merenungi seruan merdeka atau mati di hari pahlawan benarkah masih relevan - News | Good News From Indonesia 2025

Merenungi Seruan “Merdeka atau Mati” di Hari Pahlawan: Benarkah Masih Relevan?

Merenungi Seruan “Merdeka atau Mati” di Hari Pahlawan: Benarkah Masih Relevan?
images info

Merenungi Seruan “Merdeka atau Mati” di Hari Pahlawan: Benarkah Masih Relevan?


Ketika mendengar seruan “Merdeka atau Mati”, mungkin Kawan akan teringat pada peristiwa Perang Surabaya yang terjadi pada 10 November 1945 yang kelak dikenal sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Seruan itu tidak hanya sekadar tiga kata sederhana, karena di balik suara dan tekad Bung Tomo yang tak gentar, semboyan itu mampu menggetarkan jiwa masyarakat Surabaya untuk berjuang mempertahankan wilayah Indonesia dari penyerangan Belanda.

Namun, melihat efeknya yang besar pada masa lalu, bagaimana relevansi semboyan yang masih terus diserukan ini? Apakah konteks merdeka yang diperjuangkan para pahlawan dengan darah dan air mata, juga masih dirasakan oleh generasi kita sekarang? Selamat membaca!

baca juga

Pertempuran 10 November: Lahirnya Semboyan “Merdeka atau Mati”

Saat itu hening mencekam, 10 November 1945, Masyarakat Surabaya menunggu Belanda bersama gandengannya (Inggris) dalam perjalanan merebut kembali kekuasaan yang sempat jatuh di tangan Jepang. Melalui NICA, Belanda hendak memulihkan serpihan-serpihan kekuasaan yang telah berserakan, dan mengumpulkan sumber daya agar bisa kembali mencengkeram Indonesia.

Ultimatum telah digelorakan ke seluruh wilayah agar masyarakat kembali tunduk dan segala bentuk persenjataan dari Jepang diserahkan ke Belanda. Seolah ancaman itu akan menggertak nyali masyarakat. Sayangnya, Bung Tomo dalam ruang kecilnya mampu menggemakan spirit hingga ke pelosok Surabaya. 

Melalui Radio Republik Indonesia (RRI), Bung Tomo menyerukan, “Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: Merdeka atau Mati!” 

Pesannya sederhana, tetapi mampu membangunkan gelombang massa yang dahsyat. Setiap orang hanya membawa senjata seadanya untuk mempertahankan tubuh dan harga nasionalisme di dalam dadanya. Tidak ada rasa gentar yang menyelimuti wajah masyarakat Surabaya, padahal tank dan senjata modern berada tepat di hadapannya.

Pertempuran antara arek-arek Suroboyo berlangsung hingga berminggu-minggu lamanya. Suara teriakan karena semangat merdeka atau rintihan luka tidak lagi bisa dibedakan. Ribuan nyawa melayang dan ratusan ribu lainnya melarikan diri hingga ke pedalaman. 

Namun, itu semua sepadan, setelah Tentara Inggris memperhitungkan nyali masyarakat Indonesia yang telah menjelma jadi masyarakat yang terorganisasi dengan spirit kesatuan di dalamnya. 

Pihak penjajah melunak dan memilih mundur untuk bernegosiasi, sedangkan perhatian internasional mulai tertuju ke sebuah negara baru yang telah membuktikan bahwa dirinya layak untuk berdiri menjadi sebuah eksistensi yang patut diperhitungkan.

Seperti Berdiri di Atas Dua Kaki, Kemerdekaan Akan Selalu Diikuti oleh Pengorbanan

Jika mendengar semboyan itu digelorakan, apa yang timbul di dalam benak Kawan? Kawan tentu akan langsung menyerukan, “Merdeka!”, seolah di atas adalah sebuah pilihan yang bisa ditentukan mana yang lebih baik.

Siapa yang tidak ingin merdeka dan merasakan kebebasan berjalan di atas tanah sendiri? Kawan mungkin setuju kemerdekaan telah mengelilingi kita sejak 80 tahun yang lalu, saat penjajah angkat kaki dari Indonesia. Jika demikian, mengapa harus memilih antara “merdeka atau mati” saat kita telah merasakan salah satu opsi tersebut sejak lama. Apakah itu berarti semboyan itu tidak lagi relevan bagi kehidupan saat ini?

