bongkar tiang monorel untuk penataan kembali wajah jakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Bongkar Tiang Monorel untuk Penataan Kembali Wajah Jakarta

Bongkar Tiang Monorel untuk Penataan Kembali Wajah Jakarta
images info

Bongkar Tiang Monorel untuk Penataan Kembali Wajah Jakarta


Setiap pagi, di Jalan HR Rasuna Said selalu dimulai dengan ritme yang seragam. Mulai dari deru mesin, barisan kendaraan yang saling berebut ruang, dan waktu yang terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Di tengah kepadatan itu, hadir tiang-tiang monorel yang kokoh dan nirfungsi. Selama hampir dua dekade, struktur tiang ini menjadi bagian dari lanskap kota Jakarta, alih-alih sebagai solusi transportasi, kenyataannya hanya jadi penanda ambisi besar yang pernah tertinggal di masa lalu.

Kini, keputusan untuk membongkarnya menandai satu bab penting dalam upaya Jakarta menata ulang dirinya sebagai kota berkelanjutan berskala global.

Banyak pemberitaan yang beredar bahwa akhirnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk membongkar 109 tiang monorel di kawasan Kuningan dan sepanjang Jalan HR Rasuna Said.

baca juga

Keputusan ini bagian dari strategi penataan kota yang lebih terintegrasi. Anggaran sekitar Rp100 miliar disiapkan tidak hanya untuk membongkar struktur tiang yang mangkrak, tetapi juga untuk menata ulang kawasan dan menciptakan ruang kota yang lebih layak bagi semua pengguna jalan.

Melalui koordinasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, penataan kawasan difokuskan pada koridor sepanjang kurang lebih 3,6 kilometer. Langkah ini termasuk pembenahan menyeluruh ruang jalan, mulai dari pelebaran trotoar yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas, penyesuaian geometrik jalan agar arus lalu lintas semakin tertata, pembangunan halte yang terintegrasi, hingga pembaruan fasilitas penerangan jalan umum.

Proses pembongkaran tiang monorel dirancang secara bertahap dan dilakukan pada malam hari. Pendekatan ini diambil untuk meminimalkan gangguan lalu lintas pada jam-jam sibuk, sekaligus menjaga rasa aman dan kenyamanan bagi para pengguna jalan di tengah aktivitas kota.

Tiang monorel ini selama bertahun-tahun berdiri sebagai “monumen” dari perencanaan yang tidak tuntas. Selain mengganggu estetika kota, pada titik tertentu justru mempersempit ruang gerak sehingga kian menimbulkan rutinitas kemacetan.

Di kawasan Kuningan yang menjadi pusat aktivitas bisnis, diplomasi, dan perkantoran multinasional, “kedatangan” infrastruktur mangkrak ini, yang rasanya begitu kontras dengan citra kota modern yang ingin dibangun oleh Jakarta.

Kota yang bercita-cita elevate to global scale, tentu tidak bisa membiarkan ruang-ruang strategisnya dikuasai oleh simbol kegagalan di masa lalu.

Dalam diskursus kota global, kualitas ruang publik menjadi salah satu tolak ukur utama. Kota-kota di dunia seperti Tokyo, Seoul, atau Singapura tidak hanya berbicara soal megahnya gedung ke gedung, tetapi juga tentang keteraturan ruang, kenyamanan pejalan kaki, dan efisiensi mobilitas.

Jakarta, dengan segala kompleksitasnya sedang berusaha bergerak ke arah tersebut. Pembongkaran monorel mangkrak dapat diartikan sebagai upaya merapikan “etalase” kota dengan menghilangkan elemen yang tidak relevan dan menggantinya dengan ruang yang lebih fungsional.

Penataan ulang kawasan Kuningan pascapembongkaran membuka peluang baru untuk mengubah cara pandang terhadap ruang kota. Jalan tidak lagi semata-mata dipahami sebagai koridor kendaraan bermotor, melainkan sebagai ruang hidup bersama.

baca juga

Trotoar yang layak, jalur penyeberangan yang aman, ruang hijau yang memberi jeda dari kepadatan, serta keterhubungan dengan transportasi publik menjadi elemen penting dalam wajah baru kawasan Rasuna Said.

Langkah tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan penataan kota berkelanjutan yang kini menjadi prioritas Jakarta.

Pembangunan seharusnya memang selalu diukur dari seberapa besar dampaknya terhadap kualitas hidup warga. Rasanya, pembongkaran tiang monorel bukanlah kesia-siaan, melainkan koreksi arah yang seharusnya sudah lebih dulu mendapatkan perhatian. 

Keputusan ini mencerminkan perubahan cara pandang dalam tata kelola perkotaan. Proyek prestisius tanpa keberlanjutan lagi-lagi tidak menjadi tolak ukur sebuah keberhasilan. Fokusnya bergeser pada solusi yang realistis, terintegrasi, dan menjawab kebutuhan riil. 

Tentu, dalam prosesnya tidak semudah melontarkan opini atau komentar-komentar sekilas. Pekerjaan fisik berpotensi menimbulkan gangguan sementara, termasuk kemacetan dan ketidaknyamanan.

Namun, terkadang kita memang perlu mengambil langkah untuk sedikit lebih berani melewati fase transisi. Ketidaknyamanan jangka pendek adalah harga wajar yang harus dikeluarkan demi tata kota yang lebih baik dalam jangka panjang. Kunci dari proses ini adalah konsistensi kebijakan dan komunikasi yang terbuka kepada publik.

Kawasan Kuningan merupakan salah satu wajah Jakarta di mata dunia. Apa yang terlihat di sana mencerminkan bagaimana kota ini mengelola ruang dan warganya.

baca juga

Di tengah lalu lintas yang perlahan diharapkan lebih mengalir dan ruang kota yang mulai bernafas lega, pembongkaran tiang monorel menjadi lebih dari sekadar pekerjaan konstruksi.

Ia adalah simbol perubahan cara berpikir bahwa menjadi kota global butuh mempertimbangkan ruang hidup yang tertata, dan berorientasi pada kualitas kehidupan yang lebih baik bagi yang tinggal dan menetap di dalamnya. 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BL
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.