menelusuri jejak sejarah surabaya lewat berkawan jawa timur - News | Good News From Indonesia 2025

Menelusuri Jejak Sejarah Surabaya lewat BerKawan Jawa Timur

Menelusuri Jejak Sejarah Surabaya lewat BerKawan Jawa Timur
images info

Menelusuri Jejak Sejarah Surabaya lewat BerKawan Jawa Timur


Agenda BerKawan GNFI region Jawa Timur pada bulan November 2025 dilaksanakan di Kota Surabaya. Kota ini menyimpan banyak memori bersejarah yang dapat dilihat dari bangunan-bangunan bergaya Eropa.

Kali ini, BerKawan GNFI Jawa Timur yang berkolaborasi dengan letswalk.idn berkeliling di beberapa tempat di Surabaya untuk mempelajari cerita di baliknya.

Plaza Surabaya

Dikenal juga sebagai Delta Plaza, salah satu mall di Surabaya. Mall ini berdiri di lahan bekas Rumah Sakit (RS) Simpang. Saat itu, RS Simpang kewalahan menangani pasien yang membludak, sehingga dipindahkan ke RS Umum Daerah (RSUD) dr. Soetomo.

Bekas bangunan ini kemudian dialihfungsikan. Berbeda dengan mall lain, Plaza Surabaya memiliki keunikan yaitu musik yang diputar berupa gamelan Jawa dan suara kicauan burung.

Konon, sebagai harapan agar usaha di dalamnya tidak akan sepi dan sebagai bentuk penghormatan dari urban legend RS Simpang.

baca juga

Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya

RRI Surabaya disebut-sebut instansi pertama yang merebut kekuasaan dari pendudukan Jepang. Pasca Indonesia merdeka, pada Oktober 1945 gedung RRI Surabaya diserang oleh pasukan Gurkha yang berasal dari Inggris.

Penyerangan ini untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia, dilakukan dengan menghentikan siaran radio dan mengosongkan gedung. Tidak lama, pertempuran Gurkha dan masyarakat Surabaya meledak dan gedung RRI Surabaya dibakar massa.

Pertempuran dimenangkan oleh arek-arek Suroboyo dan gedung RRI dilakukan renovasi setelahnya.

World Trade Centre (WTC)

Dikenal sebagai pusat perbelanjaan gadget di Surabaya yang awalnya dirancang sebagai pusat perdagangan dunia. Setelah krisis moneter, para tenant pindah ke lokasi dengan sewa yang lebih murah. Bahkan, ada yang sampai gulung tikar.

Oleh karena itu, pengelola WTC membuka sewa besar-besaran untuk penjual ponsel yang membuat WTC disebut World Telephone Centre. Di sekitar mall, dahulu banyak dijumpai penjual handphone karena di dalam mall penuh. Sampai saat ini, masih dijumpai beberapa penjual handphone di sekitar gedung.

Jembatan Kalimas

Jembatan peneleh atau disebut Jembatan Kalimas karena letaknya di atas aliran Sungai Kalimas yang dahulu digunakan sebagai sarana transportasi. Menghubungkan dua titik yaitu wilayah Peneleh dan Alun-Alun Contong.

Jembatan ini menjadi saksi perjuangan arek-arek Suroboyo dalam melawan tentara sekutu yang digunakan sebagai penghadang pasukan lawan dari arah utara atau dari Jalan Pahlawan.

Rumah Dinas Walikota Surabaya

Rumah dinas Walikota Surabaya berdekatan dengan balai kota. Selain menjadi tempat tinggal, digunakan untuk acara kedinasan dan ramah tamah baik untuk tamu lokal maupun mancanegara.

Salah satu hidangan yang wajib disuguhkan dan digemari tamu mancanegara yaitu rawon atau black soup karena warna kuahnya yang hitam pekat.

baca juga

Balai Kota Surabaya

Dahulu, Surabaya dibagi menjadi kota bawah dan kota atas. Wilayah kota bawah dekat dengan Sungai Kalimas dan sering dilanda banjir, sedangkan kota atas jauh dari sungai dan rimbun sebagai hunian para meneer.

Pada 1930-an, terjadi pengembangan kota atas ke arah selatan. Semenjak pengembangan, turut dirancang balai kota oleh arsitek G. C. Citroen dengan gaya bangunannya terdapat tingkatan sebagai sirkulasi dan tidak menghadap ke arah pergerakan matahari.

