Teknologi saat ini telah menjadi bagian integral dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi kalangan remaja. Dengan adanya teknologi, tentunya akan memberikan dampak yang begitu signifikan bagi kehidupan mereka.
Akan tetapi, jika dilihat dari berbagai berita atau kasus yang muncul saat ini, penggunaan teknologi di kalangan remaja banyak menyebabkan dampak negatif.
Banyak remaja yang menggunakan teknologi secara ugal-ugalan, yang justru menimbulkan berbagai permasalahan dan berdampak pada aspek psikologis, sosial, dan akademik.
Salah satu yang hal yang paling mencolok adalah kecanduan gadget dan media sosial yang mengakibatkan gangguan konsentrasi, penurunan tingkat solidaritas dan kepekaan, serta kurangnya interaksi sosial secara langsung.
Selain itu, remaja juga rentan menyebarkan konten negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, dan bahkan terlibat dalam tindakan cyberbullying.
Dampak Teknologi pada Perkembangan dan Etika Remaja
Hilangnya kesadaran terhadap etika dan privasi digital juga menjadi masalah serius, di mana remaja dengan mudah membagikan informasi pribadi atau membuat konten yang melanggar norma sosial.
Selain itu, remaja juga mudah terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif dan perilaku negatif dari media sosial, termasuk mengikuti tren atau tantangan berbahaya demi sebuah popularitas.
Berbagai masalah ini menunjukkan bahwa tanpa bimbingan dan kontrol. Teknologi yang seharusnya memberi manfaat justru dapat membawa dampak negatif yang kompleks dalam perkembangan remaja.
Permasalahan penggunaan teknologi secara ugal-ugalan oleh remaja juga erat kaitannya dengan lemahnya sikap spiritualitas dalam diri mereka. Ketika remaja lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal duniawi yang berkaitan dengan digital, mereka cenderung mengabaikan nilai-nilai spiritual seperti kesadaran diri, tanggung jawab moral, dan kedekatan dengan Tuhan.
Seperti yang telah dikatakan oleh Fitriana dkk. (2020) bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan memberi dampak negatif bagi perilaku remaja. Di antaranya yakni ketidakstabilan emosional yang mengakibatkan remaja mudah marah, emosi, gelisah, dan bahkan mengurung diri.
Rendahnya spiritualitas membuat remaja kurang memiliki kontrol diri dalam memilah konten, mudah terjerumus dalam perilaku negatif seperti menyebarkan kebencian atau pornografi. Mereka lebih mengejar akan validasi sosial dibandingkan dengan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik.
Teknologi Bisa Jadi Positif, Asalkan...
Lalu dengan melihat berbagai dampak negatif penggunaan teknologi bagi remaja diatas, lantas adakah dampak positif penggunaan teknologi bagi kalangan remaja? Ataukah hanya memunculkan dampak negatif dari penggunaan teknologi bagi kalangan remaja?.
Menurut penulis, di era gempuran saat ini, di mana menilai bahwa teknologi telah menjauhkan remaja dari nilai-nilai spiritual, sebenarnya terdapat sisi positif yang sering terabaikan.
Essay ini menekankan bahwa justru di era digital ini, spiritualitas dapat tumbuh dengan cara yang lebih kontekstual dan sesuai dengan dunia remaja.
Banyak remaja kini memanfaatkan media sosial untuk mengakses ceramah sesuai kepercayaan agama masing-masing hingga turut berkontribusi dalam menyebarkan ajarannya.
Teknologi juga memudahkan mereka untuk membentuk komunitas keagamaan online, menjaga konsistensi ibadah melalui aplikasi, dan mampu bermuhasabah lewat konten-konten inspiratif.
Hal ini tentunya berangkat dari pemahaman bahwa teknologi sejatinya hanyalah alat bantu, bukan alat utama dalam kehidupan manusia.
