belajar dari india selatan bagaimana sinema menjadi alat perubahan sosial dan suara bagi masyarakat yang terpinggirkan - News | Good News From Indonesia 2026

Belajar dari India Selatan: Bagaimana Sinema Menjadi Alat Perubahan Sosial dan Suara bagi Masyarakat yang Terpinggirkan?

Belajar dari India Selatan: Bagaimana Sinema Menjadi Alat Perubahan Sosial dan Suara bagi Masyarakat yang Terpinggirkan?
images info

Belajar dari India Selatan: Bagaimana Sinema Menjadi Alat Perubahan Sosial dan Suara bagi Masyarakat yang Terpinggirkan?


Halo Kawan GNFI, pernahkah menyaksikan gelombang sinema dari India Selatan yang belakangan mengguncang panggung hiburan global? Fenomena budaya tersebut bukan sekadar hiburan semata.

Di balik tarian kolosal dan aksi laga memukau, tersimpan narasi kuat mengenai perlawanan terhadap ketidakadilan struktural. Semangat zaman yang dibawa oleh industri kreatif yang sejalan dengan pemikiran kritis yang terangkum dalam buku Marxist Thought in South Asia: Political Power and Social Theory.

Karya suntingan Kristin Plys, Priyansh, dan Kanishka Goonewardena yang diterbitkan Emerald Publishing pada tahun 2024 tersebut menawarkan kacamata tajam untuk melihat dinamika sosial di negara berkembang.

Buku tersebut menjadi referensi penting guna memahami bagaimana teori sosial yang berakar dari pemikiran Karl Marx, beradaptasi dengan konteks lokal Asia Selatan yang unik, mulai dari sistem kasta, krisis agraria, sampai tantangan neoliberalisme.

Melalui sepuluh bab yang ditulis oleh berbagai penulis ternama, buku tersebut mengupas tuntas bagaimana pemikiran kritis tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi merembes ke dalam nadi kehidupan sehari-hari, termasuk seni dan budaya. A

sia Selatan mengajarkan bahwa media populer dapat berfungsi sebagai corong bagi suara kaum yang sampai sekarang sudah terbungkam.

Sinema sebagai Cermin Realitas Sosial dan Kultural

Buku Marxist Thought in South Asia membuka wawasan mengenai pentingnya adaptasi teori sosial ke dalam konteks lokal. Salah satu poin menarik dalam bab awal buku tersebut adalah pembahasan mengenai kontribusi unik pemikir Asia Selatan terhadap teori kasta dan kolonialisme.

Hal tersebut tercermin jelas dalam sinema India Selatan masa kini. Para sineas tidak ragu mengangkat isu sensitif seperti diskriminasi kasta yang mengakar sehingga luput dari sorotan film arus utama Bollywood. Film bukan lagi sekadar eskapisme atau pelarian dari kenyataan, melainkan menjadi buku teks visual yang mendidik penonton tentang realitas hierarki sosial.

Seperti halnya analisis sosiologis Hamza Alavi yang dibahas dalam bab ketiga buku tersebut mengenai negara pascakolonial dan ikatan kekerabatan, sinema India Selatan kerap membedah struktur feodal yang masih bertahan di pedesaan.

Penonton diajak melihat bagaimana tuan tanah dan penguasa lokal mempertahankan kekuasaan, serta bagaimana masyarakat desa mencoba bertahan hidup di tengah himpitan tersebut. Narasi visual tersebut sejalan dengan semangat kritis untuk membongkar ketimpangan yang ada. Seni peran menjadi media yang sangat efektif untuk menyampaikan kritik sosial tanpa harus terdengar menggurui.

Melalui alur cerita yang emosional, penonton diajak berempati pada penderitaan karakter yang mewakili kelas pekerja atau kelompok minoritas.

Melawan Komodifikasi Melalui Narasi Kemanusiaan

Bagian lain yang sangat relevan dari buku terbitan Emerald Publishing tersebut adalah pembahasan mengenai feminisme dan komodifikasi tubuh perempuan, sebagaimana diulas dalam bab kelima melalui analisis Prison Narratives. Dalam konteks sinema, sering kali perempuan hanya ditempatkan sebagai objek pemanis visual.

