jembatan kereta api citiis jembatan ka aktif dengan elevasi tertinggi di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Jembatan Kereta Api Citiis, Jembatan KA Aktif dengan Elevasi Tertinggi di Indonesia

Jembatan Kereta Api Citiis, Jembatan KA Aktif dengan Elevasi Tertinggi di Indonesia
images info

Jembatan Kereta Api Citiis, Jembatan KA Aktif dengan Elevasi Tertinggi di Indonesia


Jembatan Citiis merupakan jembatan kereta aktif dengan elevasi tertinggi di Indonesia saat ini. Jembatan yang terletak di Ciherang, Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat itu berdiri di ketinggian 820 meter di atas permukaan laut.

Lokasinya ada di antara Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebak Jero. Uniknya, Stasiun Nagreg juga merupakan stasiun kereta api aktif tertinggi di Indonesia—berada di ketinggian +848 meter di atas permukaan laut.

Jembatan Citiis menjadi penghubung antara Bandung menuju Purwokerto, Yogyakarta, hingga Surabaya (dan sebaliknya). Jembatan ini berada di wilayah Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung.

Proses Pembangunannya yang Menantang

Dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), jembatan ini berdiri di atas Lembah Cisaat. Di bawahnya ada jurang dan Jalan Raya Lingkar Nagreg. Proses pembangunannya disebut menantang karena lokasinya ada di daerah lembah yang curam dengan medan berbatu.

Melansir dari akun Instagram @kai121_ milik PT Kereta Api Indonesia (Persero), pembangunan Jembatan Citiis dilakukan bebarengan dengan proyek jalur Cicalengka-Garut. Dulunya, di area sekitar, banyak sekali batu-batuan pejal dan keras yang harus disingkirkan untuk membuat jalur kereta api.

Oleh karena itu, SS menunjuk R.H.J Spanjaard, insinyur terkemuka Belanda, sebagai kepala megaproyek tersebut. Bahkan, Spanjaard sendiri mengakui bahwa pembangunannya menjadi yang paling sulit di lintas Bandung-Cilacap.

Setelah berbagai halang rintang, Jembatan Citiis selesai dibangun pada Januari 1889. Panjangnya sekitar 173 meter dengan lima buah pilar penyangga yang berdiri kokoh di bawahnya.

Besi-besi yang dipakai untuk rangka jembatan didatangkan langsung dari Eropa via Pelabuhan Batavia. Kemudian, pada 1921, pemerintah kolonial Belanda melakukan penguatan pada struktur jembatan agar semakin kokoh hingga 20 ton.

Meskipun sudah berusia sangat tua, Jembatan Citiis masih difungsikan hingga sekarang. Dari kereta, penumpang bisa melihat hijau dan indahnya area sekitar karena masih sangat asri.

baca juga

Jalur KA Jawa Barat yang Berada di Dataran Tinggi

Berbeda dengan jalur kereta api lainnya, Jawa Barat memiliki topografi yang berbukit dan bergunung di beberapa titik, termasuk di Jembatan Citiis sendiri. Banyak lembah dan tebing-tebing curam yang mengharuskan pemerintah Belanda memutar otak agar dapat membangun jalur kereta yang aman.

Mayoritas stasiun-stasiun tertinggi di Indonesia juga berada di Jawa Barat. Hal ini sangat berbeda dengan stasiun lainnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang lebih landai.

Karakter wilayah yang semacam ini menyulitkan Belanda untuk membangun jalur kereta api. Butuh banyak waktu dan biaya untuk mendirikan jaringan kereta api yang menghubungkan Jawa Barat dengan kawasan lainnya.

Pembangunan jalur Cicalengka-Garut dulunya dianggap mustahil saking ekstremnya wilayah tersebut. Namun, pemerintah Hindia Belanda saat itu optimis dan mengeluarkan surat keputusan untuk membangun jalur tersebut di tahun 1886.

Melalui Instagram @sejarahbandung, disebutkan bahwa butuh sekitar 2.000 kilogram dinamit untuk menghancurkan batuan di kawasan Nagreg. Pembangunannya pun melibatkan buruh lokal.

Berbagai fasilitas, seperti rel kereta, stasiun, sampai jembatan dibangun Nagreg, termasuk Jembatan Citiis, sukses dibangun. Berkat optimisme yang dipadu dengan penggunaan teknologi moncer di zamannya, jalur Cicalengka-Garut yang sulit itu akhirnya ditaklukkan.

Sampai saat ini, jalur peninggalan Belanda tersebut masih digunakan. Tak hanya itu, konstruksinya masih tetap kokoh, menjadikannya aset berharga bagi bangsa Indonesia.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

đźš« AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.