Furky Syahroni adalah pendaki perempuan Indonesia yang telah dikenal namanya lewat sepak terjangnya. Sosoknya mudah dikenal karena aktivitas naik turun gunung yang dilakukannya dibagikan melalui akun media sosialnya @FurkyTM.
Kehadiran Furky di kancah pendakian nasional membawa napas baru bagi pemberdayaan perempuan. Melalui konten-kontennya, ia menunjukkan bahwa perempuan mampu menghadapi medan berat, cuaca ekstrem, dan beban ransel yang berat dengan manajemen yang tepat. Ia menjadi sosok yang mendorong lebih banyak pendaki wanita untuk berani mengeksplorasi alam tanpa rasa takut, tetapi tetap mengutamakan etika dan keselamatan.
Sebagai pendaki gunung, Furky tentu berharap agar gunung-gunung di Indonesia menjadi tempat wisata populer. Namun, pada saat yang sama ia merasa khawatir dengan kepadatan wisatawan (overtourism) yang bisa berdampak buruk dengan keasrian alamnya.
Overtourism
Wisata ke gunung di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi primadona. Menurut data Bounce yang dilansir kembali oleh GoodStats, Gunung Bromo bahkan menduduki posisi ketiga dalam daftar Taman Nasional Terindah mengalahkan Gunung Fuji, Jepang pada 2023.
Kehadiran wisatawan jelas menjadi berkah bagi pergerakan ekonomi warga setempat. Akan tetapi, jumlah kunjungan yang membludak tentu membawa risiko bagi gunung itu sendiri.
Salah satu risiko adalah sampah. Tidak jarang para pendaki meninggalkan sampah yang membuat kondisi gunung menjadi tak seasri sebelumnya.
Contohnya bisa dilihat dari Gunung Gede Pangrango beberapa bulan lalu di mana karena banyaknya sampah membuat pengelola menutup sementara untuk merehabilitasi jalur pendakian. Furky selaku pendaki gunung rupanya turut menyimpan kekhawatiran akan kepadatan wisatawan yang membawa dampak buruk bagi kondisi gunung di Indonesia.
“Misalnya terjadi overtourism kayaknya harus ditutuplah istilahnya destinasi tersebut. Sekarang ada beberapa destinasi gunung di Indonesia yang udah membludak banget kelihatan dari video viral sampahnya di Rinjani atau Gunung Gede,” ucap Furky kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Kunjungan wisatawan ke gunung terus mengalir tanpa adanya pembatasan. Dampak terkait sampah pun menjadi masalah serius sehingga Furky berharap edukasi lebih digalakkan oleh pihak taman nasional dan warga lokal kepada mereka yang berkunjung.
“Kalau mungkin guide selain mengantar tamunya tolong diberi edukasi, atau mungkin pihak yang mengeluarkan permit taman nasional ataupun warga lokal melakukan peraturan memberi kuota di gunungnya atau pengecekan sampah segala macam. Sekarang yang sering viral aja banyak sampahnya, tapi semoga ke depannya lebih turunlah,” ungkapnya.
Gunung Itu Tidak Adil
Aktivitas mendaki gunung tidaklah mudah terutama bagi orang awam. Dibutuhkan ilmu pengetahuan yang cukup agar pendakian lancar sampai titik puncak. Jika itu belum cukup, tentu rekan perjalanan yang lebih berpengalaman mesti senantiasa mendampingi supaya menghadirkan keamanan dan kenyamanan bagi pendaki pemula.
Namun, bagi pendaki berpengalaman, proses pendakian gunung tidak selamanya mulus. Mereka yang berpengalaman kerap berjumpa dengan tantangan di tengah pendakian sehingga tidak bisa menggapai target yang diinginkan. Furky sendiri pernah merasakan itu sewaktu mendaki gunung di Nepal.
“Saya kemarin baru dari gunung Nepal dan gagal mencapai summit karena sakit penyakit ketinggian AMS (Acute Mountain Sickness) namanya. Dan di situ yang saya pelajari adalah gunung tidak akan melihat niat baik atau kerja keras kita,” ucap Furky.
Furky lantas menilai gunung selalu menghadirkan tantangan yang tidak adil bagi pendaki berpredikat apapun. Menurutnya pendaki dengan perhitungan matang bisa saja gagal menjejakkan kaki di puncak karena sejumlah faktor, entah itu cuaca atau kondisi dari pendaki itu sendiri.
“Di gunung itu enggak ada fair atau unfair. Mereka punya keputusan sendiri. Mereka itu berbahaya. Jadi menurut saya gunung itu enggak adil. Lo mau sebagus papun, perhitungan lo sebagus apapun, tapi itu enggak akan merubah hasil yang nanti pada akhirnya,” katanya lagi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

