Fenomena burnout atau kelelahan psikologis bukan lagi hal asing bagi kalangan Milenial maupun Generasi Z. Di tengah situasi tersebut, tren slow living dan pencarian lokasi untuk menepi sejenak atau healing menjadi kebutuhan primer yang mendesak. Uniknya, jawaban atas kegelisahan modern tersebut justru tersimpan rapi di sebuah bukit kecil kawasan Kelurahan Sekarputih, Kabupaten Bondowoso.
Tempat tersebut menjadi tempat peristirahatan terakhir Ki Ronggo atau Raden Bagus Asra, sosok pembabat alas sekaligus Bupati pertama Bondowoso. Selama sekian dekade, lokasi tersebut dikenal semata-mata sebagai destinasi wisata religi konvensional yang identik dengan ritual klenik atau suasana mistis. Namun, persepsi tersebut mulai bergeser.
Kini, kompleks pemakaman Ki Ronggo menawarkan wajah berbeda. Generasi muda mulai melihat kawasan tersebut sebagai oase ketenangan yang menjadi sebuah ruang kontemplasi yang mendamaikan jiwa, serta tempat belajar sejarah kepemimpinan tanpa kesan menggurui.
Oase Hijau dan Konsep Forest Bathing Ala Bondowoso

Ilustrasi penampakan wisata religi makam Ki Ronggo | Pexels | Mehmet Turgut Kirkgoz
Memasuki area makam yang berjarak kurang lebih 2,3 kilometer dari pusat kota Bondowoso itu, Kawan GNFI akan langsung disambut oleh atmosfer yang kontras dengan hiruk-pikuk jalanan kota.
Pohon-pohon beringin tua yang rindang memayungi kawasan bukit, menciptakan kanopi alami yang meneduhkan. Bagi anak muda yang akrab dengan istilah Shinrin-yoku atau mandi hutan ala Jepang, suasana di Sekarputih menawarkan pengalaman serupa. Udara segar yang berhembus di antara dedaunan membawa kesejukan yang mampu menurunkan kadar stres secara alami.
Kondisi alam yang masih sangat asri di sekitar makam menjadi daya tarik utama bagi pencari ketenangan. Tidak ada suara bising klakson kendaraan yang mengganggu telinga. Hanya ada suara gesekan daun dan kicauan burung yang sesekali terdengar.
Keheningan tersebut menjadi kemewahan tersendiri yang sulit ditemukan di kedai kopi kekinian atau pusat perbelanjaan. Duduk diam di bawah naungan pohon besar di area luar makam memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melakukan detoks digital sejenak, melepaskan diri dari jeratan algoritma media sosial, dan kembali terhubung dengan alam semesta.
Penataan kawasan yang rapi dan bersih juga menambah kenyamanan. Fasilitas pendukung seperti kamar mandi dan musala sudah tersedia dengan kondisi yang terawat, membuat siapa pun betah berlama-lama. Kesan angker yang dahulu mungkin sempat melekat pada pemakaman tua, kini perlahan sirna tergantikan oleh nuansa syahdu dan damai.
Pergeseran image tersebut sangat penting dalam menarik minat generasi muda agar tidak ragu menjadikan situs sejarah sebagai destinasi wisata akhir pekan.
Filosofi Menapaki Anak Tangga Menuju Puncak Kesadaran
Salah satu elemen paling ikonik dari Wisata Religi Makam Ki Ronggo yaitu keberadaan anak tangga yang mengantarkan peziarah menuju pusara utama di puncak bukit. Jumlah anak tangga tersebut bukan sekadar angka acak.
Terdapat 25 anak tangga yang sengaja dibuat sebagai simbolisasi. Bagi sejarawan atau juru kunci, angka tersebut merujuk pada tanggal pengangkatan Raden Bagus Asra sebagai bupati, namun bagi Kawan GNFI dari kalangan muda, proses menapaki tangga tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah latihan kesadaran atau mindfulness.
Setiap pijakan kaki di atas keramik tangga mengajarkan tentang proses dan kesabaran. Generasi Z yang terbiasa dengan budaya instan diajak untuk melambatkan tempo. Demi mencapai puncak dan berdoa di depan makam sang tokoh, pengunjung harus mengeluarkan tenaga, mengatur napas, dan melangkah satu demi satu.
