Sebelum namanya terukir dalam sejarah sebagai salah satu “Bapak Pendiri ASEAN”, Adam Malik telah lebih dulu akrab dengan dunia jurnalistik. Latar belakangnya sebagai seorang jurnalis, sebuah fakta unik yang seringkali terlewatkan, memegang peranan penting dalam membentuk sosoknya.
Artikel ini bertujuan untuk menelusuri jejak karier jurnalistik Adam Malik. Mengajak Kawan GNFI menyingkap bagaimana pengalaman tersebut telah berkontribusi pada perjalanannya menjadi negarawan, hingga akhirnya menjadi salah satu tokoh kunci di balik lahirnya ASEAN (Association of Southeast Asian Nations), yang kini eksistensinya semakin relevan dalam menghadapi kompleksitas geopolitik dunia.
Jejak Jurnalistik Adam Malik
Dunia jurnalistik telah memikat perhatian Adam Malik sejak ia menginjakkan kaki di Jakarta pada usia muda. Pada tahun 1934, di usia 17 tahun, kepindahannya dari Sumatra Utara ke ibu kota membuka cakrawala baru baginya.
Dalam buku Seri Pengenalan Tokoh: Sekitar Proklamasi Kemerdekaan, Riris mencatat bagaimana Adam Malik dengan antusias mengikuti jalannya persidangan tokoh-tokoh politik. Pengalaman ini menjadi lumbung inspirasi, di mana ia tidak hanya menyimak perdebatan, tetapi juga menyerap pelajaran berharga dari para pemimpin bangsa.
Bisa dikatakan, dari sinilah, minatnya dalam menyebarkan informasi dan gagasan mulai tumbuh dan berkembang.
Kiprah Adam Malik di dunia jurnalistik mulai terukir saat ia menunjukkan produktivitasnya sebagai seorang jurnalis dengan menulis di majalah Partindo dan koran Pelita Andalas. Sebenarnya, semasa tinggal di Pematang Siantar, Adam Malik telah aktif menulis untuk harian Adinegoro Pewarta Deli serta mengisi pojok Mixed Pickles, sebagaimana disebutkan dalam majalah Mimbar Departemen Dalam Negeri terbitan 1 April 1971.
Puncak kontribusinya adalah ketika ia bersama Soemanang, A.M. Sipahoetar, dan Pandoe Kartawigoena mendirikan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara pada 13 Desember 1937.
Dunia jurnalistik pada masa sebelum kemerdekaan, meski masih terbatas dalam perkembangannya seperti yang diungkapkan dalam buku Jurnalisme Modern karya Saidulkarnain, menjadi wadah yang signifikan dalam membentuk pandangan dan pemikiran Adam Malik.
Sebagaimana dicatat dalam buku Terlahir Sebagai Jurnalis Antara karya Azhari, Antara yang lahir dari semangat perjuangan kemerdekaan, memainkan peran krusial dalam menyebarluaskan berita proklamasi ke seluruh pelosok negeri.
Hal ini menunjukkan jiwa kepemimpinan dan pemahaman Adam Malik yang mendalam tentang pentingnya jurnalisme dalam perjuangan dan pembangunan bangsa.
Panggung Dunia sebagai Kelanjutan Ruang Redaksi
Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, kiprah Adam Malik di kancah nasional dan internasional mengalami perkembangan pesat, membawanya menduduki berbagai posisi strategis. Reputasinya sebagai negarawan dan diplomat ulung, seperti yang digambarkan dalam buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia karya Floriberta, menempatkannya sebagai "tukang debat" yang andal di berbagai forum perundingan.
Kelincahannya dalam berdiplomasi bahkan memberikannya julukan "Si Bung" dan "Si Kancil," tercermin dalam keberhasilannya melakukan perundingan rahasia dengan delegasi Belanda pada tahun 1962 di Virginia, Amerika Serikat, yang menghasilkan penyerahan Irian Barat kepada Indonesia.
Salah satu tonggak penting dalam karier diplomatiknya adalah ketika Adam Malik menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode 1966-1977. Pada masa ini, kontribusinya dalam membangun kembali citra Indonesia di mata dunia sangat signifikan.
Kemampuannya berdiplomasi diyakini erat kaitannya dengan latar belakangnya sebagai seorang jurnalis sejak dekade 1930-an. Pengalamannya di dunia pers menjadikannya sosok yang unik dan efektif dalam membangun hubungan politik luar negeri yang semakin erat dengan negara-negara tetangga.
Puncak dari upaya ini adalah pembentukan ASEAN pada tanggal 8 Agustus 1967, di mana ia memegang peranan penting.
Reputasinya di dunia diplomasi terus menanjak, mengantarkannya menjadi Ketua Majelis Umum PBB ke-26 di New York. Meskipun latar belakang pendidikannya formalnya terbatas, semangat otodidak dan keluasan pengalamannya membuktikan bahwa ia adalah seorang tokoh yang patut disegani di tingkat nasional maupun internasional.
Puncak pengakuan atas dedikasinya adalah ketika ia menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang ketiga (1977-1982) dan kemudian ditetapkan sebagai salah seorang pahlawan nasional Indonesia pada tanggal 6 November 1998.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


