Karapan sapi merupakan perlombaan yang telah menjadi tradisi masyarakat di Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang dikendalikan oleh joki dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.
Para pemilik sapi mempunyai harapan tinggi agar bisa memenangkan perlombaan ini. Selain memenangkan hadiah, status sebagai pemenang pun akan dihargai cukup tinggi.
Karena itu, sejak dini para sapi akan dilatih oleh para pemiliknya. Latihan untuk para sapi ini biasanya dimulai sejak usia delapan bulan.
Dosen STAIN Pamekasan, Mohammad Kosim dalam Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura (Perspektif Historis-Normatif) mengungkapkan melatih sapi secara rutin dimaksudkan agar sapi terbiasa berlari dan kenal medan lapangan pertandingan. Di samping itu, agar pasangan sapi kompak dan serasi berlari di tengah lapangan.
“Kekompakan sepasang sapi sangat penting agar bisa berlari serempak dan kencang,” paparnya.
Peran joki
Kosim menjelaskan untuk membuat sapi kompak dan serasi bukan pekerjaan mudah, mengingat setiap sapi memiliki karakter berbeda. Karena itu jelasnya, pelatih di samping harus ahli juga harus sabar dan sayang kepada sapi.
Peran joki, lanjutnya sangat penting saat pelatihan sapi ini. Hal dimaksudkan agar joki dan sapê kerrap memiliki ikatan emosional yang erat.
“Bahkan untuk membangun ikatan tersebut, sang joki tak jarang tidur di kandang sapi, terutama 40 hari menjelang kerapan sapi digelar,” jelasnya.
Ilmu magic hingga buat sapi marah
Ditulis olehnya, pemilik sapi tidak cukup hanya dengan persiapan-persiapan rasional di atas. Pendekatan magic-pun dilakukan.
“Mereka perlu “berdo’a” kepada Yang Maha Kuasa dan mendatangi “orang pintar” atau dukun untuk mendapatkan jampi-jampi demi kemenangan sapi miliknya,” ucapnya,
Selain upaya magic, kata Kosim, usaha lain yang biasa dilakukan, terutama pada saat kerapan akan dimulai, adalah membuat sapi marah agar bisa berlari kencang. Upaya ini dilakukan dengan cara menyiksa pasangan sapi yang akan bertanding.
Cara-cara yang biasa dilakukan adalah; mengolesi seluruh badan sapi dengan lombok, matanya diolesi rheumason, pantatnya dilukai dengan paku, dan di atas luka tersebut dilumuri dengan cabe dan rheumason.
“Semua itu dilakukan agar sapi bisa berlari sekencang-kencangnya
dalam rangka memenangkan pertandingan,” jelasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