Sayangnya, jika merenungi lebih dalam makna dari kalimat tersebut, mungkin kita akan menyadari jika merdeka yang dimaksud Bung Tomo bukan hanya secara fisik, saat tidak ada lagi penindasan melalui senjata, melainkan juga merdeka dari berbagai hal-hal tak kasatmata, seperti ketidaksejahteraan ekonomi, kesenjangan pendidikan, dan masalah korupsi yang merajalela. Semua itu nyatanya adalah bentuk dari “ketidakmerdekaan” kita hari ini.

Kita dibuat terlena dengan kata “merdeka” seolah semuanya telah selesai dan sisanya adalah menjalani hidup nyaman dengan berbagai problematika yang terjadi tanpa kita sadari. Padahal, merdeka bukan berarti sebuah tujuan yang bisa dicapai satu kali, melainkan berkali-kali melalui kerja-kerja kesadaran dan perawatan sebagai sebuah bangsa.

Maka dari itu, “Merdeka atau Mati” bukanlah sebuah pilihan. Tidak seperti dua menu makanan yang bisa kita pilih di antaranya, seruan di atas adalah sepaket keberanian yang digaungkan Bung Tomo kepada siapa pun (termasuk kita sebagai sebuah bangsa) yang memiliki cita-cita untuk menjadi jiwa yang bebas. Sebuah bentuk kemerdekaan yang perlu dipelihara hingga generasi yang akan datang.

Karena kini, “Mati” yang tersirat tidak lagi berupa nyawa, melainkan meredam kemalasan dan menumbuhkan kepekaan terhadap segala permasalahan yang ada di sekitar. Dengan berani bermimpi, belajar, bereksperimen, serta memilih jalan kebermanfaatan kepada sesama, alih-alih demi keuntungan pribadi, adalah salah satu ikhtiar sebagai generasi muda untuk memelihara asa kemerdekaan pada masa lalu.

Maka dari itu, daripada memahami “Merdeka atau Mati” sebagai slogan biasa, kita perlu menyelami maknanya sebagai mandat dari Bung Tomo kepada kita untuk memelihara kemerdekaan lewat cara-cara yang positif. Karena tugas beliau telah selesai dengan senjata, maka kita perlu melanjutkannya dengan menumbuhkan gagasan dan tindakan yang penting untuk kemajuan bangsa kita sendiri.

baca juga

Seruan Bung Tomo Kepada Anak Muda Masa Kini: Nikmati Kebebasan yang Bertanggung Jawab!

Maka dari itu, sebagai generasi yang menikmati kemerdekaan dari harga yang telah dibayar kontan oleh para pahlawan pada masa lalu, kita perlu memaknai jika kebebasan hari ini perlu dipelihara dan dipertanggungjawabkan secara utuh melalui pikiran dan tindakan.

Bung Tomo saat menyerukan semboyan “Merdeka atau Mati” tidaklah ditujukan kepada segelintir orang, melainkan kepada seluruh lapisan masyarakat dari berbagai latar agama, sosial, hingga ekonomi. Sehingga kemerdekaan yang sejati adalah kebebasan bagi semua orang untuk merasakan kehidupan yang layak, melalui pemenuhan kebutuhan hidup, pendidikan, hingga akses untuk mengaktualisasikan diri.

Sudah menjadi tanggung jawab bersama, jika masih terdapat saudara sebangsa kita sendiri yang hidup dalam keterbatasan dan tidak memperoleh akses yang memadai untuk hidup layak sebagai seorang warga negara. Kita perlu menumbuhkan kepekaan dan bertindak sebagai bentuk penghormatan kita atas keteguhan arek-arek suroboyo dalam mengorbankan jiwanya untuk mempertahankan kemerdekaan yang kita rasakan hari ini.

Dengan demikian, selamat menikmati kebebasan hari ini secara bertanggung jawab dengan aktif belajar, berkontribusi, dan berkarya untuk bangsa. Selamat hari pahlawan nasional!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.