Hari Ayah Nasional mengingatkan kita bahwa tidak semua pahlawan membutuhkan pangkat atau pengakuan negara. Tidak semua pula mengenakan jas mewah. Sebagian hanya berkemeja lusuh dan sederhana, bangun paling pagi, lalu pulang paling malam.
Mereka jarang meminta ucapan terima kasih, apalagi pujian. Namun di balik ketenangan dan kerja kerasnya, tersimpan kasih yang diam-diam membentuk arah hidup kita hingga hari ini.
Hari Ayah Nasional bukan sekadar penanda tanggal di kalender. Ia menjadi momen jeda untuk mengenang sosok yang kerap terlupakan dalam perayaan: Ayah.
Mungkin ia tak pandai mengucapkan kata-kata manis, tetapi selalu tahu cara membuat anak-anaknya merasa aman dan nyaman. Di setiap langkah perjuangannya, terselip doa tanpa suara agar generasi setelahnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik darinya.
Pada tanggal 12 November 2025, marilah kita sejenak menoleh ke masa lalu, mengingat tangan yang dulu menggenggam kita dengan penuh keyakinan. Sebab, di balik setiap perjalanan hidup, ada sosok ayah yang dalam diam menjadi alasan mengapa kita mampu melangkah sejauh ini.
Sejarah Hari Ayah Nasional
Tradisi memperingati Hari Ayah sebenarnya telah lama dikenal di berbagai negara. Gagasannya muncul pertama kali di Amerika Serikat pada tahun 1910 melalui seorang perempuan bernama Sonora Smart Dodd. Ia terinspirasi oleh perjuangan ayahnya, William Jackson Smart, seorang veteran perang yang membesarkan enam anak seorang diri.
Atas dedikasi dan pengorbanan sang ayah, Dodd mengusulkan agar ada hari khusus untuk menghormati para ayah. Usul tersebut akhirnya diresmikan sebagai Father’s Day oleh Presiden Richard Nixon pada tahun 1972.
Di Indonesia, Hari Ayah lahir dari prakarsa Paguyuban Satu Hati lintas agama dan budaya bernama Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP). Berdasarkan informasi dari laman dspppa.belitung, pada tahun 2014 PPIP menggelar peringatan Hari Ibu di Solo, Jawa Tengah, dengan mengadakan Sayembara Menulis Surat untuk Ibu.
Sekitar 70 surat terbaik dibukukan dan dibacakan oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum. Seusai acara, muncul pertanyaan dari para peserta yang mengejutkan panitia: “Kapan akan diadakan Sayembara Menulis Surat untuk Ayah? Kapan Hari Ayah dirayakan? Kami ingin ikut lagi.”
Pertanyaan sederhana itu menggugah panitia untuk mencari tahu apakah Indonesia memiliki hari khusus bagi para ayah. Mereka menilai, peran ayah tak kalah penting dengan ibu dalam membangun keluarga sebagai pemimpin, pelindung, dan pemberi nafkah, sekaligus sosok yang menanamkan nilai-nilai tanggung jawab.
PPIP kemudian melakukan serangkaian upaya, termasuk audiensi dengan DPRD Kota Surakarta, untuk menelusuri kemungkinan penetapan Hari Ayah di Indonesia.
Setelah melalui proses panjang dan diskusi mendalam, PPIP akhirnya mendeklarasikan Hari Ayah Nasional di Surakarta pada 12 November.
Deklarasi tersebut digelar bersamaan dengan peringatan Hari Kesehatan, dengan mengusung semboyan “Semoga Bapak Bijak, Ayah Sehat, Papah Jaya.” Pada waktu yang sama, deklarasi serupa juga dilakukan di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Dalam momen bersejarah itu, PPIP meluncurkan buku Kenangan untuk Ayah yang berisi 100 surat pilihan dari Sayembara Menulis Surat untuk Ayah. Usai deklarasi, buku tersebut bersama piagam penetapan Hari Ayah dikirimkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta para bupati di empat titik terluar Indonesia Sabang, Merauke, Sangir Talaud, dan Pulau Rote. Sejak saat itu, tanggal 12 November resmi dikenal sebagai Hari Ayah Nasional.
Setelah melakukan pengkajian selama kurang lebih dua tahun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 12 November sebagai Hari Ayah Nasional di tahun 2006.
Keputusan tersebut berdasarkan pada kebutuhan untuk memberikan penghargaan lebih terhadap sosok ayah yang sering kali terabaikan perannya dalam kehidupan keluarga.
Pentingnya Peringatan Hari Ayah
Dalam kehidupan keluarga, ayah sering digambarkan sebagai sosok kuat, pelindung, dan penopang ekonomi. Namun di balik ketegasannya, tersimpan kasih yang jarang diungkapkan dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat.
Peringatan Hari Ayah menjadi ruang refleksi bagi anak-anak dan keluarga untuk mengungkapkan rasa terima kasih yang selama ini mungkin hanya disimpan dalam hati.
Psikolog keluarga Seto Mulyadi menegaskan, kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Anak yang memiliki hubungan dekat dengan ayah cenderung lebih percaya diri, mandiri, dan memiliki kestabilan emosi yang baik.
Dengan demikian, Hari Ayah tidak hanya bermakna simbolik, tetapi juga menjadi ajang mempererat komunikasi serta memperkuat ikatan emosional antaranggota keluarga.
Makna Hari Ayah di Era Modern
Peran ayah kini telah berevolusi seiring perkembangan zaman. Ia tidak lagi semata berfokus pada tanggung jawab ekonomi, melainkan juga aktif dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Banyak ayah modern yang terlibat langsung mengganti popok, mengantar anak ke sekolah, atau hadir di setiap momen penting kehidupan keluarga.
Lebih dari itu, Hari Ayah menjadi pengingat pentingnya kesetaraan peran antara ayah dan ibu. Membangun keluarga yang harmonis bukanlah tugas salah satu pihak, melainkan kolaborasi yang dilandasi cinta dan tanggung jawab bersama.
Harapannya, peringatan Hari Ayah Nasional dapat menjadi tradisi besar yang sejajar dengan Hari Ibu Nasional setiap 22 Desember. Jika Hari Ibu berakar dari semangat emansipasi perempuan, maka Hari Ayah hadir bukan untuk menuntut kesetaraan di ruang publik, melainkan untuk menumbuhkan kebanggaan atas peran ayah dalam keluarga dan masyarakat.
Selamat Hari Ayah Nasional untuk seluruh ayah hebat di Indonesia. Ayah sosok tangguh yang mungkin tak selalu terlihat, namun selalu menjadi alasan kita berdiri tegar menghadapi dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


