Limbah penggilingan padi selama ini kerap dianggap tak berguna. Begitu pula di Desa Purwabakti, Kabupaten Bogor, yang dikenal sebagai salah satu desa agraris di wilayah tersebut. Sekam padi yang merupakan hasil samping dari proses penggilingan gabah, sering kali hanya menumpuk atau dijual dengan harga sangat rendah tanpa nilai tambah yang signifikan.
Namun, berkat kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKNT-I) IPB University tahun 2025, sekam padi tersebut kini bertransformasi menjadi sumber ekonomi baru, berupa briket arang sekam.
Sebagai desa dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani, Desa Purwabakti menghasilkan puluhan ton gabah setiap musim panen. Dalam proses penggilingan, jumlah sekam yang dihasilkan pun melimpah.
Sayangnya, pemanfaatannya selama ini masih sangat terbatas. Dari hasil wawancara dengan Bapak Handi, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat, diketahui bahwa sekam padi biasanya hanya dijual dalam bentuk mentah sebagai bahan alas kandang ayam atau campuran pakan ternak.
“Itu juga enggak selalu dibeli, Kawan. Musiman saja, kadang ada yang ambil, kadang enggak. Penjualannya juga enggak pasti, kadang per karung cuma tiga sampai empat ribu rupiah. Bahkan kadang ya sudah, diambil saja sesuka mereka. Yang penting sekamnya enggak menumpuk,” ujar Pak Handi.
Situasi tersebut menggambarkan betapa rendahnya nilai jual sekam padi dan belum adanya sistem pengelolaan yang jelas. Melihat kondisi ini, para mahasiswa IPB melakukan pendekatan edukatif kepada masyarakat.
Mereka menghitung bahwa jika setiap hektare sawah menghasilkan sekitar 800 kilogram sekam padi, maka dari total lahan pertanian seluas ±20 hektare, Desa Purwabakti memiliki potensi menghasilkan sekitar 16 ton sekam setiap musim panen.
Jika sekam tersebut diolah menjadi briket dan dijual dengan harga pasar sekitar Rp14.000 per kilogram, maka potensi pendapatan yang bisa diperoleh masyarakat mencapai Rp224 juta per musim panen. Angka ini tentu jauh lebih besar dibandingkan menjual sekam mentah.
Pembuatan briket dilakukan melalui proses yang sederhana dan dapat diterapkan langsung oleh masyarakat desa dengan alat dan bahan yang mudah didapatkan. Proses dimulai dengan membakar sekam padi kering menggunakan wajan besi di atas api sedang.
Sekam dipanaskan selama kurang lebih 20 menit sambil terus diaduk hingga berubah warna menjadi hitam pekat. Setelah itu, arang sekam ditumbuk menggunakan alat sederhana hingga menjadi serbuk halus, lalu disaring dengan ayakan berukuran 60 mesh.
Sementara itu, tim lain menyiapkan perekat alami berupa lem kanji yang dibuat dari larutan tepung tapioka dan air yang dipanaskan hingga mengental. Serbuk arang sekam kemudian dicampur dengan lem kanji dan diaduk dalam wadah besar hingga tercampur merata.
Campuran ini lalu dicetak menggunakan cetakan briket sederhana dan ditekan hingga padat. Briket yang sudah terbentuk kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama tiga hingga empat hari tergantung kondisi cuaca.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat demonstratif, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani senior, petani milenial, hingga ibu rumah tangga yang antusias mencoba inovasi ini. Semangat gotong royong terlihat nyata dalam setiap tahap proses, mulai dari pembakaran sekam hingga proses pengemasan.
Manfaat dari inovasi ini sangatlah luas. Selain mengurangi limbah pertanian dan menghasilkan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan, pembuatan briket arang sekam juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Briket yang dihasilkan bisa dipasarkan secara offline ke berbagai titik seperti toko pertanian, pasar tradisional, dan koperasi desa. Menariknya, Desa Purwabakti yang dikenal sebagai desa wisata juga memiliki potensi untuk menjadikan briket ini sebagai produk lokal yang ditawarkan kepada pengunjung di camp ground, homestay, dan area wisata alam lainnya.
Untuk memperluas pasar, pemasaran daring juga dilakukan melalui berbagai platform e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee, serta media sosial UMKM desa. Dengan strategi ini, jangkauan pasar briket arang sekam dapat diperluas hingga ke luar wilayah desa.
Inovasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah secara tepat dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat desa, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, maupun sosial. Dari yang awalnya hanya tumpukan limbah tanpa nilai, kini sekam padi menjadi produk unggulan yang bernilai ekonomi tinggi. Inisiatif sederhana ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.
Semoga inovasi ini terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya di Indonesia untuk menggali potensi lokal dan menciptakan solusi kreatif atas permasalahan yang ada.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


