Kapal perintis yang melewati wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata berperan dalam meningkatkan Swasembada Pangan. Apalagi pemerintah saat ini tengah fokus menciptakan swasembada pangan di dua wilayah yaitu Kabupaten Belu dan Sumba Tengah.
Di kedua kabupaten tersebut terdapat potensi sektor pertanian dan hortikultura yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan di NTT. Saat ini, kebutuhan pangan di NTT dicukupi dari Bima, Sulawesi, dan Jawa Timur mengingat pasokan lokal masih terbatas, tidak mencukupi untuk kebutuhan 22 kabupaten/kota.
“Semuanya memerlukan layanan Kapal Perintis agar harga barang lebih murah,” ucap jelas Ki Darmaningtyas peneliti Inisiatif Strategis untuk Transportasi (INSTRAN) kepada Good News From Indonesia, Minggu (9/11).
Dirinya menjelaskan salah satu bentuk produk lokal yang menjadi unggulan di NTT adalah jagung. Tanaman ini ada di semua daerah NTT, tapi produksinya hanya di musim hujan sehingga kuotanya terbatas dan problem pemasaran.
“Di NTT baru ada satu pabrik pakan ternak, yaitu di Timor. Seandainya terdapat pabrik pakan ternak tentu dapat menampung jagung hasil panen. Selama ini banyak jagung dari NTT keluar dalam bentuk bahan baku, sehingga harganya jatuh dan masyarakat rugi,” ucapnya.
Potensi yang belum tergali
Ki Darmaningtyas mengatakan masih ada potensi lain yang ada di NTT yaitu rumput laut yang cukup banyak di NTT, terutama di Rote, Alor, Sabu, dan Flores. Tapi kendalanya sama, kebanyakan dijual bahan mentah kering, belum diolah sehingga tidak memiliki nilai tambah.
“Kalau ada pabrik pengolahan rumput laut di NTT, nilai tambahnya bisa lebih besar. Jadi produksi ada, tapi belum ada industri besar yang menampung, akhirnya hasil bumi keluar begitu saja ke Surabaya atau Makassar,” ucapnya.
Karena itu, jelas Darmaningtyas, keberadaan kapal perintis, sebetulnya sudah sangat membantu untuk distribusi barang, meskipun armadanya masih kurang. Sebagai contoh, trayek ke MBD, itu sangat bergantung pada Kupang.
“Begitu trayek kosong, masyarakat MBD langsung kesulitan logistik. Jadi perlu penambahan kapal. Kebutuhan mendesaks aat ini adalah menambah armada dan memperkuat industri pengolahan hasil bumi. Kalau dua hal tersebut terpenuhi, ekonomi masyarakat NTT akan lebih baik,” ucapnya.
Bukan hanya rumput laut, NTT juga pernah berjaya dengan komoditas kayu cendana dan gaharu. Tetapi saat ini pemanfaatan kayu Cendana itu sekarang lebih difokuskan untuk UMKM.
“UMKM mengolahnya jadi cenderamata atau penyulingan minyak Cendana, yang produknya dijual di kapal-kapal, termasuk di Kapal Perintis sebagai cendera mata,” jelasnya.
Digunakannya untuk hewan
Ternyata kapal perintis yang melayani di NTT tidak hanya untuk penumpang saja, tapi juga ada yang untuk hewan. Seperti kita ketahui bersama, NTT merupakan daerah sentra peternakan sapi dan kuda.
Oleh sebab itu, sejak masa Presiden Joko Widodo (Jokowi), telah ada Kapal Perintis khusus untuk hewan, terutama sapi. Pelabuhan Kupang menjadi pangkalan kapal ternak.
Simon menjelaskan bahwa ada lima kapal ternak yang berpangkalan di Pelabuhan Kupang untuk melayani Pulau Jawa dan Kalimantan. Dia mengatakan setidaknya ada dua kapal ternak yang sedang bersandar dengan muatan sapi-sapi yang akan dibawa ke Jawa, Kalimantan, bahkan ada yang sampai ke Sumatra.
NTT memang ditetapkan sebagai provinsi swasembada daging untuk Jawa dan Kalimantan, sehingga kapal ternak jadi figur penting. Contoh, Kapal Cemara Nusantara 1 dari Kupang menuju Tanjung Priok, lanjut ke Pelabuhan Panjang (Lampung).
Sedangkan Kapal Cemara Nusantara 2, 3, 4, dan 5 itu melayani ke Samarinda dan Banjarmasin untuk angkutan ternak. Ini termasuk kategori tol laut, khusus untuk ternak.
“Keberadaan tol laut khusus hewan atau Kapal Perintis Hewan ini diharapkan mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi di NTT, karena produk ternak mereka dapat dijual ke Jawa, Kalimantan, dan Sumatra dengan lebih lancar. Di sisi lain produk ternak mereka mampu mencukupi kebutuhan daging di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra,” tegasnya.
Pentingnya keberadaan Kapal Perintis
Dirinya menjelaskan ada dua tantangan terbesar yang dihadapi dalam layanan Kapal Perintis di NTT ini adalah kondisi cuaca yang sering kurang bersahabat dan keterbatasan SDM Pelayaran. Kondisi cuaca yang ekstrem sering meyebabkan tundaan perjalanan.
Karena itu itu KSOP Kupang selalu bekerja sama dengan BMKG untuk pantauan cuaca dan memberi peringatan agar kapal menunda berlayar kalau cuacanya ekstrem. Kecuali itu, kondisi laut di Laut Arafura dan Maluku Barat Daya (MBD) memang sangat ekstrem, sehingga perlu pengawasan ketat dan informasi cuaca terbaru sebagai pemandu pelayaran.
Hal lainnya adalah kebutuhan SDM Pelayaran yang professional saat ini masih dipenuhi dari luar NTT, terutama Makasar dan Jawa mengingat sampai sekarang di NTT belum ada Politeknik Pelayaran. Yang ada baru SMK Pelayaran namun belum ada yang approval dari Kementerian Perhubungan, sehingga lulusannya tidak dapat bekerja di perusahaan pelayaran nasional.
Sesuai dengan amanah konvensi _International Maritime Organisation_ (IMO) dan konvensi IMO tentang _Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers_ (STCW) 1995, untuk dapat bekerja di Perusahaan pelayaran nasional, apalagi internasional, harus memiliki sertifikat sebagai seorang pelaut yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Namun Kemenhub hanya akan menerbitkan sertifikat tersebut bila proses pendidikannya terstandar, sehingga lulusannya bisa ikut ujian sertifikasi. Baginya tantangan yang perlu dipecahkan bersama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), mengingat SMK Pelayaran dibawah binaan Kemdikdasmen.
Pemerintah menyadari pentingnya keberadaan Kapal Perintis ini. Maka dari total subsidi untuk angkutan umum Kemenhub tahun 2024 sebesar Rp. 4,39 triliun, untuk angkutan laut mencapai Rp1,95 triliun. Subsidi itu disebar ke 39 lintas angkutan tol laut, 105 trayek perintis laut, dan 6 trayek kapal ternak.
“Tanpa adanya Kapal Perintis distribusi barang dan mobilitas warga di NTT memang akan amat terbatas sehingga tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada masyarakat 3T,” jelasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


