fakta unik pura shanta citta bhuwana pura hindu bali pertama di belanda - News | Good News From Indonesia 2025

Fakta Unik Pura Shanta Citta Bhuwana, Pura Hindu Bali Pertama di Belanda

Fakta Unik Pura Shanta Citta Bhuwana, Pura Hindu Bali Pertama di Belanda
images info

Fakta Unik Pura Shanta Citta Bhuwana, Pura Hindu Bali Pertama di Belanda


Umat Hindu Bali di Belanda rasanya dapat bernapas dengan lega. Pura Hindu Bali pertama di Belanda, Pura Shanta Citta Bhuwana, hadir di tengah komunitas mereka di Negeri Kincir Angin tersebut.

Berlokasi di Kota Kellenkote, Belanda, Pura Shanta Citta Bhuwana dibangun hanya dalam waktu sembilan hari saja. Pura ini menempati lahan seluas 36 meter persegi.

Melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kerajaan Belanda, dijelaskan bahwa Pura Shanta Citta Bhuwana dibangun atas keinginan kuat para diaspora Bali di Belanda yang sudah lama mendambakan tempat peribadatan dan memenuhi kebutuhan spiritual mereka.

Selain itu, pura ini dibangun sepenuhnya oleh komunitas masyarakat Bali di Belanda secara gotong royong. Dengan adanya Pura Shanta Citta Bhuwana, komunitas Hindu sudah dapat melaksanakan ibadah dan merayakan hari besar keagamaan di sana.

Hadirnya pura di tengah komunitas Hindu Bali di Belanda ini tentu menjadi hal baik. Bagaimana tidak, sebelumnya mereka diharuskan menyewa gedung dan berpindah-pindah tempat, hingga ke pura di Belgia.

Fakta Unik Pura Shanta Citta Bhuwana

Pura Hindu Bali pertama di Belanda akhirnya diresmikan melalui upacara adat Bali, tepat saat perayaan Kuningan.
info gambar

Sesajen di Pura Hindu Bali pertama di Belanda, Pura Shanta Citta Bhuwana | purabelanda.nl


 

Nama Shanta Citta Bhuwana memiliki makna dan filosofi yang mendalam. Shanta berarti damai, tenang, dan tentram. Citta sendiri mengacu pada pikiran, niat, dan kesadaran.

Sementara itu, Bhuwana adalah alam semesta atau dunia tempat manusia tinggal. Singkatnya, Shanta Citta Bhuwana dimaknai sebagai tempat untuk mencari ketenangan dan kedamaian pikiran.

Pura ini memiliki dua kuil utama, yakni Padmasana dan Pangrurah. Padmasana adalah tempat pemujaan bagi alam semesta, sedangkan Pangrurah melambangkan perlindungan dan keseimbangan spiritual di sekelilingnya.

Upacara Pemelaspasan Agung dan Ngenteg Linggih dilakukan bertepatan dengan Hari Suci Kuningan pada 3 Mei 2025. Menariknya, peresmian ini juga dihadiri oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.

baca juga

Tidak hanya itu, sebelum acara peresmiannya, terdapat rangkaian perayaan budaya Indonesia, seperti pertunjukan tradisional, pameran lokakarya, games, program amal, pameran, pemutaran film dokumenter, dan bazar sejak 27 April 2025 hingga 4 Mei 2025 lalu di Dierenpark Taman Indonesia, Kallenkote, Belanda.

Sebagai informasi, Pura Shanta Citta Bhuwana sebenarnya sudah diresmikan oleh KBRI Den Haag pada 30 November 2024 silam. Namun, upacara peresmian atau melaspasnya baru dilaksanakan pada 3 Mei 2025.

Hal unik lainnya adalah desainnya dirancang oleh tim arsitek lokal asal Bali. Tidak hanya itu, salah satu komponen puranya, yakni batu hitam, dibawa dari Karangasem.

Meskipun berada nun jauh dari kampung halaman, tetapi nuansa khas Bali yang kental tetap dirasakan sepenuhnya oleh komunitas Hindu. Segala bentuk dan ornamennya pun sama seperti di Pulau Dewata.

Dibuka untuk Umum

Jumlah umat Hindu Bali di Belanda tidaklah banyak. KBRI mencatatkan setidaknya terdapat sekitar 250 penganut Hindu. Mayoritasnya merupakan pemeluk Hindu asal Bali, dan beberapa di antaranya merupakan warga campuran Bali-Belanda.

Pura Shanta Citta Bhuwana terbuka untuk umum, baik untuk berkunjung maupun sembahyang. Namun, terdapat beberapa aturan yang wajib dipatuhi oleh para pengunjung.

Menukil dari akun Instagram resmi @indonesiainthehague, pengunjung wajib menghormati kesucian pura, patung-patung suci, dan simbol keagamaan lainnya. Segala bentuk adat, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal khas Bali, utamanya selama prosesi ritual keagamaan, juga wajib dihormati.

Pengunjung juga diminta untuk berpakaian dengan baik dan sopan. Masyarakat Hindu Bali pun juga diimbau untuk mengenakan pakaian adat, selayaknya saat beribadah di Bali.

Di sisi lain, larangan-larangan yang dibuat pun sama seperti di Bali, misalnya larangan wanita yang sedang menstruasi untuk masuk ke wilayah suci pura dan larangan untuk mengambil sesajen di pura.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.