SD Muhammadiyah 7 Surabaya melaksanakan kegiatan diskusi lintas negara melalui Zoom Meeting pada Jum’at (25/7/2025). Aktivitas bertajuk “Kelas Diaspora” itu jadi yang pertama kali diselenggarakan di sekolah yang mengusung konsep ”Sekolah Inovatif” tersebut.
Terselenggara berkat kerja sama antara SD Muhammadiyah 7 Surabaya dengan LKI (Lembaga Kerjasama dan Internasionalisasi) Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) dilakukan oleh Achmad Zainuri Arif MPd selaku kepala SD Muhammadiyah 7 Surabaya dan Idda Astia SPd Hum selaku perwakilan Divisi BIPA dan mahasiswa Asing LKI UM Surabaya.
Menghadirkan 2 narasumber dari luar dan satu dari internal sekolah. Adapun yang dari luar ada Sondos Jehad Shnewra, mahasiswi asing dari Palestina yang tengah berkuliah di UM Surabaya dan Rizka Putri Aulia siswi Sekolah Indonesia Jeddah.
Sementara itu, internal diwakili oleh Quinzha Shinji Azzalea siswi kelas 2 SD Muhammadiyah 7 Surabaya.
Kelas diaspora edisi perdana diisi oleh beberapa kegiatan seperti sharing session seputar kota Surabaya oleh Quinzha. Lalu, diikuti sharing seputar Palestina oleh Sondos dan ditutup dengan sharing seputar pengalaman belajar di Jeddah oleh Rizka.
Sesi sharing pertama, Quinzha menyampaikan beberapa hal seputar Surabaya. Mulai dari sebutan City of Heroes (Kota Pahlawan),tempat bersejarah, di antaranya Jembatan merah, Tugu pahlawan, Museum dr Soetomo dan Hotel majapahit), kuliner khas (seperti lontong balap, semanggi Suroboyo, dan rujak cingur) hingga kesenian khas Surabaya (seperti tari remo dan tari lenggang).
Beranjak sesi sharing kedua, Sondos menyampaikan beberapa hal seputar Palestina, termasuk makanan dan budayanya.
Sementara itu pada sesi ketiga, Rizka menyampaikan pengalamannya selama belajar di Jeddah. Saat ini dia sudah duduk di kelas 6, di mana dia sudah berada di sana kurang lebih 12 tahun lamanya.
Dalam sharing session bersama mahasiswi asing tersebut, siswa-siswi juga diberi kesempatan untuk bertanya terkait apapun itu.
Pertanyaan yang muncul cukup bervariasi, mulai dari waktu yang diperlukan untuk belajar bahasa Indonesia, kuliner Surabaya favoritnya, hingga keadaan terkini di Palestina.
Selain sharing session, Sondos juga diajak untuk bermain permainan tradisional, seperti bakiak dan dakon. Kegembiraan tampak menghiasi wajah siswa-siswi SD Muhammadiyah 7 Surabaya.
Sondos diajari cara bermain yang benar oleh beberapa anak dan mudah memahami karena permainannya sederhana.
Achmad Zainuri Arif menuturkan, “Kegiatan kelas diaspora perdana ini semoga dapat memotivasi anak-anak untuk bersemangat belajar hingga ke luar negeri, sehingga bisa memperoleh pengetahuan serta pengalaman yang lebih luas lagi ke depannya nanti”.
Hal senada juga diungkapkan oleh Idda Astia, ”Melalui adanya kerja sama ini, LKI nantinya semoga dapat mendukung program Kelas Diaspora Edukasi Internasional ini dengan mengirimkan mahasiswa asing untuk pertukaran bahasa, budaya serta pengetahuan bagi siswa Sekolah Inovatif ini.”
Aktivitas tersebut juga turut diwarnai oleh sesi makan bersama lontong balap baik siswa-siswi maupun guru dan karyawan SD Muhammadiyah 7 Surabaya. Hidangan yang disiapkan merupakan sajian dari pedagang kaki lima yang dipesan secara khusus oleh sekolah. Dilengkapi topping sate kerang yang juga dapat dijumpai pada kuliner serupa dari Surabaya yang bernama lontong Kupang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


