merayakan hut asean ke 58 dengan menjelajahi potret masyarakat asia tenggara tempo dulu - News | Good News From Indonesia 2025

Merayakan HUT ASEAN ke-58 dengan Menjelajahi Potret Masyarakat Asia Tenggara Tempo Dulu

Merayakan HUT ASEAN ke-58 dengan Menjelajahi Potret Masyarakat Asia Tenggara Tempo Dulu
images info

Merayakan HUT ASEAN ke-58 dengan Menjelajahi Potret Masyarakat Asia Tenggara Tempo Dulu


Tepat pada tanggal 8 Agustus 2025 ASEAN merayakan hari lahirnya yang ke-58 tahun. ASEAN merupakan organisasi negara-negara Asia Tenggara yang didirikan dengan tujuan untuk menghadirkan kesejahteraan dan stabilitas untuk masyarakat di Asia Tenggara. 

Sebelum ASEAN terbentuk, interaksi dan keterkaitan antar masyarakat di Asia Tenggara sudah terjalin sejak berabad-abad lalu melalui perdagangan dan hubungan politik. Fakta historis ini dapat dijadikan sebagai pengokoh jalinan persaudaraan di tengah masyarakat dan pemangku kepentingan ASEAN.

Hal yang patut digarisbawahi adalah masyarakat Asia Tenggara memiliki kesatuan hidup dan peradaban yang sama meskipun corak budaya dan kehidupan masyarakat yang beragam di tiap negara. 

baca juga

Bentuk perayaan HUT ASEAN kali ini kita wujudkan dengan pembahasan sejarah masyarakat Asia Tenggara abad 15-17. Kawan GNFI penasaran bagaimana sih masyarakat Asia Tenggara tempo dulu? Mari simak pembahasannya!

Negara-negara Kerajaan Pengekspor Beras

Penanaman Padi di Jawa Tengah | Foto: unsplash| Nuril Fikriyah

Sampai hari ini bagi masyarakat Indonesia ada anggapan belum makan jika belum makan nasi. Sebagian besar masyarakat Asia Tenggara mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokoknya. Namun, sudah sejak lama Indonesia impor beras dari berbagai negara. Mengutip CNBC, pada Januari-Februari 2025 Indonesia mengimpor beras sebanyak 95 ribu ton. Meskipun tingkat impor beras awal tahun 2025 dinilai telah menurun 89% dari awal tahun 2024. 

Secara historis pada abad 15 wilayah-wilayah di Indonesia menjadi pengekspor beras di Asia Tenggara. Anthony Reid dalam buku Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 mencatat bahwa pengekspor padi terbesar adalah wilayah Jawa. 

Tanah di Jawa cenderung subur terutama di wilayah sepanjang pantai utara, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Malang. Wilayah-wilayah penghasil beras ini menjadi pemasok beras untuk Malaka, Banjarmasin, Maluku, dan kota pelabuhan besar di Jakarta dan Banten. 

Jawa Tengah tercatat mengekspor beras ke Malaka sebanyak lima sampai enam puluh jung (sekitar 15.000 ton) per tahun pada abad ke-16. 

Tidak hanya di pulau Jawa, di daerah Maros, Sulawesi, beras juga menjadi komoditas ekspor. Perdagangan beras di Maros dikuasai oleh raja dan pelanggannya adalah pedagang Eropa. Maros dapat mengekspor beras lebih dari 1.000 ton per tahun meskipun setelahnya terjadi penurunan ekspor karena bertambahnya penduduk. 

Di luar Indonesia, Thailand juga menjadi kerajaan pengekspor beras bahkan sampai saat ini masih menjadi salah satu negara eksportir beras terbesar kedua setelah India. Pada abad 16, Siam (nama lama Thailand) mengekspor 30 jung beras ke Malaka setiap tahun. Satu jung diperkirakan mengangkut 400-500 ton metrik beras. 

Kesehatan Jasmani Masyarakat Asia Tenggara

Telah banyak catatan penjelajah asing yang terkagum-kagum dengan kesehatan masyarakat Asia Tenggara. Di Aceh misalnya, pengunjung dari Persia mengungkapkan jika langkanya penyakit selain penyakit tua yang diidap masyarakat Aceh. Masyarakat Asia Tenggara dapat mencapai usia tuanya dengan kesehatan jasmani yang sangat baik. 