Filosofi sederhana tersebut sangat relevan dengan kehidupan nyata. Bahwa untuk mencapai sebuah ketenangan atau kesuksesan, tidak ada jalan pintas yang bisa ditempuh secara terburu-buru.
Meneladani Etos Perjuangan dan Kepemimpinan, Bukan Klenik
Mengunjungi Makam Ki Ronggo tidak harus selalu dikaitkan dengan permintaan irasional atau hal-hal berbau takhayul. Justru, narasi yang perlu dibangun dan dipahami oleh Kawan GNFI yaitu tentang keteladanan.
Raden Bagus Asra merupakan figur pemimpin visioner yang berhasil mengubah hutan belantara menjadi sebuah kabupaten yang makmur. Kisah "Batu Tirakat" yang menjadi tempat sang tokoh bermeditasi selama 41 hari di masa lalu sebaiknya tidak dilihat dari sisi magis semata, melainkan sebagai simbol ketekunan, fokus, dan mental baja.
Generasi muda yang sekarang tengah berjuang merintis karir atau membangun usaha bisa mengambil energi positif dari kisah hidup Ki Ronggo. Batu tirakat yang kini tertanam di bawah lantai makam menjadi saksi bisu betapa besarnya tekad seseorang dalam mengejar tujuan mulia. Ziarah ke makam beliau menjadi sarana untuk menyerap semangat pantang menyerah tersebut.
Berdoa di sana bukan untuk meminta kekayaan instan, melainkan memohon kepada Tuhan agar diberikan kekuatan hati dan kejernihan pikiran dalam menghadapi tantangan zaman, sebagaimana Ki Ronggo menghadapi tantangan pada masanya.
Pemaknaan ulang sejarah tersebut membuat wisata religi menjadi lebih relevan dan logis bagi anak muda. Diskusi tentang sejarah berdirinya Bondowoso, strategi kepemimpinan Ki Ronggo, hingga toleransi yang beliau ajarkan, jauh lebih menarik untuk diulik. Hal tersebut menjadikan kunjungan ke Sekarputih sebagai wisata edukasi yang memperkaya wawasan intelektual sekaligus spiritual.
Inklusivitas yang Mempersatukan dalam Keheningan
Fakta menarik lain yang membuat lokasi tersebut layak menjadi destinasi unggulan yaitu sifat inklusivitasnya. Ketenangan di bukit Sekarputih tidak hanya milik satu golongan. Sebagaimana dicatat dalam berbagai interaksi sosial di sana, pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari kalangan muslim. Saudara-saudara dari agama lain, bahkan peziarah dari Bali dan daerah lain, kerap terlihat datang untuk memberikan penghormatan atau sekadar bermeditasi.
Fenomena tersebut mengirimkan pesan kuat tentang toleransi dan persatuan. Dalam keabadiannya, Ki Ronggo berhasil menjadi simpul yang mempertemukan berbagai latar belakang manusia dalam satu frekuensi berupa kedamaian.
Bagi Generasi Z yang sangat menjunjung tinggi nilai keberagaman dan kesetaraan, suasana inklusif di makam Ki Ronggo tentu memberikan kenyamanan tersendiri. Tidak ada sekat yang membatasi siapa pun untuk menikmati keheningan dan memanjatkan doa terbaik bagi leluhur bangsa.
Sebuah Langkah Kecil untuk Kesehatan Mental
Pada akhirnya, menjadikan Makam Ki Ronggo sebagai tujuan healing merupakan keputusan yang tepat bagi Kawan GNFI yang berada di Jawa Timur dan sekitarnya. Perpaduan antara keindahan alam bukit yang asri, nilai sejarah yang mendalam, serta atmosfer spiritual yang kental, menciptakan sebuah paket lengkap untuk pemulihan jiwa.
Tempat tersebut mengajarkan bahwa di tengah gempuran modernitas, manusia selalu bisa kembali menengok ke belakang, menemui akar sejarah, dan menemukan ketenangan di sana.
Wisata religi tidak lagi harus identik dengan orang tua atau suasana menyeramkan. Dengan sudut pandang baru, Sekarputih berubah menjadi ruang aman untuk merenung, melambatkan waktu, dan mengisi ulang energi positif. Mari ubah stigma lama.
Warisan Raden Bagus Asra bukan hanya tanah Bondowoso, melainkan juga ruang teduh tempat jiwa-jiwa muda bisa kembali menemukan arah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