Di atap balai kota terdapat sirine yang mirip teropong. Guna mendeteksi pesawat Jepang yang masuk ke Surabaya, Belanda membuat sirine yang akan berbunyi saat pesawat asing melintas.

Saat ini, sirine hanya dibunyikan pada acara tertentu seperti Hari Ulang Tahun (HUT) Surabaya dan Hari Pahlawan. Balai Kota Surabaya juga disebut gedung 1000 gulden karena saat pembangunan menghabiskan biaya 1000 gulden (mata uang Belanda saat itu).

Gereja Maranatha

Salah satu gereja tua di Surabaya dengan menara sebagai adaptasi dari gereja di Eropa. Konon, gereja tersebut mempunyai akses bunker yang bisa tembus ke balai kota. Sekitar 275 bunker buatan Belanda konon mempunyai dua jalur.

Jalur pertama tembus ke rumah walikota, sedangkan jalur kedua tembus ke Gereja Maranatha. Untuk saat ini, setengah jalan dari bunker tersebut ditutup beton sehingga tidak bisa digunakan. Gereja Maranatha hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat beribadah umat protestan.

Patung Jenderal Soedirman

Soedirman merupakan alumni terbaik Pembela Tanah Air (PETA) buatan Jepang. Dikenal dengan siasat perang gerilya pada Perang Ambarawa yaitu berbaur dengan warga untuk mencari informasi.

Meskipun berdiri patung Jenderal Soedirman, di sana tetap dinamakan Jalan Yos Sudarso karena terdapat rumah dinas Yos Sudarso sebelum patung berdiri.

Selain di Surabaya, terdapat patung Soedirman di Jepang sebagai bentuk hubungan bilateral. Patung tersebut dikirim dan disimpan di Kementerian Pertahanan Jepang.

baca juga

Zangrandi

Zangrandi dahulu berlokasi di Jalan Tunjungan, lebih besar serta lebih mewah karena menjadi bar serta resto dengan nama R. Zangrandi. Pemiliknya bernama Roberto Zangrandi dari Italia.

Pasca Indonesia merdeka, dikeluarkan kebijakan nasionalisasi yang membuat Zangrandi harus memilih tinggal di Indonesia menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) atau kembali ke negaranya. Dia memutuskan untuk pulang ke Italia

Sebelum dijual, Zangrandi menghapus huruf ‘R’ pada bisnisnya dan dibuka kembali di depan balai pemuda setelah sempat disita Jepang. Namun, tidak seramai saat di Tunjungan.

Setelah kebijakan nasionalisasi disahkan, bisnis Zangrandi dibeli oleh rekannya Adi Tanumulia seorang pengusaha wine saat itu. Salah satu menu andalan yang masih ada hingga saat ini adalah tutty fruity. Es krim Zangrandi cepat leleh karena tidak menggunakan pengawet.

Balai Pemuda

Balai pemuda dahulu dijadikan tempat hiburan. Hanya orang-orang Eropa atau disebut De Simpangsche Societeit yang boleh masuk, sedangkan pribumi terbatas hanya pramusaji atau dahulu disebut jongos.

Air mancur yang berada di depan Balai Pemuda dahulu merupakan prasasti kepala singa yang tertulis dalam Bahasa Belanda yang mempunyai arti “anjing dan pribumi dilarang masuk”.

Pada saat itu, para pramusaji harus membawa makanan di atas kepala mereka agar tidak terkena ludah dan tidak boleh menggunakan alas kaki agar lantai tidak kotor.

Alun-Alun Surabaya

Surabaya tidak memiliki alun-alun karena alun-alun pertama Surabaya digusur oleh Pemerintah Belanda dan dibangun pengadilan tinggi. Kemudian dirobohkan dan saat ini menjadi tugu pahlawan.

Saat proses penggalian ke bawah alun-alun, ditemukan fragmen tulang dan barang pecah belah yang diduga peninggalan dari simpang societe. Barang tersebut antara lainkeramik, gelas, piring, sendok, dan meja kursi.

Tulang tersebut diduga milik orang Eropa. Pada momentum masa bersiap, saat melihat bangsa asing khususnya orang Eropa, amarah pribumi memuncak kemudian menangkap dan mengeksekusinya.

GNFI mempunyai komunitas hampir di seluruh provinsi Indonesia. Tidak hanya sekadar komunitas, tapi menjadi wadah sharing dan berkumpul para Kawan dari berbagai daerah. Melalui kegiatan BerKawan ini, selain menambah relasi juga turut menciptakan aktivitas positif yang sejalan dengan misi GNFI yaitu #makintahuindonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.