Orang-orang Eropa yang datang ke Asia Tenggara mengatakan bahwa orang-orang Asia Tenggara begitu sehat karena cuaca yang bagus. Menurut pengamatan mereka hampir tidak ada satu orang pun yang bongkok, lumpuh, rapuh, dan tuli. Mungkin hanya sebagian kecil masyarakat yang punya penyakit khas/khusus. 

Berdasarkan catatan perjalanan Frank S. Marryat dalam buku Kalimantan Tempo Doeloe, orang-orang Dayak yang ia temui memiliki tinggi rata-rata lima kaki, badan kekar, kondisi bugar, dan tungkai proporsional. 

Kesehatan jasmani masyarakat Asia Tenggara tidak terlepas dari gaya hidup yang baik seperti makanan, obat-obatan, dan ilmu kesehatan. 

Dalam hal makanan masyarakat Asia Tenggara yang berada di pesisir dan dekat sungai lebih banyak mengkonsumsi ikan. Marco Polo menyebut ikan di Asia Tenggara adalah yang terbaik di dunia. Melimpahnya buah-buahan juga menjadi salah satu kekhasan kawasan Asia Tenggara yang berdampak pada kesehatan masyarakatnya. 

Makanan-makanan yang dibuat oleh masyarakat Asia Tenggara seringkali menggunakan rempah-rempah yang teruji membawa khasiat baik bagi tubuh. Rempah-rempah ini pula yang membawa para pedagang dari negeri jauh sampai ke Asia Tenggara khususnya Maluku yang terkenal sebagai pulau rempah dan berakhir dengan penjajahan. 

Dalam penggunaan obat-obatan, masyarakat Asia Tenggara biasa menggunakan ramuan seperti jamu dan obat yang diwarisi secara turun temurun. Ramuan berbahan tumbuhan dari alam, pijat, dan mandi menjadi sistem pengobatan yang khas di Asia Tenggara. 

Kebiasaan masyarakat mengunyah sirih dan pinang juga ternyata berperan dalam kesehatan. Selain sebagai budaya sosial, ternyata sirih juga bisa digunakan untuk infeksi mata, luka, dan sakit menstruasi. Sedangkan campuran pinang bisa membunuh parasit di usus. 

baca juga

Perempuan Asia Tenggara

Kaum perempuan di Asia Tenggara memiliki peran besar dalam segi-segi kehidupan sosial masyarakat khususnya di perekonomian pasar. Tercatat lebih dari 25% perekonomian pasar dipegang oleh perempuan: 56% di Thailand, 51% di Filipina, 47% di Myanmar, 31% di Indonesia. 

Banyak laporan dari pedagang Eropa yang menuliskan bahwa kaum perempuan Asia Tenggara banyak mengurus transaksi dagang, penukaran uang, membuka usaha dagang, dan urusan keuangan keluarga. 

Salah satu tokoh perempuan yang punya peranan penting dalam perekonomian adalah Nyai Gede Pinateh, seorang pedagang muslim yang di tahun 1500 memegang jabatan sebagai syahbandar Gresik dan mengirimkan perahu-perahu untuk berdagang di Bali, Maluku, dan Kamboja. 

Selain sebagai syahbandar ternyata perempuan di Asia Tenggara juga berperan sebagai perantara dalam diplomasi perdagangan. Para perempuan yang menjadi perantara biasanya fasih beberapa bahasa untuk menghubungkan kepentingan pedagang luar dengan kerajaan. 

Lebih hebatnya lagi, prajurit perempuan juga kerap dibentuk di beberapa kerajaan yang bertugas sebagai pengawal. Prajurit perempuan ini lihai menggunakan senjata dan diikutsertakan dalam arak-arakan kerajaan. 

baca juga

Bahkan seorang perempuan di Kerajaan Aceh bernama Laksamana Keumalahayati dijadikan sebagai panglima angkatan laut pada masa raja Sultan al-Mukammil. Keumalahayati membentuk Armada Inong Balee yang berisi pasukan perempuan yang dilatih untuk siap berperang melawan penjajah. 

Setelah membaca artikel ini apakah kawan GNFI semakin tertarik menjelajahi sejarah Asia Tenggara? 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.