Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan bahwa Prasasti Yupa dari abad ke-4 Masehi resmi diusulkan sebagai nominasi Memory of the World (MoW) UNESCO. Artefak bersejarah ini dianggap sebagai bukti tertulis tertua di Nusantara sekaligus menjadi simbol penting transisi dari masa prasejarah menuju sejarah.
Sebelumnya, Indonesia telah memiliki 16 warisan dokumenter yang diakui UNESCO, mulai dari naskah kuno, arsip sejarah, hingga catatan budaya. Namun, belum ada satupun yang mewakili periode peradaban awal Nusantara. Oleh karena itu, kehadiran Yupa menjadi sangat strategis, bukan hanya sebagai dokumen sejarah, melainkan juga sebagai simbol kebangkitan peradaban maritim di wilayah Asia Tenggara.
Bukti Kontak Maritim Awal dan Asimilasi Budaya
Prasasti Yupa ditemukan di Kutai, Kalimantan Timur, dan ditulis dengan aksara Pallawa serta bahasa Sanskerta. Hal ini menunjukkan adanya jejak awal kontak maritim Nusantara dengan India pada abad ke-4. Dari isi prasasti, tergambar kemampuan bangsa Kutai dalam mengadaptasi pengaruh agama Hindu, sistem aksara, hingga tata politik, namun tetap memadukannya dengan kearifan lokal.
Fadli Zon menekankan, Yupa tidak hanya berfungsi sebagai prasasti peringatan, tetapi juga sebagai cerminan peradaban awal Nusantara yang sudah terbuka terhadap interaksi global. Keberadaan Yupa membuktikan bahwa masyarakat di Kalimantan Timur pada masa itu memiliki sistem sosial-politik yang cukup maju dengan kepemimpinan raja Mulawarman.
Kriteria Pengajuan ke UNESCO
Usulan Yupa sebagai MoW UNESCO didasarkan pada tiga kriteria utama:
Keaslian (Authenticity): Tujuh Yupa yang tersimpan di Museum Nasional telah terverifikasi keasliannya.
Nilai Universal (Universal Value): Yupa diakui sebagai warisan dunia karena memiliki arti penting bagi sejarah global, bukan hanya Indonesia.
Risiko Kelangkaan (Rarity): Sebagai prasasti batu andesit berusia lebih dari 1.600 tahun, Yupa sangat rentan terhadap kerusakan akibat pelapukan.
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan telah melakukan langkah perlindungan dengan digitalisasi 3D, pembuatan replika, serta riset multidisipliner untuk menjaga warisan ini tetap lestari.
Fadli Zon berharap, dengan masuknya Yupa ke daftar Memory of the World UNESCO, Indonesia semakin dikenal sebagai bangsa dengan sejarah peradaban panjang. Lebih jauh, pengakuan ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi budaya global sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menghargai warisan leluhur.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


