peringatan isra mikraj dan narasi ekologis dari kementerian agama ri - News | Good News From Indonesia 2026

Peringatan Isra Mikraj dan Narasi Ekologis dari Kementerian Agama RI

Peringatan Isra Mikraj dan Narasi Ekologis dari Kementerian Agama RI
images info

Peringatan Isra Mikraj dan Narasi Ekologis dari Kementerian Agama RI


“Shalat yang dilakukan secara benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial dan ekologis.”

Demikian yang disampaikan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar dalam pesannya menyambut peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw. 1447 Hijriah/2026 di Jakarta, Kamis 16 Jan 2026 sebagaimana dilaporkan oleh sejumlah portal.

Kawan, sebagaimana kita ketahui, setiap tahun umat Islam memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw. Umumnya umat Islam mengisi momentum ini dengan berbagai amalan-amalan ibadah, seperti shalat sunnah, membaca Al-Quran, istighfar, dan lain sebagainnya.

Melalui peristiwa Isra Mikraj itulah, Allah memberikan perintah sholat lima waktu, yang selanjutnya menjadi sistem fundamental dalam tata peribadatan umat Islam.

baca juga

Namun, pada momentum kali ini, Kementerian Agama melempar diskursus narasi ekologis, dengan mengusung tema “Pesan Ekoteologi dalam Peristiwa Isra Mikraj.”

Pertanyaannya, adakah peristiwa perjalanan suci Nabi Muhammad Saw. ini dengan isu perubahan iklim adalah sebuah cocokologi yang dipaksakan? Ataukah ini sebuah urgensi yang selama ini terabaikan?

Isra Mikraj Bukan Sekedar Perjalanan Spiritual

Haekal, dalam bukunya Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw, menuturkan bahwa saat itu Nabi diliputi banyak kedukaan karena kehilangan dua orang yang melindunginya, yaitu istrinya Khadijah, dan pamannya Abu Thalib. Dengan demikian, gangguan dari musuhnya (Quraisy) semakin menjadi-jadi.

Nabi mencoba mencari dukungan ke Thaif (kota tetangga Mekkah), tetapi mendapatkan penolakan yang kejam, bahkan dilempari batu. Di Mekkah, Nabi tidak ada perlindungan dan dakwah kepada kabilah di luar Mekkah banyak yang menolak.

Kedukaan, keterpurukan, dan ancaman kegagalan itulah yang membayangi Nabi. Dalam suasana batin yang demikian, Allah berkenan memberikan anugerahnya dengan memperjalankannya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dilanjutkan ke Sidratul Muntaha.

Setelah perjalanan itu, dakwah Nabi memang tetap berat. Namun, kesulitannya itu seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan kebenaran dan kebesaran Tuhan yang dirasakan Nabi secara langsung.

Nabi tidak berdiam diri, terus bergerak, dan tanda kemenangan itu datang dari Yatsrib (Madinah) suku Aus dan Khazraj, yang sekelompok orangnya memeluk Islam.

baca juga

Di tahun selanjutnya, Yastrib menjadi tempat hijrah Nabi, dan menjadi titik balik keberhasilan dakwah Islam.

Maka, Isra Mikraj lebih dari sekedar perjalanan vertikal ke atas. Dia punya dampak signifikan secara horizontal terhadap perubahan sosial masyarakat. Sebagaimana sholat yang diharapkan tidak hanya berdimensi ibadah ritual, tetapi berdampak terhadap kesalehan sosial pelaksananya.

Tugas Memakmurkan Alam

Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah fil ardh, yang secara harfiah adalah pengganti, atau wakil-Nya di bumi. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah Jilid 1 menyebutkan bahwa kekhalifahan menunjukkan adanya wewenang dan amanah yang dianugerahkan Tuhan serta wilayah tempat bertugas, dalam hal ini adalah Bumi.

Maka jelaslah bahwa kelestarian alam, kelestarian Bumi menjadi salah satu tanggung jawab manusia. Namun bagaimanakah keadaan Bumi hari ini? 

Bencana yang terjadi di Aceh dan Sumatera beberapa waktu lalu, menjadi bukti konkret betapa kerusakan hutan akibat deforestasi nyata terjadi. Degradasi lingkungan karena alih fungsi lahan untuk perkebunan, tambang, maupun pemukiman tanpa perhitungan analisis mendalam adalah sebagian kecil kelalaian manusia.

Masih banyak orang-orang yang membuang sampah sembarangan di sungai-sungai, selokan, pantai, yang kemudian mencemari laut dan pantai.

Belum lagi soal polusi udara, pemanasan global, dan krisis iklim lainnya. Intinya, Bumi sedang tidak baik-baik saja, menuntut tanggung jawab manusia sebagai pengelolanya.

Menuju Kesalehan Ekologis

Narasi ekologis yang disampaikan Kemenag dalam peringatan Isra Mikraj tidak hanya urgent, tetapi menjadi upaya strategis untuk menjawab persoalan lingkungan. Di tengah ancaman perubahan iklim, menyentuh dimensi religius masyarakat Indonesia adalah salah satu cara efektif untuk membangun kesadaran ekologis.

Bahwa menjaga alam adalah amanah Illahiah. Setiap muslim bertanggung jawab terhadap kelestarian alam.

Sebagaimana ditegaskan Menteri Agama, dalam laporan berita ANTARA, bahwa "Menjadi khalifah berarti menjaga amanah, bukan menguasai bumi secara serakah. Karena itu, Isra Mikraj layak menjadi momentum pertobatan ekologis. Berhenti merusak, mulai merawat, dan menghadirkan rahmat bagi alam semesta."

baca juga

Menurutnya, krisis lingkungan yang dihadapi saat ini menuntut hadirnya kesalehan yang utuh, yakni kesalehan yang tidak hanya tercermin dalam ketaatan beribadah. Namun, juga dalam sikap menjaga keseimbangan alam dan menggunakan sumber daya secara bijaksana.

Peristiwa Isra Mikraj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual sejatinya tidak berhenti di langit, tetapi harus berdampak nyata di bumi. Kesalehan tidak lagi diukur hanya dari seberapa sering kita melakukan umrah, tetapi juga dari seberapa peduli kita terhadap jejak karbon yang kita tinggalkan.

Mereka yang hanya sujud panjang di dalam masjid. Namun, membiarkan lingkungannya hancur, berarti telah melalaikan tugas kekhalifahannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.