rumphius dari kebutaan justru melihat alam - News | Good News From Indonesia 2026

George Eberhard Rumphius: Dari Kebutaan Justru Melihat Alam Nusantara Lebih Jauh

George Eberhard Rumphius: Dari Kebutaan Justru Melihat Alam Nusantara Lebih Jauh
images info

George Eberhard Rumphius: Dari Kebutaan Justru Melihat Alam Nusantara Lebih Jauh


Pada abad ketujuh belas, Eropa giat menaklukkan samudera dan memetakan dunia melalui perdagangan dan kolonialisme. Nusantara menjadi pusat perhatian karena rempah, jalur dagang, dan kekayaan alamnya. Namun, di balik kapal bersenjata, hadir ilmuwan yang membawa buku catatan.

George Eberhard Rumphius datang bukan sebagai penakluk wilayah, melainkan penjelajah pengetahuan. Ia memandang alam sebagai sumber pelajaran, bukan sekadar komoditas. Kisahnya relevan bagi generasi muda yang ingin memahami sains sebagai kerja ketekunan. Dari Ambon, ia menunjukkan bahwa ilmu lahir dari rasa ingin tahu mendalam.

Rumphius lahir di Wölfersheim, Jerman, pada 1 November 1627, saat Eropa dilanda konflik besar. Ia memperoleh pendidikan baik berkat latar keluarga teknis dan intelektual. Pada 1652, ia bergabung dengan VOC sebagai tentara dan berlayar ke Batavia.

Setahun kemudian, ia tiba di Ambon, pusat perdagangan rempah Maluku. Lingkungan tropis segera memikat perhatiannya. Alam Ambon sangat berbeda dari Eropa yang ia kenal. Perbedaan itu memicu keinginannya untuk mengamati dan mencatat.

Karier militernya tidak berlangsung lama karena minatnya bukan pada perang. Ia meminta dipindahkan ke bagian sipil dan disetujui VOC. Pada 1656, ia menjadi saudagar di Larike, lalu di Hila. Jabatan itu memberinya mobilitas dan akses ke alam sekitar.

Ia menikahi Susanna, perempuan Ambon keturunan Tionghoa, yang kelak menjadi asistennya. Bersama keluarga, ia mulai mempelajari tumbuhan secara sistematis. Ia mencatat nama lokal, ciri morfologi, dan kegunaan tanaman. Pendekatan ini sejalan dengan tradisi pengamatan langsung, seperti dijelaskan Harold J. Cook.

Sejak awal, Rumphius menempatkan pengetahuan lokal sebagai sumber utama. Ia mendengarkan cerita penduduk tentang khasiat tanaman. Informasi itu ia uji melalui pengamatan dan percobaan sederhana. Ia menulis dalam bahasa Latin, Belanda, Melayu, dan Ambon.

Pendekatan multibahasa ini jarang dilakukan ilmuwan Eropa saat itu. Leonard Blussé menekankan pentingnya peran informan pribumi dalam sains kolonial. Rumphius menjadi contoh kolaborasi lintas budaya. Ilmu baginya adalah kerja bersama, bukan prestasi individual semata.

baca juga

Pada 1670, hidupnya berubah drastis akibat glaukoma. Penglihatannya memburuk hingga akhirnya buta total. Julukan “Si Buta dari Ambon” pun melekat. Namun, kebutaan tidak menghentikan produktivitasnya.

Ia mengandalkan ingatan, perabaan, penciuman, dan pendiktean. VOC tetap menggajinya dan menyediakan juru tulis serta juru gambar. Dukungan ini memungkinkan riset berlanjut. Keterbatasan fisik justru mempertajam ketekunannya dalam bekerja.

Tragedi terbesar terjadi pada 17 Februari 1674. Gempa dahsyat dan tsunami melanda Ambon saat perayaan Imlek. Istri dan putrinya tewas dalam bencana itu. Rumphius mencatat peristiwa tersebut secara rinci dan sistematis.

Catatannya menjadi sumber utama sejarah gempa dan tsunami tertua di Indonesia. Edward A. Bryant menyebut peristiwa ini sebagai megatsunami langka. Laporan Rumphius menunjukkan ketajaman observasi ilmiah di tengah duka mendalam.

Puncak karya ilmiahnya adalah Herbarium Amboinense. Buku ini memuat lebih dari seribu deskripsi tumbuhan tropis. Ia menjelaskan habitat, musim berbunga, dan kegunaan medis tanaman. Rumphius juga mendokumentasikan praktik pengobatan tradisional Maluku. Pendekatan ini mendahului etnobotani modern. E.M. Beekman menegaskan ketelitian dan nilai ilmiah karya tersebut. Ia bahkan menyebut Rumphius sebagai pelopor botani tropis Asia Tenggara.

Selain botani, Rumphius meneliti kerang, mineral, dan fosil laut. Karyanya D’Amboinsche Rariteitkamer membahas keanekaragaman laut Maluku. Buku ini kelak diakui sebagai karya klasik malakologi. George Sarton menyebutnya sebagai sumbangan penting sejarah ilmu alam. Metode observasional Rumphius berbasis pengalaman lapangan. Ia menghubungkan fenomena alam dengan kejadian nyata. Bagi remaja, ini contoh sains yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Namun, karya besar Rumphius tidak langsung diterbitkan. VOC menyensor dan menyimpannya karena alasan ekonomi dan keamanan. Informasi tentang tumbuhan beracun dianggap sensitif. Michael R. Dove menjelaskan ketakutan kolonial terhadap pengetahuan lokal. Naskahnya bahkan sempat terbakar dalam kebakaran Ambon 1687. Rumphius harus menulis ulang dari ingatan. Ketekunannya menunjukkan daya tahan intelektual luar biasa.

Baru pada 1741, Herbarium Amboinense diterbitkan di Belanda, puluhan tahun setelah wafatnya. Penundaan ini membuat karya Linnaeus lebih dulu terkenal. Padahal, Rumphius telah merintis sistem penamaan lebih awal. Anthony Reid menyebut karyanya sebagai harta karun pengetahuan tropis. Seiring waktu, reputasinya pulih dalam sejarah sains global. Ia diakui sebagai “Plinius Indicus” oleh komunitas ilmiah Eropa.

baca juga

Warisan Rumphius terasa dalam tradisi penelitian alam Indonesia. Naturalis seperti Junghuhn dan Dubois melanjutkan semangat observasionalnya. Museum dan arsip ilmiah menyimpan jejak pengaruh tersebut. Pandangannya relevan di era krisis iklim. Ia mengajarkan empati terhadap alam, bukan eksploitasi semata. Alam baginya adalah teks yang harus dibaca dengan hormat.

Membaca Rumphius hari ini berarti membaca ulang sejarah secara kritis. Ia hidup dalam sistem kolonial yang timpang dan penuh kontradiksi. Namun, karyanya melampaui kepentingan zamannya. Fernand Braudel menekankan pentingnya struktur jangka panjang sejarah. Dalam struktur itu, Rumphius memberi sumbangan nyata. Dari Ambon, ia menulis dunia. Dari kebutaan, ia justru melihat lebih jauh.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
BF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.