Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah untuk Asian Games IV pada tahun 1962. Berusaha menjadi tuan rumah yang sukses, Indonesia bergegas membangun gelanggang olahraga berskala internasional.
Presiden Soekarno lalu menetapkan kawasan Senayan sebagai lokasi pembangunan gelanggang olahraga yang kelak dinamakan Gelora Bung Karno (GBK). Bung Karno yang juga seorang arsitek terlibat dalam konsep pembangunan.
Gagasan Bung Karno saat itu adalah atap stadion harus berbentuk oval atau sedikit bundar. Bung Karno beralasan atap bundar akan membuat penonton nyaman selama menyaksikan pertandingan, karena terhalang dari hujan dan terik matahari.
“Ide rancangan bentuk atap tersebut akhirnya disebut temu gelang yang tidak hanya megah, kokoh, namun juga fungsional dan artistik,” tulis Muhammad Rizaldy, Abdul Syukur, dan Humaidi dalam Sukarno dan Pembangunan Stadion Gelora Bung Karno di Senayan, 1959-1962 yang dimuat di Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah.
Ide dari Bung Karno ini tidak lazim digunakan, karena yang ada saat adalah konstruksi beton dari teknik compression ring atau tension ring. Ternyata gagasan temu gelang ini didapatkan oleh Bung Karno ketika berkunjung ke Moskow.
“Dalam kunjungan ke Uni Soviet, Soekarno berkesempatan mengunjungi Museum Seni Luksi Tretyakovskaya, Kota Leningrad, Istana Pionir, Museum L’Hermitage dan Stadion Raksasa Pochtakor,” tulisnya.
Dibantu kuli dari Uni Soviet
Bung Karno sebagai seorang arsitek berkeyakinan bahwa gagasan spektakulernya ini dapat terwujud. Banyaknya tantangan seperti faktor iklim di Indonesia dengan tiupan angin yang kencang hampir tiap hari, tak mengendurkan Bung Karno.
Bung Karno bahkan meminta teknisi dari Uni Soviet untuk membantu gagasannya tersebut. Walau teknisi dari Soviet beberapa kali mengatakan hal itu mustahil, Bung Karno tetap menegaskan atap stadion kebanggan Indonesia harus temu gelang.
“Dan sekarang terbukti benar saudara-saudara, di mana-mana model atap stadion temu gelang dikagumi di seluruh dunia. Bahwa Indonesia mempunyai satu-satunya main stadium yang atapnya temu gelang. Sehingga benar-benar memukai kepada siapa saja yang melihat,” jelasnya.
Dijelaskan oleh Rizaldy, pembangunan stadion ini menggunakan beton bertulang. Karena menggunakan sistem teknologi tersebut, pembangunan kompleks olahraga dapat selesai lebih cepat dari jadwal.
Pada saat puncak penyelesaian, dikatakan olehnya, lebih dari 40 sarjana teknik dari Indonesia dari siang hingga malam turun tangan untuk memimpin sekitar 12.000 tenaga sipil dan militer yang datang secara bergantian selama tiga shift.
“Mereka tidak hanya berasal dari Uni Soviet, melainkan juga dari Hungaria, Swiss, Jepang, Prancis dan Jerman,” ungkapnya.
Pujian dari dunia internasional
Walau pembangunan stadion berjalan lancar, masih timbul keraguan dari panitia Asian Games. Bahkan koran The Strait Times menulis sebuah tajuk utama berjudul Lonceng Kematian Asian Games akan Berbunyi dari Jakarta.
Mencoba menenangkan panitia, Sri Sultan Hamengkubuwono XI mengundang para executive committee Asian Games Federation (AGF) ke Jakarta pada April 1962. Sesudah mereka melihat langsung, kekhawatiran itu seketika lenyap.
“Pada executive committee mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ketakutan Asian Games IV akan diundur tidak beralasan, dan Asian Games IV akan dimulai sesuai dengan rencana semula, pada tanggal 24 Agustus 1962,” jelasnya.
Stadion GBK akhirnya selesai pada bulan Juli 1962. Mimpi Indonesia untuk mempunyai stadion berkapasitas 100 ribu orang akhirnya menjadi kenyataan. Gagasan Bung Karno yang ingin mempunyai stadion dengan atap temu gelang ternyata bukan pepesan kosong.
Hal yang menarik adalah keindahan dari Stadion GBK ketika itu begitu memukau dunia.
Bahkan stadion ini mendapatkan pujian dari majalah mingguan terbitan Hong Kong, The Asia Magazine.
“Konstruksi stadion tersebut tidak ada tandingannya di dalam sejarah olahraga Asia, bahkan mungkin dunia.”
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


