cak ncop prediksi akan ada fenomena nostalgia teknologi di 2045 - News | Good News From Indonesia 2025

Cak Ncop Prediksi Akan Ada Fenomena Nostalgia Teknologi di 2045

Cak Ncop Prediksi Akan Ada Fenomena Nostalgia Teknologi di 2045
images info

Cak Ncop Prediksi Akan Ada Fenomena Nostalgia Teknologi di 2045


Supyan Hadi alias Cak Ncop adalah seniman asal Jawa Timur yang berkarya dalam seni digital. Sejumlah karya sosok yang berdomisili di Yogyakarta ini pernah menjadi bahan pembicaraan dalam beberapa tahun lalu.

Tepatnya pada 2023. Saat itu sebuah foto ilustrasi berjudul “Jogja Ora di-Doll” beredar di internet melalui akun Instagram-nya, @ckncp.

Ilustrasi itu menarik perhatian sebab ada boneka serupa boneka bikinan seniman Amerika Serikat, Kaws. Menjadi semakin viral karena boneka tersebut ada di tumpukan sampah yang menyiratkan kritik tentang isu darurat sampah di Yogyakarta.

Sebagai seniman yang memanfaatkan teknologi, Cak Ncop memiliki visi jauh ke depan termasuk mengenai Indonesia tahun 2045. Menurutnya pada tahun itu fenomena nostalgia terhadap teknologi.

Pergeseran Fungsi Seni

Teknologi terus berkembang dari tahun ke tahun. Munculnya kecerdasan buatan (AI) hingga gawai yang kian mutakhir, membuat manusia yang memakainya jadi dimanjakan dengan kemudahan dalam beraktivitas khususnya saat bekerja.

Bagi Cak Ncop sendiri, perkembangan teknologi arusnya berputar (recycle). Ia melihat anak-anak generasi terkini atau Gen Alpha memiliki keinginan besar hal-hal tradisional di luar teknologi.

“Saya pakai sampling anak saya aja. Ternyata punya keinginan besar untuk hal-hal tradisional karena teknologi sudah ada, mereka terasa gampang,” ucap Cak Ncop kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Cak Ncop pun menilai sikap bernostalgia dengan teknologi terdahulu akan terus ada pada manusia untuk tahun-tahun berikutnya. Termasuk untuk tahun 2045 mendatang, yang mungkin ada kejemuan dari beberapa atau banyak manusia dikepung dengan teknologi yang lebih maju daripada sekarang.

“Kerinduan akan barang nyata itu akan muncul. Lalu pasti dengan naluri manusiawi saya rasa mereka akan kembali mencoba teknologi-teknologi terdahulu,” ungkapnya.

Penggunaan AI

Adapun Cak Ncop mengakui pengunaan AI dalam ilustrasi yang diciptakannya sudah dilakukannya sebelum semasif sekarang. Namun, apa yang dibuatnya tidak murni dengan AI saja karena tetap memadupadankan dengan manipulasi foto dan desain grafis yang dimilikinya.

“Idenya ada di kepala saya lalu coba saya visualisasikan. Sangat terbantu oleh AI karena kemampuan AI untuk memvisualisasikan gambar yang fotografis waktu itu sebagai pengukuran sebenarnya,” ucap Cak Ncop.

Karya seni dari prompting AI kini ramai dipakai banyak orang. Namun, untuk sejumlah kalangan karya seni dari AI kerap dianggap kurang nilainya karena tidak dihasilkan dari proses kreatif maksimal dari manusia yang menciptakannya.

Cak Ncop paham akan kritik tersebut. Akan tetapi, ia meyakini AI juga bisa disebut karya seni karena sebelum selesai diwujudkan tetap ada proses yang melibatkan manusia.

“Selama ada proses crafting, proses berkeringat dan berdarah-darah. Saya mohon maaf kalau ngomongin tentang itu sebagai karya seni atau apapun. Mohon maaf jika salah, tapi menurut saya pribadi sudah absah (AI) disebut karya seni karena ada proses di belakangnya. Pengukurannya seberapa proses penciptaan karya itu,” ujarnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.