Namun, gelombang baru perfilman Asia Selatan mulai mendobrak pakem tersebut dengan menempatkan perempuan sebagai tokoh sentral yang berjuang melawan patriarki dan alienasi sosial. Cerita mengenai ketangguhan perempuan di tengah sistem yang menindas menjadi tema yang semakin dominan.

Lebih jauh lagi, bab keenam buku tersebut memberikan analogi menarik melalui olahraga kriket dan sosok Mohammad Azharuddin. Disebutkan bahwa aksi sang atlet di lapangan berfungsi sebagai reformasi kesadaran yang membangunkan olahraga dari fantasinya sendiri. Logika serupa berlaku pada industri film.

Sinema berkualitas mampu membangunkan masyarakat dari tidur panjang ketidaktahuan. Saat sebuah film mampu mengetuk sensorium atau indra perasa penonton, timbul rasa kagum sekaligus kesadaran baru terhadap isu-isu kemanusiaan. Seni menjadi sarana untuk memanusiakan kembali manusia yang teralienasi oleh sistem ekonomi global yang serba cepat dan menuntut.

Seni Bertahan di Tengah Gelombang Neoliberalisme

Tantangan zaman semakin kompleks dengan hadirnya gelombang neoliberalisme. Buku Marxist Thought in South Asia menyoroti krisis ekonomi dan pemberontakan massa di Sri Lanka pada tahun 2022 sebagai dampak dari kebijakan neoliberal yang diterapkan sejak akhir 1970-an.

Situasi krisis sering kali memicu lahirnya karya seni yang paling jujur dan berani. Bab kesepuluh buku tersebut mencatat bagaimana puisi berevolusi seiring dengan pergolakan politik, mulai dari fase internasionalisme sampai respons terhadap kejatuhan partai politik kiri.

Senada dengan hal tersebut, sinema di Asia Selatan juga berevolusi menjadi alat dokumentasi sejarah yang mencatat kegelisahan publik. Ketika krisis ekonomi melanda, seni tidak mati. Justru seni menemukan bentuk barunya sebagai media protes dan penyemangat.

Para seniman menggunakan kamera dan naskah untuk menyuarakan keresahan akibat kenaikan harga, pengangguran, dan korupsi. Keberanian mengangkat tema berat inilah yang membuat industri film sangat dihormati. Publik tidak dianggap sebagai konsumen pasif yang hanya butuh hiburan ringan, melainkan sebagai warga negara yang cerdas dan peduli pada nasib bangsanya.

Relevansi dan Refleksi bagi Perfilman Indonesia

Indonesia memiliki banyak kemiripan dengan negara-negara di Asia Selatan. Sebagai sesama negara berkembang dengan sejarah agraria yang kuat dan tantangan kesenjangan sosial yang nyata, bangsa tersebut sedang menghadapi dinamika serupa.

Buku Marxist Thought in South Asia mengingatkan pembaca terhadap pentingnya memiliki kerangka berpikir kritis dalam menghadapi masalah global seperti ketimpangan ekonomi dan bencana ekologis. Semangat yang sama perlu ditumbuhkan dalam ekosistem perfilman dan budaya di tanah air.

Sudah saatnya industri kreatif Indonesia semakin berani mengambil peran sebagai agen perubahan sosial. Film-film nasional perlu lebih banyak memberikan ruang bagi narasi masyarakat akar rumput, petani, buruh, dan kelompok masyarakat adat yang sering kali terpinggirkan dari layar lebar.

Bukan untuk menebar kebencian, melainkan untuk membangun empati dan solidaritas sesama anak bangsa. Seperti halnya para pemikir Asia Selatan yang mampu mengadaptasi teori global ke dalam konteks lokal, sineas Indonesia pun memiliki potensi besar untuk meramu cerita lokal menjadi karya yang mendunia sekaligus berdampak sosial.

Kawan GNFI, masa depan bangsa ada di tangan generasi yang sadar dan peduli. Literasi digital dan dukungan terhadap karya seni yang bermutu adalah langkah awal yang konkret. Mari jadikan sinema dan karya seni lainnya sebagai wahana edukasi yang menyenangkan tapi sarat makna.

Dengan mendukung film-film yang berani menyuarakan kebenaran dan keadilan, publik turut berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih setara dan manusiawi. Perubahan besar selalu bermula dari langkah kecil sehingga langkah tersebut bisa dimulai dari pilihan tontonan di layar bioskop. Selamat berkarya dan mengapresiasi seni yang membebaskan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.