kantor bank dagang belanda tempat pribumi kaya di mataram menyimpan harta - News | Good News From Indonesia 2025

Kantor Bank Dagang Belanda, Tempat Pribumi Kaya di Mataram Menyimpan Harta

Kantor Bank Dagang Belanda, Tempat Pribumi Kaya di Mataram Menyimpan Harta
images info

Kantor Bank Dagang Belanda, Tempat Pribumi Kaya di Mataram Menyimpan Harta


Kantor Bank Dagang Belanda di Ampenan merupakan sebuah bangunan bersejarah yang berdiri sebagai saksi bisu perkembangan kota Ampenan sebagai pusat perdagangan di masa kolonial. Terletak di kawasan eks Pelabuhan Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), gedung yang bergaya Art Deco ini telah berusia lebih dari seratus tahun. Meski usianya yang telah mencapai 131 tahun, gedung ini tetap berdiri tegak, seolah tak tergerus oleh waktu.

Sejarah Gedung Bank Dagang Belanda

Menurut laporan Antara, Bank Dagang Belanda pertama kali dibangun pada akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1890-an. Bangunan yang bercat putih ini menjadi bagian penting dari jaringan perbankan yang didirikan oleh kolonial Belanda untuk mendukung kegiatan ekonomi di wilayah ini. Meskipun berusia tua, gedung ini masih menunjukkan ketahanan struktural yang luar biasa, menjadi bukti kualitas konstruksi yang tinggi pada masa itu.

Lokasinya yang berada di bagian kanan kawasan eks Pelabuhan Ampenan, memberikan gambaran betapa pentingnya peran bank ini dalam mendukung perdagangan dan perekonomian masyarakat setempat pada masa kolonial. Bahkan, hingga kini, gedung ini masih menjadi salah satu bangunan yang menarik perhatian para wisatawan yang datang untuk melihat lebih dekat sejarah kota Ampenan.

Peran Bank Dagang Belanda dalam Ekonomi Kolonial

Sebagai bagian dari politik etis yang diterapkan oleh Belanda pada abad ke-19, Bank Dagang Belanda didirikan sebagai bentuk balas budi pemerintah kolonial kepada masyarakat pribumi. Budayawan Sasak, Lalu Sajim, menjelaskan bahwa politik etis ini berfokus pada tiga sektor utama: pendidikan, irigasi, dan ekonomi. Dalam bidang ekonomi, Bank Dagang Belanda hadir sebagai lembaga yang mendukung kegiatan perekonomian lokal dengan memberikan fasilitas tabungan kepada masyarakat pribumi yang mulai berkembang secara ekonomi.

“Bank Dagang Belanda dulunya diperuntukkan sebagai tempat menabung bagi pribumi yang memiliki perekonomian mapan, seperti petani yang berhasil mengelola hasil pertaniannya,” ungkap Lalu Sajim.

Masyarakat yang kaya pada masa itu dapat menempatkan hasil panen mereka di bank tersebut, yang menjadi simbol kemajuan ekonomi bagi sebagian besar pribumi yang mampu berbisnis.

Ciri Khas Arsitektur Bank Dagang Belanda

Salah satu hal yang menarik dari bangunan Bank Dagang Belanda ini adalah arsitekturnya yang khas. Gedung ini memiliki dua belas jendela besar yang tidak ditemukan di banyak bangunan lain pada masa itu. Ciri khas ini menjadi daya tarik bagi para pengunjung yang ingin memahami lebih dalam mengenai desain bangunan kolonial.

Mik Sajim, seorang tokoh budaya setempat, mengungkapkan bahwa kekokohan bangunan ini dapat dijelaskan oleh kualitas material yang digunakan dalam konstruksinya.

"Bangunan ini dibangun menggunakan kapur dari Sekotong, Lombok Barat, dan batu dari Jangkuk, Narmada, yang sangat kuat. Batu-batu tersebut dibersihkan secara teliti, dan hasilnya terlihat pada Jembatan Gantung di Gerung yang dibangun pada tahun 1936," jelas Mik Sajim.

Kondisi Gedung yang Memprihatinkan

Meskipun memiliki nilai sejarah yang besar, keadaan gedung Bank Dagang Belanda kini cukup memprihatinkan. Pemerintah setempat telah menutup area depan gedung untuk menghindari kerusakan lebih lanjut akibat vandalisme, tetapi kondisi gedung di Kota Tua Ampenan ini semakin memudar.

Sejumlah kalangan, termasuk pemandu wisata siswa Reza Fahreza, berharap agar pemerintah kota Mataram melakukan renovasi gedung ini untuk menjadikannya sebagai tempat wisata edukasi yang menginspirasi.

"Sangat kami sayangkan Gedung Bank Dagang Belanda yang dulunya berperan besar dalam perdagangan nasional, kini terbengkalai. Kami berharap pemerintah kota Mataram merenovasi gedung ini untuk menjadi cagar budaya dan destinasi wisata sejarah," ujar Reza.

Harapan untuk Pelestarian Cagar Budaya

Menurut Mik Sajim, gedung yang dulunya menjadi pusat kegiatan perbankan ini harus dihargai sebagai bagian dari warisan sejarah yang tak ternilai. “Kami berharap bangunan ini dapat dipertahankan dan diakui sebagai cagar budaya, karena ini adalah peninggalan sejarah dari abad ke-19 yang sangat berharga,” pungkas Mik Sajim.

Sementara itu, pemerintah dan masyarakat setempat terus mendorong pelestarian bangunan bersejarah ini, yang menjadi simbol penting dari era kolonial di NTB. Upaya untuk menjadikannya sebagai cagar budaya akan memastikan bahwa generasi mendatang dapat belajar dari sejarah yang terkandung di dalamnya, sekaligus menjaga warisan budaya yang ada di Kota Ampenan.

Dengan upaya pelestarian yang tepat, diharapkan Kantor Bank Dagang Belanda tidak hanya akan menjadi saksi sejarah, tetapi juga menjadi pusat edukasi yang menarik bagi masyarakat dan wisatawan.

Sumber:

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.