Rumah Baca Pulau Pramuka bukan rumah baca biasa. Di sana, semangat literasi dan kebanggaan sebagai anak pulau selalu menyala.
Bangunan itu tidak besar, panjang dan lebarnya hanya sekitar 4 meter. Di satu sisinya, berdiri sebuah rak buku, sementara di sisi lainnya ada meja berbentuk memanjang yang di atasnya juga terdapat deretan buku. Di tempat yang difungsikan sebagai rumah baca itu, anak-anak di Pulau Pramuka, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, mengisi waktunya dengan belajar sambil bersenang-senang.
Rumah Baca di Pulau Pramuka terbilang sangat sederhana. Tidak ada gedung megah atau sudut estetik nan instagrammable yang bisa dimanfaatkan untuk mendulang likes di media sosial. Meski demikian, di balik kesederhanaan itu, terpancar hasrat belajar dari anak-anak, juga semangat untuk menghidupkan semangat literasi di pulau mungil yang terletak di tengah Teluk Jakarta itu.
"Alhamdulillah masih pada mau membaca, dan mereka tertarik pada hal yang sifatnya media seperti videografi dan foto," ujar tokoh masyarakat setempat sekaligus penggerak Kampung Berseri Astra, Mahariah, saat ditemui GNFI pada Rabu (28/5/2025) lalu.
Kendati tanpa papan nama dan bentuk bangunannya tak ubahnya rumah warga pada umumnya, menemukan Rumah Baca yang berlokasi di RT 4 RW 5 Pulau Pramuka tidak akan jadi hal sulit. Maklum saja, Pulau Pramuka yang menjadi bagian dari program Kampung Berseri Astra itu luasnya hanya 16 hektar, lebih kecil dari kompek perumahan sekalipun.
Rumah Baca Pulau Pramuka didirikan pada 2015, tahun yang sama saat program Kampung Berseri Astra mulai dijalankan di pulau yang dulunya dikenal dengan nama Pulau Elang itu. Idenya berawal dari kebutuhan bahan bacaan untuk mendukung kegiatan edukasi lingkungan untuk anak-anak bertajuk Kelas Iklim.
"Waktu itu kita punya Kelas Iklim, kelas untuk edukasi anak-anak PAUD, SD. dan SMP. Mereka butuh referensi untuk belajar," papar Mahariah.
Mulanya, Rumah Baca Pulau Pramuka didirikan di dekat hutan bakau. Namun, beberapa pohon di sekitarnya tumbang sehingga lokasinya harus dipindah. Jadilah, buku-buku diselamatkan dan dibawa ke tempat baru yang ditempati hingga saat ini.
Rumah Baca Pulau Pramuka tidak mengenal jam operasional dan buka setiap saat. Namun, biasanya anak-anak akan ramai berdatangan pada sore hari setelah jam sekolah usai.
"Anak-anak itu kan pulang sekolah, main, bersepeda, (lalu) biasa mampir. Jadi dibuka setiap saat (agar) mereka bisa main di sini," kata Mahariah yang juga merupakan tokoh penggerak Kampung Berseri Astra di Pulau Pramuka.
Untuk urusan pengadaan buku koleksi, Taman Baca Pulau Pramuka membeli sendiri sebagian di antaranya. Sebagian lainnya didapat dari sumbangan berbagai pihak, mulai dari perseorangan hingga Perpustakaan Nasional.

Selain anak-anak yang ramai bermain dan belajar, orang dewasa seperti Mahariah pun tak ketinggalan ikut memeriahkan suasana di Rumah Baca. Warga Pulau Pramuka memang kerap mengadakan aneka kegiatan positif untuk anak-anak, terutama saat akhir pekan tiba.
Tak hanya membaca buku, anak-anak juga diajak untuk melakukan aktivitas lainnya, seperti membuat foto dan video. Dengan cara ini, anak-anak membuat karya berupa dokumentasi atas berbagai hal yang ada di Pulau Pramuka mulai dari keindahan laut dan pantai, hingga seluk-beluk kehidupan masyarakatnya.
