impact circle 80 aiesec untan pemuda pontianak berdaya wujudkan masa depan pendidikan - News | Good News From Indonesia 2025

Impact Circle 8.0 AIESEC Untan: Pemuda Pontianak Berdaya, Wujudkan Masa Depan Pendidikan

Impact Circle 8.0 AIESEC Untan: Pemuda Pontianak Berdaya, Wujudkan Masa Depan Pendidikan
images info

Impact Circle 8.0 AIESEC Untan: Pemuda Pontianak Berdaya, Wujudkan Masa Depan Pendidikan


AIESEC in Untan kembali menegaskan komitmennya terhadap pengembangan kepemimpinan dan kualitas pendidikan di Indonesia melalui penyelenggaraan Impact Circle 8.0. Acara ini digelar di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, 1 Juni 2025.

Dengan mengusung tema “Invest in YOURself: Grip Global Limitless Future”, event tersebut berhasil menghadirkan ratusan peserta muda dari berbagai latar belakang pendidikan.

Mereka bersama-sama mengeksplorasi isu pendidikan, peran kepemimpinan pemuda, dan pentingnya pemahaman lintas budaya dalam menghadapi masa depan yang semakin kompleks.

Rangkaian sambutan dari pihak-pihak yang terlibat pun memperkuat konteks dan arah dari Impact Circle 8.0.

“Kami sangat bersyukur Impact Circle akhirnya dapat kembali diselenggarakan setelah dua tahun vakum. Tantangan pendidikan hari ini tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga menuntut anak muda untuk mampu merespons perubahan zaman, merancang masa depan mereka, dan memanfaatkan peluang global yang tersedia,ujar Arrini Gloria Situmorang selaku ketua panitia.

baca juga

Sementara itu, Maria Olga Bapage selaku Local Committee President AIESEC in Untan menegaskan, “Impact Circle adalah bentuk nyata kontribusi AIESEC terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas.”.

Demiro Ragil Syah, Board of Advisor AIESEC in Untan sekaligus pembicara utama, turut menyampaikan pandangannya secara kritis terhadapsistem pendidikan Indonesia. Ia mengingatkan bahwa perubahan dalam sistem bukanlah hal yang harus ditolak mentah-mentah, tetapi justru perlu direspon secara aktif dan konstruktif oleh anak muda sebagai bagian dari oposisi positif.

Ia menyoroti bahwa selama ini banyak anak muda yang justru bersikap pasif atau sinis terhadap kebijakan pemerintah tanpa benar-benar memahami konteks dan peluang yang ada di baliknya.

Memasuki sesi utama pertama bertajuk “The ROI of Learning: Impact the Future”, peserta dibekali pemahaman mendalam oleh Wisnu Arsa Tanjung, seorang pendidik muda yang telah mengajar di berbagai sekolah.

Arsa membahas filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan bagaimana Kurikulum Merdeka serta Merdeka Mengajar memberi ruang pada diferensiasi dan pembelajaran yang lebih bermakna.

Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya sebatas penguasaan akademik, tetapi juga soal bagaimana siswa dilatih berpikir kritis, mandiri, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Arsa juga membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan negara-negara seperti Swiss dan Tiongkok. Ini membuka cakrawala peserta mengenai pentingnya sistem yang lebih inklusif dan relevan.

baca juga

Sesi berikutnya membawa peserta masuk ke refleksi yang lebih dalam melalui “Global Grip Challenge: Own the Future”, di mana peserta diminta menyusun Impact Blueprint.

Di sini mereka merumuskan rencana aksi pribadi, dari mulai identifikasi tantangan, penyusunan langkah konkret, hingga refleksi tujuan dan dampaknya bagi lingkungan sekitar.

Di penghujung sesi ini, beberapa peserta terpilih tampil membagikan rencana aksi mereka secara langsung dalam forum public speaking.

Salah satunya Shaffa, yang dengan penuh semangat menyuarakan pentingnya pendidikan tinggi bagi perempuan di desa dan mengkritisi norma yang mengekang perempuan hanya sebatas peran domestik.

Sesi ini kemudian disambung oleh pemaparan inspiratif dari Andri Septian Cahyadi, seorang partisipan program Global Volunteer AIESEC 2019 yang membagikan pengalamannya menjadi relawan di Tiongkok.

Ia bekerja bersama anak-anak berkebutuhan khusus dalam proyek pertanian organik di pegunungan, dan menemukan bahwa ruang belajar tidak hanya berada di kelas, tetapi juga di tengah masyarakat.

Andri menunjukkan bagaimana pendidikan bisa menjadi alat transformasi sosial ketika dikombinasikan dengan kepedulian, kesetaraan, dan tindakan nyata.

Sesi selanjutnya yang tak kalah menggugah adalah “Knowledge to Cross-Cultural Understanding” yang dibawakan kembali oleh Demiro Ragil Syah. Dengan pengalaman panjangnya memimpin AIESEC hingga tingkat nasional dan internasional, Demiro berbagi kisah perjuangannya dari seorang mahasiswa dari daerah rural hingga menjadi Presiden AIESEC di Korea.

baca juga

Ia menekankan bahwa memahami budaya lain adalah kunci untuk membangun kolaborasi lintas batas, dan bahwa setiap pemuda harus berani bermimpi besar dan membayar harga untuk mencapainya.

Demiro menutup sesi dengan mengajak seluruh peserta menulis surat kepada diri sendiri di masa depan melalui platform FutureMe sebagai bentuk afirmasi diri dan perencanaan jangka panjang.

AIESEC in Untan melalui Impact Circle 8.0 telah membuktikan bahwa investasi terbaik bagi masa depan bangsa dimulai dari diri sendiri, melalui pendidikan, keberanian mengambil peran, dan kemauan untuk terus belajar serta berjejaring di tengah dunia yang semakin terkoneksi.

Acara ini menjadi titik awal bagi banyak pemuda Pontianak untuk tidak hanya bermimpi, tetapi juga berkontribusi nyata bagi perubahan.

 

Penulis: Chintya Joan Riby Cantika Dewi

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.