Teknologi bersifat netral, sehingga baik buruknya sangatlah tergantung pada bagaimana seseorang itu menggunakannya.
Teknologi adalah sistem buatan manusia yang dapat dikendalikan, bukan suatu entitas yang semestinya mengendalikan manusia.
Dalam konteks ini, remaja yang memiliki kesadaran diri dan kematangan spiritual maka dapat memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Pemanfaatan Media Sosial pada Kalangan Remaja
Beberapa dampak positif penggunaan teknologi khususnya bagi kalangan remaja yaitu pertama, kemudahan akses terhadap ilmu keagamaan, di mana remaja dapat dengan cepat menemukan ceramah, artikel, atau video inspiratif yang memperkaya pemahaman mereka tentang nilai-nilai spiritual (Faizah & Maftuhah, 2024).
Selain itu beragam aplikasi juga tersedia untuk mendukung konsistensi ibadah, seperti pengingat waktu salat, Al-Qur’an digital, dan aplikasi dzikir, yang membantu remaja menjaga kedisiplinan spiritual dalam keseharian.
Lalu kedua, media sosial memberi ruang bagi remaja untuk mengekspresikan nilai-nilai keimanan melalui konten dakwah, motivasi islami, atau ajakan berbuat kebaikan.
Ini tidak hanya memperkuat nilai spiritual pribadi, tetapi juga memberi dampak positif bagi orang lain.
Ketiga, teknologi juga dapat menjadi sarana refleksi diri, karena banyak konten digital yang bersifat menyentuh dan menyadarkan remaja akan pentingnya kehidupan yang bermakna.
Misalnya, pada awalnya remaja itu mungkin gampang terpengaruh dan terprovokasi dengan keadaan serta mudah menyalahkan sesuatu. Namun, setelah memanfaatkan teknologi dengan melihat kajian-kaijan atau video dakwah, maka dapat menjadikan pribadi yang lebih baik dan moderat.
Menariknya, ternyata para remaja kini tidak hanya sekadar menjadi penonton, bahkan banyak dari mereka yang aktif membuat konten positif: menyebarkan dakwah, hingga membuat konten motivasi islami.
Mereka menjadikan teknologi bukan sebagai pelarian, tapi sebagai sarana untuk menebar nilai-nilai kebaikan.
Keempat, dengan adanya teknologi maka terbentuknya komunitas keagamaan daring memungkinkan remaja untuk tetap terhubung dan belajar dalam lingkungan spiritual yang positif, meski tidak berada di tempat yang sama.
Bahkan, teknologi dapat memperluas wawasan remaja tentang nilai-nilai spiritual dari berbagai budaya dan agama, membentuk sikap toleransi dan rasa hormat terhadap keberagaman.
Dengan arahan yang tepat, teknologi juga dapat menjadi alat untuk mengalihkan perhatian dari konten negatif menuju konten yang lebih bermakna dan membangun karakter.
Semua ini membuktikan bahwa teknologi bukanlah ancaman bagi spiritualitas. Melainkan potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk memperdalam nilai keimanan dan memperkuat hubungan remaja dengan Tuhan.
Dengan kemauan dan kontrol diri, teknologi justru dapat menjadi sarana untuk meningkatkan spiritualitas. Misalnya mengakses layanan terhadap kajian keagamaan secara daring, Al-Qur’an digital, sampai berbagi pesan atau kegiatan positif yang ada di media sosial.
Artinya, keberadaan teknologi tidak selalu menjadi penghalang bagi peningkatan spiritual. Karena sejatinya spiritualitas tidak harus selalu bersifat sunyi dan individual. Dalam era digital, ekspresi religius bisa dilakukan secara terbuka dan kreatif (Faesol, 2022).
Dan pada akhirnya, dampak teknologi terhadap spiritualitas remaja sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya dan bagaimana cara menggunakannya. Teknologi bukanlah musuh bagi penggunanya, melainkan alat bantu yang netral.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