Malam Hari Raya Idulfitri adalah puncak keramaian di Taman Baca Pulau Pramuka. Saat momen itu tiba, warga akan diundang untuk datang ke Taman Baca untuk menyaksikan festival film dokumenter. Nah, video dokumenter karya anak-anaklah yang diputar dan dilombakan di sana.
"Hasil yang mereka bikin itu ditayangkan, kita undang masyarakat untuk nonton, untuk berefleksi," tutur Mahariah.
Menghidupkan Literasi dan Kebanggaan sebagai Anak Pulau
Bagi warga Pulau Pramuka, menjaga semangat literasi tentu jadi tantangan tersendiri, terutama di tengah "godaan" penggunaan gadget saat ini. Meski demikian, warga punya cara agar anak-anak agar mau terus belajar dan membaca: Menumbuhkan kebanggaan sebagai anak pulau.
Dengan adanya kebanggaan sebagai anak pulau, anak-anak Pulau Pramuka diharapkan terdorong untuk terus menggali pengetahuan dan membuat dokumentasi tentang pulau tempat tinggalnya. Bagi Mahariah dan para pegiat Rumah Baca lainnya, gadget juga tidak dianggap sebagai hal yang harus dihindari. Sebaliknya, anak-anak justru diarahkan untuk memanfaatkan gadget sebagai sarana belajar.
"Kita ajari mereka fotografi, videografi, untuk merekam aktivitas mereka sehari-hari. Dari sana, mereka cari referensi dan akhirnya mereka mau membaca," demikian dijelaskan Mahariah.

Pulau Pramuka yang kecil memang menyimpan banyak cerita untuk didokumentasikan. Di tengah perbincangannya dengan GNFI, Mahariah mengambil sebuah buku dari rak. Buku itu berisi sejarah Pulau Pramuka dan Pulau Panggang. Ia membukanya, lalu menunjukkan sebuah halaman bergambar peta.
"Kita punya tiga pulau yang saling terintegrasi dan cerita tentang itu ada di buku ini, cerita tentang makam orang-orang pertama, terus kebiasaan masyarakatnya apa," ujarnya.
Mahariah bercerita bahwa sejarah Pulau Pramuka bermula dari pulau tetangganya, yakni Pulau Panggang. Alkisah pada zaman dahulu, banyak penduduk Pulau Panggang yang sudah begitu padat berpindah ke Pulau Pramuka. Merekalah orang-orang yang bisa dikatakan sebagai leluhur penduduk Pulau Pramuka.
"Kita punya dua makam kuno di barat dan timur. Kita meyakini bahwa merekalah orang-orang awal yang menempati pulau. Kita punya legenda namanya legenda Pulau Panggang," kisahnya.
Menurut Mahariah, memiliki kebangaan sebagai anak pulau adalah hal yang penting bagi-anak-anak. Lebih dari sekadar untuk membuat dokumentasi, anak-anak diharapkan tidak lupa akan jati dirinya sebagai bagian dari masyarakat Pulau Pramuka.
"Supaya jangan lupa dia berasal dari mana. Kan banyak sekali suku bangsa yang boleh jadi hilang karena tidak suka baca dan menulis, tidak suka mendokumentasikan kegiatan-kegiatan mereka," katanya lagi.
Dengan demikian, semangat literasi sekaligus kebanggaan sebagai anak pulau terus terjaga di Rumah Baca. Bangunan sederhana di tepi pantai itu tidak hanya menjadi lokasi belajar, melainkan juga tempat di mana anak-anak dapat menggali cerita akan tempat tinggalnya, masyarakat di sekitarnya, dan tentunya dirinya sendiri yang mana itu semua membentuk identitasnya.
"Jadi kita mau dorong mereka bikin dokumen sendiri supaya mereka punya pegangan atas riset mereka. Mereka ketemu kita jadi orang pulau yang saat ini begini. Tapi kan mereka harus cari benang merahnya ke masa lalu. Itu yang kita sebut bangga jadi orang pulau," pungkas Mahariah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


