Pernahkah Kawan GNFI terpikir ke mana perginya sisa makanan di piring setelah kita kenyang? Di dapur-dapur rumah, restoran, dan hotel, ribuan ton makanan masih layak konsumsi berakhir begitu saja di tempat sampah. Ironi yang begitu nyata di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi—subur dan berlimpah, tetapi masih banyak perut yang kosong menahan lapar.
Dari kegelisahan semacam itulah, seorang pemuda bernama Kevin Gani mulai melangkah. Ia percaya bahwa makanan yang tersisa bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari perubahan. Melalui Garda Pangan, sebuah social enterprise yang berdiri di Surabaya sejak 2017, Kevin bertekad menjembatani jurang antara kelimpahan pangan dan kelaparan yang masih menjadi wajah nyata di Indonesia
Semua berawal dari satu peristiwa kecil yang membekas di hati Kevin. Saat ikut membagikan makanan di kawasan Joyoboyo, Surabaya, ia bertemu seorang nenek yang menerima makanan dan menaruhnya di gayung, karena tak memiliki piring. Kejadian itu membuat Kevin terdiam dan sadar bahwa sisa makanan yang sering dibuang sebenarnya bisa menjadi penyelamat bagi orang lain.
Dari pengalaman itulah lahir Garda Pangan. Bersama rekan-rekannya, Kevin mengembangkan gerakan penyelamatan makanan (food rescue) yang mengumpulkan makanan berlebih dari hotel, restoran, katering, bakery, hingga acara besar seperti pernikahan. Setelah melewati uji kelayakan dan pengemasan ulang, makanan itu disalurkan kepada masyarakat pra-sejahtera, anak yatim, difabel, hingga lansia terlantar.
Kini, setelah delapan tahun berjalan, Garda Pangan telah menyelamatkan lebih dari 665 ribu porsi makanan dan menjangkau lebih dari 29 ribu penerima manfaat di 205 lokasi di Surabaya dan Sidoarjo. Namun Kevin tidak berhenti di sana. Ia membawa Garda Pangan ke level baru dengan menggabungkan ilmu sains dalam misi sosialnya.
Melalui konsep circular bioeconomy, Kevin dan timnya mengolah limbah makanan tak layak konsumsi menjadi sumber daya baru. Salah satu inovasinya adalah penggunaan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai limbah organik menjadi pakan ternak alternatif yang tinggi protein dan ramah lingkungan. Proses ini mampu mengurai hingga 70 persen limbah organik hanya dalam beberapa hari. Selain menekan ketergantungan terhadap pakan impor, inovasi ini juga berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 533,9 ribu kilogram serta mengurangi timbunan di tempat pembuangan akhir (TPA).
Bagi Kevin, penyelamatan pangan bukan sekadar aksi sosial, melainkan gerakan menyeluruh yang memadukan sains, perubahan perilaku konsumsi, dan kebijakan publik demi mewujudkan keadilan pangan serta menjaga kelestarian lingkungan. Garda Pangan juga aktif mengedukasi masyarakat lewat kampanye media sosial seperti #StopFoodWaste, pelatihan pengelolaan sampah organik, hingga program “Ugly Produce” yang mengajarkan bahwa hasil panen tak sempurna pun tetap bernilai.
Di balik gerakan ini, Kevin selalu mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi masalah besar. Berdasarkan data The Economist Intelligence Unit (2022), Indonesia menempati posisi kedua penghasil sampah makanan terbesar di dunia di antara negara-negara G20. Setiap tahun, sekitar 23–48 juta ton makanan terbuang, menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp213–551 triliun, atau sekitar lima persen dari PDB nasional. Padahal, menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 40 persen dari total sampah di TPA berasal dari sisa makanan.
Di tengah itu, Garda Pangan hadir sebagai contoh nyata bahwa solusi bisa dimulai dari hal sederhana. Mereka menjalankan hirarki penyelamatan makanan (food recovery hierarchy) yang menekankan langkah-langkah berkelanjutan yaitu dengan mengurangi sumber sampah makanan, membagikan makanan layak konsumsi, menjadikannya pakan ternak, dan terakhir mengolah sisa organik menjadi kompos.
Atas dedikasinya, Kevin menerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2024 sebagai Pejuang Pangan Berkelanjutan dan Youth Climate Warrior 2025 dari IDN Times. Melalui Garda Pangan, ia membuktikan bahwa tindakan kecil seperti menyelamatkan satu piring makanan dapat membawa perubahan besar bagi manusia dan lingkungan. Kisahnya mengajarkan bahwa kepedulian, inovasi, dan ilmu pengetahuan dapat berpadu menjadi kekuatan untuk membangun sistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan di Indonesia.
Kawan GNFI, kisah Kevin Gani mengingatkan kita bahwa perubahan besar bisa lahir dari hal sederhana, dari sisa makanan yang tak dibuang, dari tangan yang mau berbagi, dan dari hati yang percaya bahwa kebaikan sekecil apa pun tak pernah sia-sia. Sebab di tangan orang yang peduli, sisa makanan tak lagi menjadi sampah, melainkan membawa berkah bagi banyak orang.
#kabarbaiksatuindonesia
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


