan, banjir, maupun gangguan layanan lainnya. Jika keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segera, kita dapat menghubungi Call Center Jakarta Siaga di nomor 112.
Kesiapsiagaan menjadi kunci penting di tengah cuaca ekstrem. Selain memantau kondisi terkini, sebaiknya kita perlu untuk membekali diri dan keluarga dengan perlengkapan sederhana seperti payung, jas hujan, serta tas siaga bencana saat beraktivitas.
Jakarta selalu menuntut daya tahan ekstra saat hujan turun tanpa kompromi. Harapan akan kebijakan WFA di tengah cuaca ekstrem bukan soal kenyamanan bekerja saja, melainkan simbol bahwa negara turut hadir dan memahami beban keseharian warganya.
Ketika hujan kembali mengguyur dan kemacetan mengular, setidaknya warga Jakarta tidak merasa menghadapi semuanya sendirian karena adanya kebijakan yang berpihak, informasi yang mudah diakses, dan kesadaran bersama bahwa kemanusiaan harus selalu menjadi prioritas utama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


