Ibu menjadi wadah pendidikan pertama yang paling krusial dalam pertumbuhan seorang anak. Penyair ternama Hafiz Ibrahim pernah menyampaikan nasihat, “Al umm madrasatul ula idza a'dadtaha sya'ban thayyial 'araq,” yang berarti ibu adalah madrasah pertama; jika engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.
Ungkapan ini menunjukkan betapa besar peranan ibu sebagai penentu utama dalam tumbuh kembang anak, baik dari sisi pendidikan maupun pembentukan karakter.
Sejarah telah menunjukkan bagaimana ibu menjadi sosok berpengaruh bagi keberhasilan seorang anak. Dari seorang ibu, peradaban dapat berubah.
Ibunda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, yakni Siti Aminah, menjadi bukti bahwa perannya begitu berarti dalam membentuk Rasulullah hingga beliau menjadi tokoh Islam terkemuka.
Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim, dan sejak saat itu Siti Aminah memegang peran penting dalam pertumbuhannya, meski hanya membersamai hingga usia 6 tahun.
Ia menanamkan nilai akhlak, etika, ketauhidan, kecintaan terhadap ilmu, kesederhanaan, keikhlasan, serta kasih sayang emosional yang hangat.
Hingga kini, nama Nabi Muhammad tetap dikenang bukan hanya sebagai Rasul, tetapi juga sebagai sosok yang hadir layaknya teman, saudara, sahabat, dan keluarga. Sifat dan peran beliau terus melekat dalam ingatan banyak orang, menghadirkan kedekatan emosional yang melampaui batas seorang pemimpin spiritual.
Dari perjuangan dan keteladanannya, peradaban besar mampu tumbuh, berkembang, dan diakui hingga penjuru dunia.
Peran ibu tidak boleh dijalankan secara sembarangan. Keterikatan emosional antara ibu dan anak telah dimulai sejak janin berada dalam kandungan. Segala perbuatan dan perilaku ibu sudah terekam oleh janin.
Ibu dapat berikhtiar sejak masa kehamilan dengan mengonsumsi makanan halal dan bergizi, karena apa pun yang dimakan memengaruhi fisik dan kecerdasan anak. Ibu juga perlu menjaga perilaku serta ucapan, sebab apa yang disampaikan akan sampai kepada janin, terutama saat otaknya berkembang pada usia 3–6 bulan.
Membacakan ayat Al-Qur’an, hadis, serta doa membantu janin tumbuh menjadi lebih cerdas dan mengenal Tuhannya sejak dalam kandungan.
Keterbukaan antara ibu dan anak sangat penting untuk menghindarkan anak dari pengaruh negatif dari luar. ibu berperan dalam membantu anak mengatur diri dan waktu melalui kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Dalam pengasuhan, terdapat 3 jenis pola asuh, yaitu:
- Pola asuh otoriter, di mana ibu menetapkan seluruh keputusan dan anak dituntut patuh tanpa kesempatan bertanya atau berpendapat.
- Pola asuh demokratis, yaitu pola yang memberi ruang bagi anak untuk mengungkapkan keinginan, berkomunikasi, dan menyampaikan pendapat.
- Pola asuh permisif, di mana ibu menekankan pemberian contoh dan teladan langsung, membiasakan anak terhadap suatu kegiatan, serta memberi tanggung jawab dan wewenang.
Jika terjadi kesalahan dalam penerapan pola asuh dapat berdampak pada terbentuknya pribadi anak yang pembangkang dan sulit diatur. Hal ini bisa disebabkan kurangnya pengawasan serta kebiasaan memenuhi keinginan anak secara berlebihan.
Dampaknya, anak menjadi tidak peka, kurang bersyukur, tidak mandiri, individualis, dan akhirnya mudah membangkang.
Karakter anak terbentuk melalui hubungannya dengan dirinya sendiri, lingkungan sekitar, dan Tuhan. Penanaman nilai positif perlu dilakukan sejak dini, misalnya dengan memberikan kepercayaan, memberi ruang untuk berpendapat, serta membiasakan anak bersosialisasi dalam lingkungan yang sehat.
Ibu juga berperan menempatkan anak pada lingkungan yang baik, karena anak cenderung meniru apa yang dilihat setiap hari.
Menurut Megawangi, terdapat 3 kebutuhan dasar anak, yaitu maternal bonding, rasa aman, serta stimulasi fisik dan mental. Maternal bonding merupakan keterikatan psikologis antara anak dan Ibu yang menjadi fondasi penting pembentukan diri.
Ikatan ini menumbuhkan rasa percaya, ketenangan, kasih sayang, dan perhatian, sehingga berkembang menjadi rasa aman dan kepercayaan diri. Selain itu, stimulasi fisik dan mental diperlukan agar anak mampu mengembangkan kemampuan berpikir, rasa ingin tahu, dan kesiapan menghadapi situasi kehidupan.
Dukungan yang tepat akan membuat anak tumbuh lebih percaya diri di lingkungan sosial yang lebih luas.
Dengan demikian, peran Ibu sebagai pendidik pertama tidak dapat digantikan oleh apa pun. Meski zaman terus berubah dan tuntutan hidup semakin besar, kedekatan, perhatian, dan sentuhan seorang ibu tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan anak.
Ketika ibu mampu menjalankan perannya dengan baik, maka akan lahir generasi kuat, berakhlak, dan berperadaban.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


