Di banyak wilayah di Gorontalo, jagung tidak hanya diperlakukan sebagai hasil pertanian. Ia kerap dibawa saat berkunjung ke rumah kerabat, dibagikan dalam kegiatan gotong royong, atau disisihkan untuk kebutuhan sosial di luar konsumsi keluarga.
Praktik ini masih ditemui di berbagai desa, terutama di kawasan yang menggantungkan hidup pada pertanian jagung.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa jagung memiliki fungsi sosial yang berjalan berdampingan dengan fungsi ekonominya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, pada tahun 2024 luas panen jagung pipilan di Gorontalo mencapai 128,23 ribu hektare dengan total produksi sekitar 625,97 ribu ton jagung pipilan kering (kadar air 14 persen).
Data ini menunjukkan posisi jagung sebagai salah satu komoditas utama sektor pertanian Gorontalo.
Selain menjadi sumber pendapatan petani, jagung juga memengaruhi pola tanam, pembagian kerja rumah tangga, serta aktivitas sosial masyarakat perdesaan.
Jagung dalam Praktik Sosial Sehari-hari
Di tingkat masyarakat, jagung kerap hadir dalam berbagai aktivitas sosial yang berlangsung di luar mekanisme pasar. Salah satu praktik yang masih umum ditemui adalah membawa jagung sebagai buah tangan saat berkunjung ke rumah keluarga atau tetangga.
Bentuknya beragam, mulai dari jagung pipilan kering hingga jagung rebus, tergantung musim dan kondisi hasil panen. Praktik ini tidak diatur secara formal, tetapi dipahami sebagai kebiasaan yang lazim.
Jagung juga digunakan sebagai bahan konsumsi bersama dalam kegiatan gotong royong, seperti membangun rumah, membersihkan lingkungan, atau membantu persiapan acara keluarga.
Dalam konteks ini, jagung dipilih karena mudah diolah, tersedia dalam jumlah cukup, dan dapat dikonsumsi oleh banyak orang. Kehadirannya mendukung kegiatan sosial tanpa menambah beban biaya bagi penyelenggara.
Jagung dan Relasi Antarwarga
Pembagian jagung antarwarga umumnya tidak disertai kewajiban untuk membalas secara langsung. Dalam relasi sosial masyarakat perdesaan Gorontalo, praktik saling memberi ini dipahami sebagai bagian dari menjaga hubungan baik.
Warga yang memiliki hasil panen lebih sering menyisihkan sebagian jagung untuk dibagikan kepada keluarga, tetangga, atau kerabat yang membutuhkan, termasuk mereka yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri.
Dalam kondisi tertentu, jagung berfungsi sebagai cadangan pangan informal. Ketika terjadi kenaikan harga bahan pangan atau pada masa peralihan antarmusim tanam, jagung yang dibagikan antarwarga membantu menjaga ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga.
Fungsi ini memperkuat peran jagung sebagai bagian dari sistem sosial yang mendukung ketahanan komunitas.
Pengelolaan Hasil Panen di Tingkat Keluarga
Di tingkat keluarga petani, pengelolaan hasil panen jagung umumnya dibagi ke dalam beberapa keperluan. Sebagian dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sebagian dikonsumsi sendiri, dan sebagian lagi disisihkan untuk kebutuhan sosial.
Pembagian ini tidak selalu ditentukan dengan ukuran yang pasti, tetapi disesuaikan dengan kondisi panen dan kebutuhan lingkungan sekitar.
Ketika ada tetangga yang mengadakan acara keluarga, mengalami kesulitan ekonomi sementara, atau membutuhkan bantuan pangan, jagung dari simpanan ini sering menjadi pilihan utama. Praktik tersebut masih bertahan di berbagai wilayah perdesaan Gorontalo, meskipun tekanan biaya produksi dan fluktuasi harga pasar semakin meningkat.
Perubahan dan Tantangan
Seiring meningkatnya orientasi pasar dan kebutuhan ekonomi rumah tangga, praktik sosial terkait jagung mengalami penyesuaian. Sebagian petani mengaku harus lebih berhitung dalam menyisihkan hasil panen, terutama ketika biaya produksi naik. Meski demikian, kebiasaan berbagi jagung belum sepenuhnya hilang.
Jagung tetap dipandang bukan hanya sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari mekanisme sosial yang membantu menjaga keseimbangan hubungan antarwarga.
Peran ganda ini menunjukkan bahwa jagung masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Gorontalo, baik sebagai sumber penghidupan maupun sebagai sarana menjaga solidaritas sosial.
Praktik sosial yang melibatkan jagung memperlihatkan bagaimana komoditas pertanian dapat berfungsi lebih luas dari sekadar sumber pendapatan. Di Gorontalo, jagung berperan dalam membangun dan menjaga hubungan sosial, terutama di wilayah perdesaan yang bergantung pada sektor pertanian.
Dalam konteks Gorontalo sebagai sentra produksi jagung nasional, fungsi sosial ini berjalan berdampingan dengan fungsi ekonomi. Ketersediaan jagung memungkinkan masyarakat menyisihkan sebagian hasil panen untuk kebutuhan di luar konsumsi dan penjualan, termasuk sebagai cadangan pangan bagi lingkungan sekitar.
Di tengah perubahan pola produksi dan meningkatnya tekanan pasar, praktik ini memang mengalami penyesuaian. Namun, keberlanjutannya menunjukkan bahwa jagung masih menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat Gorontalo, sekaligus mencerminkan cara masyarakat mengelola sumber daya pertanian secara kolektif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


