menilik broken strings relasi yang keliru antara cinta perempuan dan kebebasan - News | Good News From Indonesia 2026

Menilik Broken Strings: Relasi yang Keliru antara Cinta, Perempuan, dan Kebebasan

Menilik Broken Strings: Relasi yang Keliru antara Cinta, Perempuan, dan Kebebasan
images info

Menilik Broken Strings: Relasi yang Keliru antara Cinta, Perempuan, dan Kebebasan


Belakangan ini, publik dikejutkan dengan rilisnya sebuah ebook berjudul Broken Strings karya Aurelie Moeremans, seorang aktris yang selama ini dikenal lewat layar. Namun, ternyata ia memendam luka yang disimpan rapi selama belasan tahun.

Lewat buku ini, Aurelie tidak sedang mencari simpati, ia justru membuka ruang pengakuan. Tentang cinta, hubungan, dan kekerasan yang seringkali disamarkan dalam bentuk kasih sayang. 

Aurelie tidak menulis cinta sebagai kisah manis bak dalam sebuah dongeng, ia justru menuliskannya apa adanya. Ia menggambarkan cinta sebagai sebuah ruang yang rapuh, tidak stabil, dan justru membahayakan.

Dalam Broken Strings, baginya cinta bukanlah tempat untuk berlindung, melainkan titik di mana perempuan dipaksa perlahan kehilangan dirinya sendiri. Ini bukan cerita yang asing, justru ini terlalu dekat dengan realitas banyak perempuan.

baca juga

Broken Strings merupakan potret struktural tentang bagaimana perempuan sering ditempatkan dalam relasi yang timpang. Posesif disebut perhatian, kontrol disebut kecemburuan, manipulasi emosional disamarkan atas asas kepedulian, rasa bersalah sengaja ditanamkan agar perempuan terus merasa kurang, seperti berhutang. 

Cinta yang katanya romansa, pelan-pelan berubah menjadi jebakan yang haus akan mangsa. Perempuan ditarik masuk, dibuat percaya, lalu ditinggalkan dalam kondisi yang sudah tidak lagi utuh.

Berkali-kali ditipu, dilukai, dan dipaksa memeluk pilu, hingga diselimuti rasa malu yang padahal bukan miliknya. Ia memilih membisu, bukan karena tidak sakit, melainkan karena dunia yang terlalu menyedihkan karena tak pernah benar-benar menjadi ruang aman bagi perempuan.

Dunia tak pernah benar-benar menyediakan tempat untuk perempuan bersuara tentang hal pahit yang paling menyakitkan. Ia hidup seperti makhluk yang keberadaannya diakui, tetapi lukanya selalu diragukan. 

Dalam Broken Strings, luka yang ditulis Aurelie tidak berdiri sendiri. Ia adalah pantulan dalam pengalaman kolektif. Tentang bagaimana perempuan seringkali terluka dalam hubungan, yang kemudian diminta memaklumi luka itu seolah bagian normal dari mencintai.

Kisah tersebut menjadi semakin pahit karena ini merupakan kenyataan bahwa kekerasan dalam hubungan seringkali hadir secara perlahan, dimulai dari perhatian yang berlebihan, berubah menjadi kontrol, lalu menembus batas-batas yang semakin menyempit. 

Yang lebih menyedihkan, hingga hari ini, masih hampir tidak ada ruang yang benar-benar aman bagi perempuan. Perempuan hidup selalu dalam kondisi waspada yang kronis. Dari cara berpakaian, cara berbicara, cara menolak, cara tersenyum, cara tertawa, hingga cara mencintai, semuanya diawasi, dihakimi, dan dipolitisasi.

baca juga

Ketika kekerasan terjadi, perempuan akan tetap kembali diposisikan sebagai pihak yang harus menjelaskan, membuktikan, dan bertahan.

Ketahanan dipuja, tetapi perlindungan dilupakan. Kekuatan dirayakan, sementara sistem yang gagal melindungi nyaris tak pernah dipertanyakan. 

Broken Strings menjadi pengingat bahwa luka seperti ini tidak lahir dari kelemahan personal, melainkan ia tumbuh perlahan atas asas dalam hubungan yang keliru dan sistem yang hingga kini enggan berpihak.

Kenyataan pahit yang juga menyakitkan ialah perempuan harus terus membuktikan luka mereka agar dipercaya. Harus kembali menyusun ulang ingatan, mengingat detail kecil yang justru paling menyakitkan, hanya untuk meyakinkan dunia bahwa sakit yang mereka ucap itu nyata, bukan ilusi semata.

Broken Strings bukan hanya perihal kisah patah hati setelah putus dari kekasih. Melainkan ini merupakan peringatan, bahwa cinta yang seharusnya melindungi, justru menjadi pisau paling tajam untuk melukai. 

Pada akhirnya, cinta tidak seharusnya menjadikan seseorang kehilangan dirinya sendiri. Seharusnya cinta dapat menjadi tempat aman untuk pulang, bukan justru menjadi ruang penghakiman.

Cinta menjadi perlindungan, bukan penyebab hadirnya rasa takut akibat terlalu banyaknya ancaman yang dilontarkan. Hingga sampai dunia benar-benar mampu menghadirkan ruang aman itu, suara-suara seperti yang tertulis dalam Broken Strings akan terus menjadi penting, sebagai pengingat bahwa luka ini ada, benar adanya, nyata, dan tidak boleh lagi dianggap biasa. 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AG
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.