Untuk Kawan yang besar di Jawa Barat, suara roda gerobak yang berderit atau panggilan khas pedagang keliling pasti jadi memori yang tidak mudah untuk dilupakan.
Di kampung, di depan sekolah, sampai di gang sempit, jajanan tradisional Sunda selalu punya ruang khusus di hati masyarakat. Ada rasa hangat yang muncul setiap kali melihat gerobak berwarna cerah atau mendengar seruan khas penjual yang dari jauh sudah terdengar.
Di tengah maraknya kuliner modern, 5 jajanan berikut tetap eksis. Bukan hanya bertahan, tetapi masih dicintai banyak orang. Yuk, siap-siap nostalgia bersama!
1. Cilok, si Bulat Kenyal yang Selalu Dirindukan

Tukang Cilok/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Cilok itu legenda. Dulu, pedagangnya identik dengan ibu-ibu yang memikul tampah berisi cilok dan bumbu kacang. Jika Kawan membeli, ciloknya dimasukkan plastik atau ditengteng dengan sapu lidi kecil.
Sensasi makan cilok sambil berdiri di depan sekolah, ditemani hembusan angin siang dan obrolan teman sebaya, rasanya sulit untuk dilupakan.
Sekarang, penjual cilok lebih sering menggunakan gerobak roda. Penyajiannya pun makin modern: ada yang disajikan dalam cup, bumbunya dipisah, lengkap dengan tusuk sate untuk memudahkan dinikmati sembari berjalan.
Meski tampilannya mengikuti zaman, rasa dan kenangannya tetap sama. Kenyalnya cilok, gurihnya bumbu kacang, dan aroma khas dari gerobak itu selalu berhasil membangkitkan ingatan masa kecil.
2. Cuangki, Bakso Hemat Penyelamat Tanggal Tua
Bagi banyak orang, cuangki adalah sahabat sejati ketika uang jajan lagi menipis. Biasanya dijual keliling dengan cara dipikul, dan banyak penjualnya berasal dari Garut. Dengan harga sekitar Rp5.000 per mangkuk (tergantung daerah dan penjualnya), Kawan sudah mendapatkan bakso kecil, tahu, cuangki, dan sedikit mie hangat.
Cuangki bukan sekadar makanan hemat. Ada nuansa kedekatan yang tercipta antara penjual dan pembeli. Penjual yang berkeliling dari gang ke gang biasanya sudah hapal pelanggan setianya. Itulah yang membuat cuangki punya tempat istimewa dalam kenangan banyak orang.
3. Tahu Bulat, Jajanan Viral yang Digoreng Dadakan
“Tahu bulat… digoreng dadakan… lima ratusan!”
Jingle legendaris ini pasti pernah menghiasi hari-hari kita. Penjualnya biasanya pakai mobil pick-up lengkap dengan speaker, atau menggunakan gerobak roda yang bisa masuk sampai ke gang paling sempit. Karena digoreng dadakan, aromanya langsung menyeruak dan menarik perhatian.
Saking populernya, tahu bulat pernah menjadi tren nasional. Banyak anak muda sengaja menunggu penjual lewat, bahkan ada yang sampai keluar rumah hanya demi menikmati tahu bulat panas dengan taburan bumbu pedas.
Dari yang awalnya sederhana, tahu bulat berhasil membuktikan bahwa kreativitas dalam penyajian bisa membuat jajanan tradisional naik kelas.
4. Cilung, Aci Gulung Favorit Anak Sekolahan

Tukang Cilung di depan sekolah SDN Talagasari Kadungora-Garut/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Di Jawa Barat, cilung adalah primadona bagi sebagain siswa sekolah. Dibuat dari adonan aci yang dituang tipis, lalu digulung dengan tusuk sate, dan digoreng di atas wajan kecil. Rasanya makin mantap dengan tambahan saus, bubuk pedas, atau bumbu tabur beraneka rasa.
Harganya yang ramah kantong sekitar Rp5.000 berisi 5 tusuk membuat cilung selalu ramai diserbu pembeli, terutama saat jam pulang sekolah.
Pedagang cilung sering tidak berhenti menggoreng karena antrean seolah tidak ada habisnya. Kehadirannya seperti simbol kebahagiaan sederhana versi anak sekolahan.
5. Basreng, si Renyah Pedas yang Bikin Nagih

Pedagang Basreng di JA Leles-Garut/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Basreng alias bakso goreng adalah camilan yang bisa dinikmati kapan saja. Biasanya bakso kecil digoreng kering sampai renyah, lalu diberi bumbu tabur pedas atau gurih.
Basreng kini juga mengalami inovasi, dari bumbu level pedas ekstrem hingga kemasan kekinian yang dijual secara online. Meski begitu, pesona basreng gerobakan tetap tidak tergantikan. Ada sensasi berbeda ketika menikmati basreng hangat-hangat langsung dari tangan pedagangnya.
Jajanan Roda, Identitas Kuliner Sunda yang Terus Hidup
5 jajanan ini bukan sekadar makanan. Mereka adalah potret budaya Sunda yang penuh kehangatan, kreativitas, dan kedekatan sosial. Para pedagangnya setiap hari mendorong gerobak atau memikul dagangan menyusuri kampung, sekolah, dan pasar.
Di tengah gempuran kuliner modern, jajanan tradisional ini tetap bertahan karena 3 hal: rasa, nostalgia, dan kedekatannya dengan keseharian masyarakat. Gerobaknya mungkin berubah, penyajiannya mungkin lebih modern, tapi esensi dan kehangatannya tetap sama.
Untuk Kawan yang rindu masa kecil atau ingin merasakan kembali cita rasa khas Sunda, 5 jajanan ini adalah pintu menuju kenangan yang selalu hidup. Selamat bernostalgia!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


