john herdman di antara kebutuhan teknis timnas dan kalkulasi pssi - News | Good News From Indonesia 2026

John Herdman, di antara Kebutuhan Teknis Timnas dan Kalkulasi PSSI

John Herdman, di antara Kebutuhan Teknis Timnas dan Kalkulasi PSSI
images info

John Herdman, di antara Kebutuhan Teknis Timnas dan Kalkulasi PSSI


Peresmian John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, Sabtu (3/1) lalu menjadi satu kado tahun baru yang cukup menarik dari PSSI untuk sepak bola nasional. Meski bukan mantan pemain terkenal seperti Patrick Kluivert, rekam jejaknya sebagai pelatih terbilang oke.

Pelatih asal Inggris ini mampu membawa Timnas Kanada lolos ke Piala Dunia 2022, yang menjadi penampilan pertama negara itu sejak edisi 1986. Sebelumnya, negara yang jadi salah satu tim tuan rumah Piala Dunia 2026 ini cukup kesulitan bersaing di Kualifikasi Piala Dunia zona CONCACAF.

Prestasi ini juga dilengkapi dengan kesuksesan saat melatih timnas wanita Kanada (2011-2018), tepat sebelum melatih Timnas putra Kanada. Torehan medali perunggu Olimpiade 2012 dan 2016 di cabor speak bola putri, ditambah capaian perempatfinalis Piala Dunia Wanita 2015 menunjukkan, seberapa kapabel dirinya dalam membangun tim dari bawah, dan mengembangkan tim yang sudah cukup kuat.

Kebetulan, dari segi kualitas tim, tim nasional wanita Kanada memang cukup kompetitif di level dunia, sementara tim nasional putra baru mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

baca juga

Menariknya, negara tetangga Amerika Serikat ini juga aktif mencari talenta diaspora, seperti halnya Indonesia. Alphonso Davies (bintang Timnas Kanada dan Bayern Munich) menjadi contoh populer dari kasus ini.

Ia lahir di Ghana, dan beremigrasi ke Kanada saat masih kecil, sebelum akhirnya memperkuat Timnas Kanada, sejak level junior hingga senior.

Jika melihat rekam jejak John Herdman, khususnya di Timnas putra Kanada, profil tim nasional (baik Indonesia maupun Kanada), dan posisi rangkap (sebagai pelatih Timnas senior dan U-22) yang diberikan PSSI, kedatangan pelatih kelahiran tahun 1975 ini terliihat pas dengan kebutuhan teknis Timnas Indonesia. Kebetulan, sang pelatih juga berencana menetap di Indonesia, selama bertugas sebagai pelatih.

Kebutuhan teknis ini juga terlihat makin masuk akal, jika melihat pemberitaan di media nasional Indonesia, yang rata-rata menyebut, John Herdman dikontrak sampai tahun 2030, dengan target meloloskan Tim Garuda ke Piala Dunia 2030.

Meski begitu, rilis resmi PSSI, dan pemberitaan media asing justru memperlihatkan, ada sisi kalkulatif yang cukup terukur.

Dalam rilis resminya, PSSI tidak menyebut secara rinci, berapa tahun kontrak John Herdman di Timnas Indonesia. Di sisi lain, media Kanada Waking The Red dan Al Jazeera (Qatar) menyebut, pelatih berlisensi UEFA Pro ini diikat kontrak sampai tahun 2028, dengan opsi perpanjangan sampai 2030.

Di sini, adanya target lolos ke perempatfinal Piala Asia 2027 disebut sebagai prasyarat. Jika tidak tercapai, PSSI bisa mendepak sang pelatih di akhir fase pertama masa kontrak.

Meski kurang ideal dari segi pembangunan tim dan proyek olahraga jangka panjang, langkah kalkulatif ini menunjukkan, PSSI sudah banyak belajar dari pengalaman sepanjang tahun 2025.

Seperti diketahui, dalam satu tahun kalender itu, PSSI dua kali memecat pelatih, yakni Shin Tae-Yong (Korea Selatan) dan Patrick Kluivert (Belanda) masing-masing di awal dan akhir tahun 2025, dengan nominal kompensasi tidak sedikit.

baca juga

Pengalaman inilah yang mendorong PSSI lebih hati-hati dalam menyodorkan nominal gaji kepada John Herdman. Dalam rilis resminya, PSSI menyebut eks pelatih Toronto FC digaji 40 ribu dollar AS (sekitar 640 juta rupiah, jika kurs rupiah 16.000 per dollar AS) atau sekitar 7-8 miliar rupiah per tahun.

Angka ini jauh di bawah gaji Shin Tae-Yong (1,9 miliar rupiah per bulan) dan Patrick Kluivert (1,3 miliar rupiah per bulan).

Dengan kalkulasi seterukur ini, rasanya tidak aneh kalau ada selipan klausul pemutusan kontrak, misalnya jika Timnas Indonesia tidak mampu mencapai perempatfinal Piala Asia 2027. Sebuah bentuk kemajuan PSSI, setidaknya dari sudut pandang profesional.

Terlepas dari berbagai pro-kontra dan dinamika yang ada, semoga John Herdman bisa bekerja secara optimal, atau paling tidak memperbaiki kerusakan di era pelatih terdahulu.

Di sisi lain, semoga kalkulasi ala PSSI bisa menjadi satu langkah cerdas, yang tidak sampai mempertaruhkan, apalagi mengorbankan, kesempatan Sang Garuda bangkit dari keterpurukan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.