Dari Garut ke Dunia Digital
Di tengah hamparan pegunungan dan sawah Garut, Jawa Barat, lahir kisah tentang seorang anak muda yang membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tempat kecil. Dewis Akbar, alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Ilmu Komputer, memilih untuk kembali ke kampung halamannya setelah menempuh pendidikan tinggi. Keputusan itu bukan karena keterpaksaan, melainkan panggilan hati untuk mengabdi.
Ia menyadari bahwa di balik kemajuan teknologi dunia, masih banyak anak-anak di pelosok yang bahkan belum pernah menyentuh komputer. Ketimpangan inilah yang menggugahnya untuk berbuat sesuatu — menciptakan jembatan antara dunia digital dan desa tempat ia dibesarkan.
Lahirnya Inovasi: Lab Komputer Mini
Dari keprihatinan sederhana, lahirlah gagasan besar: Lab Komputer Mini. Sebuah laboratorium digital berbasis perangkat murah seperti Raspberry Pi, komputer mini yang bisa dioperasikan dengan daya rendah dan biaya terjangkau.
Melalui lab ini, Dewis ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Anak-anak di Garut kini bisa mempelajari dasar pemrograman, logika berpikir, dan kreativitas digital tanpa harus memiliki komputer mahal. Ia merancang pembelajaran yang menyenangkan — penuh permainan, eksperimen, dan imajinasi.
Lab Komputer Mini bukan sekadar ruang belajar teknologi, tetapi ruang lahirnya harapan baru bagi generasi muda pedesaan.
STEAM Club dan Gamelan Digital
Tak berhenti pada laboratorium, Dewis mendirikan STEAM Club Indonesia — wadah pembelajaran yang menggabungkan sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika. Di klub ini, anak-anak diajak memahami bahwa teknologi bukan sekadar soal kode dan mesin, tetapi juga tentang kreativitas dan nilai-nilai budaya.
Salah satu karya yang paling menginspirasi adalah Saron Simulator, aplikasi sederhana yang memungkinkan anak-anak memainkan alat musik tradisional gamelan secara digital. Dengan inovasi ini, Dewis membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi sahabat budaya, bukan penggantinya. Ia menanamkan nilai bahwa kemajuan tidak harus memutus akar tradisi, justru memperkuatnya dengan sentuhan modern.
Penghargaan dan Dampak Nyata
Atas dedikasinya dalam memperluas akses pendidikan teknologi di daerah, Dewis Akbar menerima SATU Indonesia Award tahun 2016 dari PT Astra International Tbk. Penghargaan tersebut menjadi bukti nyata bahwa kerja kecil dengan niat tulus mampu menghasilkan dampak besar.
Melalui Lab Komputer Mini dan STEAM Club, ratusan anak di Garut kini mengenal dunia pemrograman, robotika, dan berpikir logis sejak dini. Mereka belajar untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta dan inovator masa depan.
Kembali ke Akar untuk Tumbuh ke Langit
Kisah Dewis Akbar adalah refleksi tentang keberanian dan ketulusan. Ia memilih untuk tidak mengejar karier di kota besar, melainkan kembali ke tanah kelahiran untuk membangun generasi penerus yang melek digital. Dari ruang sederhana di Garut, ia menyalakan cahaya yang kini menerangi banyak hati dan pikiran muda di pelosok negeri.
Dewis mengajarkan kita bahwa inovasi sejati lahir dari kepedulian, bukan kemewahan. Ia menjadi bukti bahwa satu orang, satu ide, dan satu tindakan kecil bisa membawa perubahan besar. Dalam setiap anak yang tersenyum di depan layar komputer mini itu, tersimpan harapan bahwa masa depan Indonesia akan lebih cerdas, kreatif, dan berdaya.
Pesan untuk Generasi Muda
Kepada generasi muda Indonesia, kisah Dewis Akbar menyampaikan pesan yang kuat: kembalilah membangun dari tempatmu berasal. Tak perlu menunggu kesempatan besar, karena perubahan bisa dimulai dari langkah kecil. Gunakan ilmu, kreativitas, dan semangatmu untuk memberi manfaat nyata bagi sekitar.
Seperti Dewis yang menyulut api semangat dari Garut, setiap dari kita memiliki potensi untuk menjadi lentera bagi lingkungan masing-masing. Sebab, masa depan bangsa bukan hanya tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling peduli dan berani untuk berbuat.
#kabarbaiksatuindonesia
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


