Depok, 22 Februari 2025, Trash Ranger Indonesia bersama Sekolah Sampah Indonesia (SEMAI), DLHK Kota Depok, dan LAZ Zakar Sukses mengadakan kegiatan edukasi dan pemilahan sampah di TPS Perumahan Pondok Sukmajaya.
Acara ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 21 Februari lalu. Adapun event tersebut juga dihadiri oleh 6 komunitas lingkungan peduli sampah seperti Nera Green, Earth Hour Depok, Eco Shift, Bank Sampah RW 01 Bedahan, Z+, dan Angkut Sampah.
Dua puluh tahun berlalu sejak tragedi TPA Leuwigajah yang menewaskan 157 orang pada 21 Februari 2005. Sejak saat itu, tanggal 21 Februari diresmikan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Namun, peringatan ini bukanlah untuk dirayakan, melainkan momentum berduka dan refleksi akan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
"Slogan 'buanglah sampah pada tempatnya' sudah tidak relevan lagi," tegas Mujahid Abdurrahim, CEO Sekolah Sampah Indonesia (SEMAI). Pernyataan ini menjadi titik balik paradigma tentang pengelolaan sampah yang selama ini dipegang oleh masyarakat.
Pemuda yang akrab disapa ‘Kak Emje’ ini menjelaskan, "Tragedi Leuwigajah terjadi bukan karena masyarakat membuang sampah sembarangan, tetapi karena sampah yang dibuang 'pada tempatnya' tetap berakhir di TPA tanpa pengelolaan yang tepat," ucapnya.
Menurutnya, sampah yang menumpuk di TPA tanpa pemilahan dan pengolahan yang sesuai akan menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan memperburuk krisis iklim" jelas Kak Emje.
Berangkat dari keresahan inilah,, Sekolah Sampah Indonesia yang akrab disapa “SEMAI” menginisiasi inovasi aksi bertajuk "Cleanup & Rescue" yang melibatkan lebih dari 80 anak muda.
Aksi ini bukan sekadar aksi bersih-bersih sampah, melainkan upaya "menyelamatkan" sampah agar dapat diolah dan bermanfaat kembali.
Pendekatan "PILAH-DATA-OLAH" menjadi kunci utama gerakan yang berkolaborasi dengan LAZ Zakat Sukses, komunitas Trash Ranger Indonesia, NeraGreen, Ecoshift, Earth Hour Depok, Z+, Angkut Sampah, Bank Sampah RW1 Bedahan, DLHK Kota Depok, dan segenap masyarakat di Kelurahan Sukmajaya.
Suwardi, Kepala Seksi Pengangkutan Bidang Kebersihan DLHK Kota Depok, dalam sambutannya menekankan, "Kondisi TPA Cipayung sudah semakin mengkhawatirkan.”
Dukungan serupa juga disampaikan oleh Teguh, Sekretaris Kelurahan Sukmajaya, yang sangat mengapresiasi aksi yang dilaksanakan tepat di sebelah Kantor Kelurahannya.
Ketua RW 03 Perumahan Pondok Sukmajaya, Totok Tugas Utomo, mengajak generasi muda untuk berada di garda terdepan menyelesaikan masalah sampah. "Karena generasi mudalah yang masih berpikiran terbuka, melihat masalah lingkungan lebih jauh, dan mau berbuat untuk mengubahnya," sebutnya.
Sementara itu, Dimas Dwi Pangestu, Founder Trash Ranger Indonesia, menyampaikan slogan yang menggugah, "Mari bergerak, ayo berdampak!"
Dimas mengajak seluruh anak muda untuk mengambil peran tanpa menunggu "menjadi sesuatu" terlebih dahulu. "Justru dengan bergerak, kita akan menjadi anak muda yang bermanfaat untuk sekitar kita," tambahnya.
Data yang Bicara, Sulitnya Memilah Sampah Jika Sudah Tercampur
Dalam kurun waktu satu jam (pukul 09:20 s.d. 10:20), 51 relawan dan masyarakat berhasil memilah 447,76 kg sampah, atau rata-rata 8,78 kg sampah per orang per jam. "Jumlah ini sangat tidak sebanding dengan volume sampah yang kita hasilkan setiap hari," jelas Mujahid.
"Sudah semestinya sampah itu dipilah dari rumah karena jika sudah tercampur, akan memakan lebih banyak waktu dan tenaga untuk memilahnya kembali." tambahnya.
Dari sampah yang berhasil terpilah, 35,7% merupakan sampah organik (159,85 kg) dan 43,5% adalah sampah residu (194,715 kg). Sisanya berupa tekstil, plastik, beling, dan jenis sampah lain dengan proporsi total kurang dari 25%.
Data ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik harus menjadi prioritas utama, sementara tingginya volume sampah residu disebabkan oleh banyaknya sampah bernilai jual rendah yang kotor akibat tercampur dengan sampah organik.
"Data komposisi sampah ini harus menjadi perhatian para pihak berwenang untuk menindaklanjuti pengelolaan sampah di TPS ini," kata Nurhadi Muhlisi, Manajer Pengolahan Sampah SEMAI.
"Prioritasnya adalah mendorong pemilahan sampah dari rumah masing-masing dan pengolahan sampah organik," imbuhnya.
Menyelamatkan Sampah, Lebih Mudah dari Rumah
Hasil nyata dari aksi ini adalah 159,85 kg sampah organik yang sudah terpilah disalurkan ke Maggoz Farm (unit pertanian terpadu milik Sekolah Sampah Indonesia) untuk diolah menggunakan maggot menjadi pakan ternak bernilai protein tinggi dan pupuk untuk pertanian.
Sementara sampah anorganik seperti plastik keras, tetra pak, dan logam disalurkan kepada petugas kebersihan sebagai tambahan penghasilan untuk mereka.
"Kami tidak akan berhenti di sini," tegas Mujahid, "Kami akan terus melakukan aksi serupa untuk menanamkan kesadaran kepada seluruh masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah dari rumah dan mengumpulkan data komposisi sampah sebagai dasar rujukan pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi."
Aksi ditutup dengan penandatanganan komitmen "Cukup hari ini saja TPS ini dipilah. Janji mulai pilah sampah dari rumah."
Ini menjadi simbol bahwa semua peserta yang telah merasakan betapa melelahkannya memilah sampah di TPS berkomitmen untuk mulai memilah sampah dari rumah masing-masing.
Tragedi Leuwigajah telah menunjukkan pada kita bahaya nyata dari pengelolaan sampah yang tidak berkelanjutan. Jangan biarkan pengorbanan 157 nyawa hilang sia-sia.
Mari, jadikan HPSN sebagai momentum Kawan untuk berubah! Dimulai dari hal sederhana, yaitu memilah sampah di rumah sendiri. Ingatlah, setiap tindakan kecil yang Kawan lakukan hari ini, seperti memisahkan sampah organik dan anorganik, bisa mencegah bencana besar di masa depan.
Sampah adalah tanggung jawab bersama dan langkah pertama menuju Indonesia bebas
sampah dimulai dari diri Kawan sendiri. Wajibkan kegiatan Kawan untuk pilah sampah dari rumah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


